Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2010

Manusia Pekerja

"Kalau terlalu banyak yang dikerjakan, mandi pun menjadi siksaan, kenapa harus mencuci diri padahal tidak ada yang harus dibersihkan, karena kerja adalah awal dari rasa nikmat katamu sekali lagi sehingga aku menjadi malu dan melihat semua kerja adalah ibadah" - (Putu Wijaya: Uap, 1999)

Satu tahun sudah saya bekerja secara legal. Artinya, saya terikat secara hukum dengan sebuah perusahaan dengan pendapatan yang berkala. Ini adalah laboratorium raksasa dimana saya sedang menguji coba diri saya melewati hal-hal baru di dunia orang dewasa. Di sini, saya tidak tahan untuk bersikap naif dan sering mengeluh kepada orang tua tentang betapa enaknya jika kembali ke masa kanak-kanak atau masa kuliahan. Pada saat itu tugas saya hanya belajar, bukan mengerjakan sesuatu kemudian mempertanggungjawabkannya. Pada saat itu tanggung jawab saya hanya pada orang tua, bukan pada orang lain yang tidak saya kenal.

Saya merasa diri ini ditarik paksa untuk masuk dimensi orang-orang yang terlalu serius …

Setengah Perempuan, Seluruhnya Laki-laki

Pernahkah kamu menonton show anaknya Uya Kuya? Disana ada seorang pria yang diberi nama Ciripa (nama anjing dalam telenovela Carita De Angel) yang sering dipakaikan baju perempuan dan bertingkah keperempuanan. Orang itu seringkali jadi bahan ejekan atau bulan-bulanan bintang tamu dan pembawa acaranya sendiri. Ironinya adalah si pembawa acaranya masih kecil - mungkin usia awal SD - namun sering kali nge-bully si Ciripa.

Pernahkah kamu memiliki teman laki-laki yang tingkahnya feminim? Saat SMP, saya punya teman seperti itu. Ia seringkali jadi bulan-bulanan anak laki-laki dan lebih sering berteman dengan perempuan. Di tempat kerja saya sekarang pun begitu. Walaupun tidak memakai atau berdandan seperti perempuan, laki-laki tidak suka padanya.

Namun begini, terkadang laki-laki yang feminim seringkali dianggap suka sesama jenis. Padahal - dari laki-laki femimin yang saya kenal - suka perempuan kok. Kalau waria atau banci, agaknya secara penampilan mereka menunjukkan identitas perempuan namun …

Setengah

Baru saya pulang dari rumah sakit, menjenguk saudara perempuan saya yang pernah saya tuliskan kisahnya di sini. Pernah ia kehilangan anaknya di usia 6 bulan karena ketubannya pecah duluan. Lalu, beberapa bulan kemudian, ia hamil lagi. Sayangnya, janin berada di luar rahim dan pecah di dalam. Maka, masuklah ia ke rumah sakit. Diambilnya oleh dokter salah satu indung telurnya.

Saya bertanya kepada suaminya tentang bagaimana kabar saudara perempuan saya. Shock secara fisik dan psikis, tentunya. Ia mengalami pendarahan yang hebat, tekanan darah turun, dan detak jantung melambat. Selain itu, matanya terus menatap ke atas sehingga hanya terlihat putihnya saja. Suster melarangnya untuk tidur, dijaga terus untuk tetap sadar. Selain itu, AB, golongan darahnya. Agak jarang memang. Ternyata dari seluruh keluarga, hanya saya yang memilikinya. Maka sempat saya diminta untuk mendonorkan darah, tapi ternyata sudah tersedia dari PMI. Saya bilang saja bahwa saya akan selalu ada dan siap diambil darahny…

Universalitas Musik

Psstt .. saya kasih bocoran. Hari Sabtu nanti, dalam kegiatan writer's circle, pesertanya akan menulis tulisan dari sebuah lagu yang disukai. Mayoritas teman-teman saya yang ada saat itu senang. Saking senangnya, mereka bingung mau memilih lagu yang mana. Ya, bisa dilihat, kalau semua orang menyukai lagu (sebagai bentuk dari musik).

Pernah dalam sebuah pelatihan yang saya ikuti, pembicara meminta kita merefleksikan isi pelatihan dengan cara membuat sebuah orkestra suara. Di sana, pembicara bertanya siapa yang tahan untuk tidak mendengarkan atau menyenandungkan musik. Saya terkejut ketika salah satu teman saya mengangkat tangan. Ia bilang ia bahkan bisa berhari-hari tidak mendengarkan atau menyenandungkan musik. Saya pikir, pasti orang ini sangat serius.

Jauh di waktu lampau, teman saya yang lain pernah berkata bahwa ia sedang detoks musik. Menurutnya, musik hanya akan membawa perasaan menjadi lebih senang atau lebih sedih. Misalnya orang yang sedang patah hati. Sebenarnya mungkin ma…

Hujan Bola

Di suatu siang, Danayu bersumpah serapah, "Tuhan sebaiknya Engkau turunkan saja hujan bola karena hujan air selalu menghambatku beraktifitas kemana-mana. Aku jadi basah!"

Maka, dengan secepat kilat, Tuhan pun menurunkan hujan bola.


Kemudian bola-bola itu berjatuhan dan bergulir di jalan, halaman, lapangan rumput, dan lainnya. Beruntung hujannya sedikit, jadi tidak terjadi banjir bola.


Danayu terkejut. Semenjak itu, ia tidak pernah bersumpah serapah.