Setengah

Baru saya pulang dari rumah sakit, menjenguk saudara perempuan saya yang pernah saya tuliskan kisahnya di sini. Pernah ia kehilangan anaknya di usia 6 bulan karena ketubannya pecah duluan. Lalu, beberapa bulan kemudian, ia hamil lagi. Sayangnya, janin berada di luar rahim dan pecah di dalam. Maka, masuklah ia ke rumah sakit. Diambilnya oleh dokter salah satu indung telurnya.

Saya bertanya kepada suaminya tentang bagaimana kabar saudara perempuan saya. Shock secara fisik dan psikis, tentunya. Ia mengalami pendarahan yang hebat, tekanan darah turun, dan detak jantung melambat. Selain itu, matanya terus menatap ke atas sehingga hanya terlihat putihnya saja. Suster melarangnya untuk tidur, dijaga terus untuk tetap sadar. Selain itu, AB, golongan darahnya. Agak jarang memang. Ternyata dari seluruh keluarga, hanya saya yang memilikinya. Maka sempat saya diminta untuk mendonorkan darah, tapi ternyata sudah tersedia dari PMI. Saya bilang saja bahwa saya akan selalu ada dan siap diambil darahnya kapanpun dia butuh.

Tadi, ia dipakaikan beragam selang seperti selang oksigen, selang infus, selang darah, dan alat untuk merekam jantung. Baru mengalami shock - kata suaminya - padahal tadi pagi ia baik-baik saja. Saya bayangkan perasaannya jika ia mengetahui bahwa salah satu indung telurnya diangkat, tak tersadar mata saya berkaca-kaca.

Ada orang yang tidak ingin punya anak, ada orang yang bisa punya anak tapi malah dibuang, dipukuli, atau diacuhkan, ada yang berjuang hingga mati untuk mendapatkannya. Tidakkah proses kelahiran ini adalah sebuah ironi dan terkadang menjadi permasalahan sendiri? Tidakkah ini sebuah berkah sekaligus hukuman?Melahirkan satu kehidupan baru terkadang harus dibayar dengan satu kematian.

Rahim. Topik yang mungkin orang lain melihat saya pandang sinis tapi sebenarnya tidak. Beberapa kejutan baru mengenai kehidupan yang saya dapati kadang membuat saya teringat akan ibu - seseorang yang saya rindu hangat rahimnya.

Semoga ia cepat sembuh.

Comments

vendy said…
pertanyaannya, seberapa jauh kita bisa melihat sesuatu? toh, semua sekarang ada solusi instantnya. kalau janin, ya aborsi. efek sampingnya? mana ada yg peduli.

*esmosi + esteler
Nia Janiar said…
Mari kita dukung Sheila Marcia sebagai duta anti aborsiiii!!

http://www.tabloidnova.com/Nova/Selebriti/Aktual/Saya-Minta-Sheila-Tak-Teledor-Lagi

Hehe.
M. Lim said…
I know how hard it is to conceive. Bikin bete kalau ada yang hamil terus bilang "kecelakaan" lalu kandungannya digugurkan.
Nia Janiar said…
Iya..
Anonymous said…
Anak, rejeki, hidup dan mati itu semua rahasia Tuhan. Banyak orang yang sangat menginginkan anak, sudah berusaha dan berdoa, namun belum juga dikarunia anak (pengelaman pribadi, hihihi...). Banyak juga yang menyia-nyiakan kandungannya, janin dalam perutnya tidak dijaga baik-baik, bahkan ada yang langsung aborsi, terus banyak juga yang menjual anaknya.. tega banget !!! Bersyukurlah para ibu yang menjaga kandungan dan anaknya dengan baik.. :)
Nia Janiar said…
Aku jadi bertanya-tanya tentang masalah ini dan hubungannya dgn pemahaman 'Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, melainkan apa yang kita butuhkan."

Pertama, memangnya yang belum/tidak punya anak itu tidak dikasih karena manusia itu tidak butuh?
Kedua, memangnya yang dikasih kemudian anak itu diaborsi/dicelakai karena manusia itu butuh? Butuh apa? Beda yang harus diangkat krn masalah kesehatan, ini kalau terjadi krn masalah seks diluar nikah dan lainnya. Butuh sebuah event dalam hidup untuk meningkatkan derajat dimataNya?
Anonymous said…
Aku sedikit mempertanyakan kalimat yang aku tulis "Anak, rejeki, hidup, dan mati itu semua rahasia Tuhan", benarkan anak itu rahasia Tuhan ??
Apakah Tuhan memberikan anak kepada semua orang ? bagaimana dengan manusia yang secara anatomi tidak "sempurna" ??
Aku setuju dengan kata-kata Nia "Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, melainkan apa yang kita butuhkan". Apa yang kita inginkan belum tentu terbaik buat kita di mata Tuhan, namun Tuhan akan memberikan yang kita butuhkan, karena yang kita butuhkan itu terbaik di mata Tuhan..
Nia Janiar said…
Tapi bener yah: we do best, but Allah do the rest.
muftisany said…
bukankah pemahaman "Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, melainkan apa yang kita butuhkan." menutup semua kemungkinan sikap "berontak" terhadap absolutisme tuhan...
semunya baik semuanya baik..
he

Popular Posts