Tarot

Tadi siang saya menghadiri undangan ngobrol di salah satu rumah makan santai di daerah Dago bersama kedua teman saya: Tiwi dan Tegar. Mereka adalah teman kuliah saya yang sudah lama tidak bertemu. Jika kami bertemu pun, seringkali diisi dengan obrolan-obrolan psikologis, filsafati, nabati, dan hewani.

Ah, bercanda.

Sambil makan siang (saya memesan makanan dan minuman yang enak, serta cemilannya pun enak - tempat ini saya rekomendasikan), kami mengobrol hal-hal keseharian seperti pekerjaan, keinginan untuk sekolah lagi, konstruk kecantikan yang berangkat dari diskusi drama Korea yang digemari Tiwi, juga draft novel yang sedang ditulis Tegar.

Pada saat itu hujan, kami memesan makanan lagi. Setelah selesai dan berbasa-basi menunggu hujan berhenti, Tegar mengeluarkan sesuatu dari tas batiknya. "Saya sudah lama tidak main ini." Ia mengeluarkan cincin dikaitkan dalam sebuah untaian benang sehingga bentuknya seperti gantungan cincin. Maka dipegangnya benang itu sehingga cincinnya terjuntai di bawah. Ketika ia bilang 'kiri dan kanan', maka cincin itu bergerak ke kiri dan kanan. Ketika ia bilang 'depan dan belakang', maka cincin itu bergerak ke depan dan belakang. Ketika ia bilang 'searah jarum jam', maka cincin itu pun bergerak searah jarum jam. Cincin yang pintar. Untung tidak diminta menggonggong.

Kedua teman saya: Tiwi dan Tegar

Setelah itu, Tegar mengeluarkan kartu-kartu bergambar yang dikenal dengan kartu tarot. Tiwi mengocok kartunya kemudian mengambil 3 buah kartu untuk dibuka oleh Tegar. "General life?" tanya saya. "Iya," ujar Tegar.

Seusai Tegar mengucapkan apa yang ia lihat dari kartunya teman saya, Tiwi mendorong saya untuk mengocok kartu. "Tidak usah dipaksa kalau tidak siap," ujar Tegar. Memang saya tidak buru-buru mengiyakan, namun saya ingin tahu juga.

Saya dan Tegar

Saya bilang ke Tegar kalau saya mau mengkhususkan ini pada satu aspek dalam kehidupan saya, bukan secara umum. Saya bilang saya tidak akan memberitahukan apa yang saya maksud. Maka keluarlah kartu-kartu tersebut dan saya meminta Tegar untuk menebaknya.

Saya pikir ini tidak akan mudah karena saya 'kan tidak memberitahukannya.

Tegar pun tidak langsung menjawab, ia melihat kartu-kartu saya. Ketika ia mau menjawab, saya deg-degan sekali karena antusias mau mendengar jawabannya. Maka ia menjawab, "Ini tentang perasaan ya, Ni?" Saya cuman bisa nyengir.

Maaf pembaca, isinya tidak bisa saya sebutkan disini, tapi apa yang dikatakan Tegar tentang kartu-kartu yang ditunjukkan itu tepat sasaran padahal saya belum pernah bercerita tentang apapun kepadanya soal hal tersebut. Maka saya bertanya, "Kok bisa? Dari sekian banyak kartu, lalu mengapa harus kartu itu yang keluar?"

Tarot dalam hal ini adalah hubungannya dengan psikologi. Energi psikis mengalir melalui kartu begitu si manusia memikirkan sesuatu - begitu singkatnya teori yang dikemukakan C. G. Jung. "Kartu ini ibarat kumparan. Kamu sumber listriknya, sementara saya hanya kena setrum begitu saya memegangnya," ujar Tegar.

"Jung juga berbicara mengenai konsep synchronicity - tidak ada kejadian apapun yang tidak berarti, bahkan yang paling ‘tidak sengaja’ sekalipun. Dalam membaca Tarot, seseorang harus memilih kartu-kartu yang akan ia interpretasikan sesuai dengan kebutuhan dan spread (formasi membaca kartu) yang ia inginkan. Ketika seseorang memilih kartu, bagaimana pun juga alam bawah sadarnya bermain, ada synchronicity! Sehingga kartu-kartu yang terpilih merupakan kartu-kartu yang paling menggambarkan dirinya, masa lalunya, atau bahkan masa depannya."

Di dalam artikel di atas ada diskusi panjang lebar tentang pro dan kontra tentang kartu tarot ini. Namun, sepertinya, ketimbang mengurusi pro dan kontra, bermain-main untuk membuka cakrawala itu tidak ada salahnya. Dunia tidak melulu tentang hal-hal yang dilihat oleh indera, bukan?

Dari diskusi di siang hari itu, saya, Tegar, dan Tiwi mencapai sebuah kesimpulan manis yang saya pikir ada benarnya. Terima kasih untuk pertemuan dan makan siangnya, saya jadi memiliki ide untuk menulis.

[Kalau mau ngobrol dengan Tegar, boleh menghubungi emailnya: temaulana@gmail.com]

Comments

Anonymous said…
Itu...foto yg plg atas,mbak2nya serius banget....bnyak masalah kayaknya tu orang....hahaha

-bolehbaca-
Syarif Maulana said…
Jung betul-betul bijak dan berbau sufistik hehe. Tapi tidakkah kadang-kadang penjelasan mistik lebih terasa "masuk akal" dibanding logika Jungian yang juga terkesan mistik? hehe
vendy said…
sebuah pertanyaan singkat: sempet diramal kedua kali? kalo iya, hasilnya sama? =P
Nia Janiar said…
@bolehbaca: hahaha, iya yaa.

@syarif: Contohnya apa penjelasan mistik yang lbh masuk akal, Rif?

@vendy: berdasarkan testimoni orang lain ada kartu yang muncul lagi. Emg kenapa, Ven?
kang_te said…
huwahahahaha...

nia... ane hadir. ckckck.
baru liat fotonya...
kemaren belum sempat kebuka :P

@Vendy, kalau klien datang lagi di sesi berikutnya atau pada sesi yang sama klien dipersilakan melakukan kocokan kedua, sering kali ada kartu yang sama meski posisinya berbeda...
Nia Janiar said…
@tegar: aku apus foto kartunya, Tgr. Soalnya.. ntar terjadi hal2 yang diinginkan lagi (apaaa lagi). Hehe.
kang_te said…
ahahaha... baiklah..
itu hak mu, nia.. :)
mbak dan said…
halo nia..aku berkunjung yaaa...sekalian minta ijin blognya aku masukkan di blogrollku :) terima kasih..
Nia Janiar said…
Haai, Mbak Danti.. aku tambahin juga yaa :)

Popular Posts