Konstruksi Sosial

Pada saat itu, ketika keluarga sedang berkumpul, saya ditanya apakah saya sudah punya pacar atau belum. Katanya saya harus dandan dan jangan terlalu banyak memakai pakaian hitam agar saya bisa dapat pacar. Memangnya salah kalau saya suka warna hitam? Pernahkah ada penelitian korelasi antara warna hitam dan mendapatkan pasangan?


Apakah ini semata-mata fisik tanpa memperhitungkan faktor kepribadian?

Dulu, ketika saya masih bebas dari pertanyaan macam ini, saya ditanya tentang sekolah, tentang kuliah, tentang kerjaan. Ketika sudah mendapatkan ketiganya, maka datanglah pertanyaan ini. Mungkin kalau saya sudah mendapatkan, saya akan ditanya kapan kawin. Kalau sudah kawin, kapan punya anak. Kalau sudah punya anak, kapan punya adik. Kalau sudah punya adik ... ya ditanya terus sampai mati.

Hidup ini mudah. Yang harus manusia lakukan hanyalah menghirup nafas kemudian menghembusnya. Namun yang bikin sulit adalah konstruksi sosial. Seorang manusia harus punya ini dan itu. Harus nikah, harus punya pacar, harus kuliah, harus punya posisi bagus, harus berprestasi, harus memperhatikan bibit bebet dan bobot orang lain, harus pandai memilih teman, dan lainnya. Misalnya (anggap saja) saya tidak ingin punya posisi bagus di dalam pekerjaan karena saya puas dan bahagia menjalaninya, orang lain terkadang 'gemas' untuk mencampuri. Jadi sebenarnya manusia itu hidup untuk siapa? Orang lain atau dirinya?

Seperti di paragraf pertama, hal yang tidak signifikan menjadi sebuah keharusan yang dibebankan. Seolah-olah dijadikan sebuah kewajiban. Butuh keberanian untuk jadi diri sendiri itu memang benar adanya namun terlihat naif karena manusia hidup di lingkungan sosial. Beruntung jika hidup di lingkungan yang mau menerima seseorang apa adanya. Namun jika tinggal di lingkungan itu, mesti kuat untuk dikritik 'ih kamu kok begini? kok tidak seperti dia yang begitu?'

Konstruksi sosial ini terasa mengikat. Namun -- saya ulangi lagi -- kawat-kawat baja bahkan benteng-benteng beton yang kaupakai untuk mengikat dan menindas itu tak akan mengikat, karena ia kontan berubah menjadi benang-benang sutera yang lembut apabila diterima dengan penyerahan tulus**

Besok saya akan pergi ke luar kota. Akan ada kumpul keluarga besar. Saya akan memakai baju berwarna cerah.


** Saya suka sekali tulisan Putu Wijaya (Uap, 1999) ini. Bahkan saya menampilkannya sebagai quote penutup pada sebuah presentasi penutupan pelatihan.

Comments

M. Lim said…
welcome to the club, darling.

do our male counterparts have to serve or answer socially constructed questions and queries like us?
muftisany said…
semuanya kah quote nya ? atao beberapa bagian saja ?
yang mana...yang mana...
Nia Janiar said…
@mbak mirna: Haha, thanks.

@mufti: Cari sahajaaa..

Popular Posts