Pidato Sahabat

Halo, selamat siang semuanya. Di pernikahan yang sakral ini, saya diberi kesempatan emas oleh sahabat saya, Bangsawan Tua, untuk memberikan pidato tentangnya.

Baiklah. Bangsawan Tua. Ia berasal dari Papua yang dahulu disebut Irian Jaya. Namun kalian pasti tidak mengira ia orang Papua karena ia berkulit putih dan berambut lurus yang tentunya tidak akan merusak keturunanmu – oh wahai pengantin wanita yang bernama Sarah Siparangin yang kini menjadi teman saya jua.

Tidak ada yang menyangka Tua ini akan memperistri seorang wanita cantik yang letaknya ribuan kilometer jauhnya. Selain itu, bagaimana bisa pria yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya berpetualang, meninggalkan jejak rajah pedalaman di tubuhnya hingga yang kalian lihat hanya darah bercampur tinta, dan dulu paling keras suaranya untuk melegalisasikan ganja kini beristri seorang wanita Katolik taat beragama? Tidak pernah sedikitpun Bangsawan Tua menceritakan tentang wanita selama 30 tahun kami berteman.

Kalian lihatlah otot-otot yang liat dan matanya yang liar itu. Raja Hutan mengakhiri rimbanya, kembali ke bumi mencari perlindungan yang abadi.

Selamat menikah, kawan. Saya yakin kau tidak akan kehilangan petualangan karena petualangan sesungguhnya baru kau mulai sekarang.

Tuhan memberkati.



[Tulisan ini dibuat di writer's circle saat berlatih menulis tentang flash fiction tanggal 13 Maret 2010]

Comments

Popular Posts