Selamat Ulang Tahun

Seorang wanita separuh baya, yang sudah kulupa mukanya, menggurat sebuah kalimat di papan tulis. Selamat Ulang Tahun Nia Yaniar yang ke 4. Betapa keras kepalanya ia. Ibuku sudah bilang berkali-kali kalau namaku tidak disebut dalam ejaan lama. J sebagai je, bukan ye. Karena aku dilahirkan di bulan Januari, bukan Yanuari. Tapi wanita itu tetap saja memanggilku begitu. Sampai aku percaya dan bertanya pada ibu apakah namaku memang dipanggil dalam ejaan lama? Lagipula, ejaan lama itu apa?

Meja-meja diatur sedemikian rupa. Kelasku yang besar jadi terlihat berbeda. Semua kursi ditaruh di depan kelas dan semua murid duduk di atasnya. Kuingat waktu itu kuenya berwarna putih dengan butiran-butiran cokelat yang menghias pinggir-pinggirnya. Sepertinya itu buatan kakaknya ibuku yang suka sekali menambahkan rum di kuenya.

Di sebelahku ada seorang laki-laki yang wajahnya aku ingat tapi aku lupa namanya. Sementara sahabatku yang bernama Mia, entah duduk dimana ia, pastinya ikut senang merayakan ulang tahunku. Dan aku masih ingat rupanya.

Setelah bernyanyi Selamat Ulang Tahun, teman-temanku menyalamiku satu persatu sambil memberikan kado yang tidak pernah aku ingat. Kemudian ibuku membagikan bungkusan kecil berisi makanan dan teman-temanku pulang. Aku dan ibuku masih tinggal disana. Sepertinya ibuku meminta/diminta orang lain untuk difoto. Maka beginilah jadinya:



Empat lilin terakhir. Semenjak itu, aku tidak pernah merayakan ulang tahunku lagi.

Comments

Popular Posts