Universalitas Musik

Psstt .. saya kasih bocoran. Hari Sabtu nanti, dalam kegiatan writer's circle, pesertanya akan menulis tulisan dari sebuah lagu yang disukai. Mayoritas teman-teman saya yang ada saat itu senang. Saking senangnya, mereka bingung mau memilih lagu yang mana. Ya, bisa dilihat, kalau semua orang menyukai lagu (sebagai bentuk dari musik).

Pernah dalam sebuah pelatihan yang saya ikuti, pembicara meminta kita merefleksikan isi pelatihan dengan cara membuat sebuah orkestra suara. Di sana, pembicara bertanya siapa yang tahan untuk tidak mendengarkan atau menyenandungkan musik. Saya terkejut ketika salah satu teman saya mengangkat tangan. Ia bilang ia bahkan bisa berhari-hari tidak mendengarkan atau menyenandungkan musik. Saya pikir, pasti orang ini sangat serius.

Jauh di waktu lampau, teman saya yang lain pernah berkata bahwa ia sedang detoks musik. Menurutnya, musik hanya akan membawa perasaan menjadi lebih senang atau lebih sedih. Misalnya orang yang sedang patah hati. Sebenarnya mungkin masalahnya biasa saja, tapi karena mendengarkan musik-musik sendu, maka ia menjadi lebih sedih dari perasaan yang seharusnya. Mendengar hal tersebut, saya kaget setengah mati. Ini pernyataan benar-benar kontroversial. Bagaimana seseorang bisa tidak (dan bahkan detoks) musik? Kalau saya perlu musik untuk bisa mengekspresikan perasaan saya. Dari contoh patah hati, saya butuh musik untuk semakin sedih dan semakin menangis. Ibaratnya musik bisa menguras sampai kering apa yang ada di hati saya.

Balik ke teman-teman di writer's circle. Semalam kami debat kusir masalah musik. Awalnya debat kusir ini diawali dari saya dan Andika yang mau nonton Efek Rumah Kaca (ERK). Teman saya, Hakmer, mengatakan bahwa ERK itu Radiohead-nya Indonesia dan ia tidak suka karena hal itu. Lalu bertambahlah label-label versi Indonesia-nya barat seperti Astrid itu Bjork-nya Indonesia, Nidji itu Coldplay-nya Indonesia, dan lainnya. Ada yang tidak setuju dengan labeling seperti itu karena membuat orang yang belum pernah ERK akan jadi benci ERK karena sudah mendengar label itu duluan. Dan lagipula, musik Indonesia itu kebarat-baratan!

Lalu yang asli itu yang bagaimana? Teman saya yang lain, Regie, berargumen kalau dangdut adalah - walau ada asimilasi budaya dengan India - musik asli Indonesia karena nada pentatonis yang mereka pakai. "Sekarang seberapa banyak orang yang suka dangdut? Orang lebih suka band-band lain ketimbang dangdut, 'kan? Jadi enggak heran kalau band-band lebih suka meniru musik barat agar bisa diterima masyarakat," ujarnya. Disana saya berargumen bahwa perlu diingat kalau industri musik (juga media) tidak hanya terbentuk karena selera masyarakat, karena jangan-jangan media sendiri yang membentuk selera masyarakat.

"Ah, itu sih sama aja kayak nyari mana ayam mana telur!"

Masalah tiru meniru itu dilihat dari sisi positif oleh Marty sebagai proses pembelajaran. Sekarang, mana ada musik yang original, karena pada dasarnya manusia - sehebat Coldplay - pun meniru. Lalu apa bedanya sama terinspirasi? Lalu ada sebuah istilah psikologi mengenai imitasi dan identifikasi. Jangan-jangan, debat kusir di atas, tidak berlandaskan pada suatu teori dan menggunakan istilah 'meniru' sekenanya. Ya, namanya juga debat kusir. Kalau pakai teori, mungkin jadinya seminar.

Konon musik itu universal. Artinya, jika kita yakin akan hal itu, maka tidak akan ada istilah ini meniru ini dan itu meniru itu. Artinya, semua orang yang beda jenis kelamin, beda latar belakang, beda status sosial, bisa menikmati musik yang sama. Artinya, jika orang itu bisa menghasilkan satu karya, nikmat musik itu mengalir dalam bentuk karya lain. Artinya ...

ketika saya dan murid piano saya yang autis, lalu dua dunia yang berbeda bisa menyatu ketika kami tertawa bersama pada saat mendengarkan nada 'pohon dan kebun basah semua' dalam lagu kanak-kanak, itulah universalitas yang saya maksud.

Blues untuk Allah 1
Agus Suwage
2001

Comments

M. Lim said…
hmm :"> nice
ngomong-ngomong nggak cuma musik yang meniru, sastra dan seni rupa juga, http://en.wikipedia.org/wiki/Appropriation

Sebelum menemukan warna sendiri, kadang-kadang masih pakai warna dasar yang populer dulu.
Nia Janiar said…
Iya yaa, betul juga..
Vendy said…
ada yang pernah bilang ke gue bahwa jiwa butuh makanan sendiri: religi dan musik.

musik itu sendiri bukan harus lewat gitar, biola, atau piano, tapi bisa melalui deburan ombak, semilir angin di tengah hutan, atau rintik gerimis di malam hari.

temen lu butuh travelling kayaknya :D
Nia Janiar said…
Menurut lo, kenapa ya jiwa memilih musik sebagai 'makanan'? Kenapa gak pengetahuan, visualisasi yang bergerak, atau yang lainnya?

Haha, bener juga. Jadi istilah detoks musik tuh gak bener juga ya, karena tanpa mendengar musik (lagu) pun, dia sudah mendengarkan musik dalam keseharian.
eeduyhaw said…
setuju...originalitas itu gak ada...cuma plagiat a.k.a fotocopy juga memang bnyk sama musisinya indonesia...tp kalo aturan sih dibwh 2 bar(atau 4 bar apa ya? masih ditolerir undang2...coldplay aja prnah tuh dituntut joe satriani... anyway salam kenal...main2 ke blognya kita dong...tukeran link jg boleh tuh...biar ruang baca blognya jd lebih luas...kumaha tuh ?
vendy said…
berbekal kalimat "Mata adalah jendela hati", well, menikmati matahari terbit dan terbenam, berteduh di bawah aurora, melihat luasnya padang salju, atau menikmati tenangnya danau di tengah hutan, kayaknya ini makanan jiwa juga :D
Nia Janiar said…
@eeduyhaw: Oh ya? 'Nyontek' berdasarkan jumlah bar tuh pengaruh ya?

Salam kenal juga!

@vendy: hehe, sip!

Popular Posts