Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2010

Seribu Kunang-kunang di Manhattan

Berbekal rasa penasaran dan urusan kerjaan sudah kelar, datanglah saya ke Rumah Buku di hari Sabtu malam itu. Di sana akan diadakan pementasan teater Seribu Kunang-kunang di Manhattan yang diadaptasi dari cerita pendeknya Umar Kayam--penulis yang sering dibicarakan kedua teman saya, Andika dan Indra, karena ... ah apalah artinya saya hanya membaca Crayon Sinchan.

Pemikiran saya sederhana: saya ingin tahu seperti apa ceritanya dan seperti apa pementasannya karena saya belum pernah membaca karya penulis yang sering diceritakan kedua teman saya ini.

Yang semula diagendakan pukul setengah delapan, nyatanya baru dimulai pukul delapan kurang sedikit. Duduk di atas rumput beralaskan terpal dan sayup-sayup suara kembang api terdengar di belakang, saya mencoba menikmati pertunjukkannya yang hanya beberapa menit.

Cerita diawali dari Marno dan Jane yang duduk di sofa apartment sambil minum segelas scotch dan martini. Mereka terikat pada perbincangan mengenai masa lalu, misalnya Jane yang terus meng…

Kuantitas Intelegensi Berdasarkan Universitas

Kuantitas intelegensi yang saya maksud adalah IQ. Begini ceritanya.
Sekitar satu atau dua minggu yang lalu, saya diutus atasan untuk datang ke sebuah sharing ilmu psikologi di program magister UNPAD. Dosennya baru dari Australia dan ia mempunyai ilmu tentang anak gifted yang ingin dibagi. Maka datanglah kami. Di sana banyak sekali mahasiswa-mahasiswa S2 sekaligus beberapa psikolog. Selain itu, ada yang berprofesi sebagai guru.
Anak disebut gifted jika ia memiliki kapasitas menerima stimulus lebih besar dari anak lainnya dan memiliki IQ 130. Lalu ada seorang guru yang bertanya, "Apakah IQ gurunya harus 130 juga? Karena kan guru harus memahami karakteristik anak dan paham teorinya. Nah, ada nih guru di sekolah saya. IQ-nya 98 gitu, jadi agak susah kalau belajar lagi. Saya enggak ngerti deh ... kenapa guru-guru dari UPI Bandung (dulu IKIP) itu IQnya rendah semua. Mungkin karena orang-orang pintarnya itu pada milih ke universitas-universitas seperti ITB lalu bekerja di perusahaan"

Kritisisme Menstruasi Pada Manjali dan Cakrabirawa

Manjali dan Cakrabirawa (MC) ini adalah novel terusan dari Bilangan Fu karya Ayu Utami--satu-satunya karya yang berhasil mendistrak saya dari permainan online.
Ada tema yang menarik yang diangkat oleh Ayu Utami yaitu menstruasi. Si tokoh perempuan, Marja, diceritakan sedang menstruasi saat menemani Parang Jati melakukan penyelidikan tentang candi yang baru ditemukan. Tentunya lokasi penemuan candi berada di tempat yang dianggap suci dan kramat.
Suatu saat, ketika Marja mau ke kota untuk membeli pembalut, ada seorang wanita tua yang mengangkat kayu yang ia temui di jalan. Tidak tega, maka Marja mengajak wanita tua itu ikut ke kota. Di tengah perjalanan, Marja menceritakan bahwa ia akan pergi ke kota untuk membeli pembalut. Si wanita tua bercerita kalau anak zaman sekarang pakai pembalut sementara dirinya saat muda hanya memakai kain yang dicuci. Kenapa harus dicuci? -- tanya Marja jijik mendengar dimana darah menstruasi harus dibersihkan (ia biasa dengan langsung buang). Karena haid itu …

I Want To Do Something Good ... With You

Pictured by Sitorus Emul

Luka di Ujung Jari

Tulisan kali ini mengandung hal-hal yang menganggu seperti luka dan darah. Pun ada visualisasinya. Jadi, kalau kau tidak suka, lebih baik kau tidak usah membaca.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Grek.
"Ah!"
Saat itu saya berteriak kecil sambil memegang tangan. Luka menganga di ujung jari telunjuk tangan kiri saya membentuk bulan sabit, hanya menyisakan sisa kulit kecil untuk menunjukkan bahwa daging masih pada tempatnya. Saya lempar kater yang karatan itu ke lantai dan bergegas ke kamar mandi.
Di wastafel, saya panik. Darahnya banyak sekali. Terus mengucur. Saya merasa ujung kulit saya bergoyang-goyang terkena aliran air karena sudah tidak pada tempatnya. Saya panggil-panggil orang yang ada di sekitar untuk diambilkan tissue, kain, atau perban, tapi tidak ada yang mendengar. Maka saya bergegas ke ruangan sebelumnya, mencari teman saya, sambil darah menetes keman…

Tips-tips Pergi Ke Ujung Genteng

Bukan, bukan genteng di atap rumahmu yang saya maksud. Ujung Genteng yang ada di ujung selatan Jawa Barat dekat Sukabumi dan Pelabuhan Ratu.

Saya pergi ke sana bersama 4 orang teman saya menggunakan mobil pribadi. Hanya membayar bensin sebesar 150.000. Kami berangkat dari Bandung pukul 6 sore (dengan terhambat di sekitaran tol Moh. Toha hingga Kota Baru Parahyangan karena Presiden SBY lewat) dengan estimasi sudah sampai di sana pukul 12 malam. Namun eh namun, entah mengapa karena di jalan pun saya tidur terus, kami sampai pukul setengah empat pagi. Oh ya, pada saat kami di daerah Sukabumi, kabut turun lebat sekali. Jarak pandang mata mungkin hanya berkisar 3 meter tanpa penerangan. Saya mencoba menangkap melalui kamera, namun hanya ini yang didapat.

Kabut itu tebal atau lebat sih?

Kami sudah kontak-kontakan dengan Pondok Adi (tipe Cibuaya dengan dua kamar tidur, kamar mandi, dapur kecil, dan ruang tengah sebesar 300.000 per malam plus buaya). Kami memutuskan untuk tidur disana karena ka…

Makan Gaji

Tadi sore menjelang malam, saat saya dan teman-teman sedang kumpul di front office, atasan menghampiri kami. Dia mau berbicara secara khusus tentang sistem penggajian yang belakangan ini santer di kalangan para pegawai. Terutama tim kami pernah begitu keras kepala memperjuangkan hal ini (yang diakhiri dengan kepasrahan). Tentunya kekeraskepalaan kami tidak dibiarkan begitu saja, atasan saya menyampaikan aspirasi kami ke konsultan penggajian.
Dia menjelaskan panjang lebar mengenai sistem penggajian yang berubah dan imbasnya pada tim kami. Salah satu rekan kerja saya mendengarkan tanpa memperhatikan atasan saya dan terlihat begitu skeptis di mata atasan saya. "Bingung?" tanya atasan saya. Teman saya menjawab iya. Saya menambahkan, "Mungkin ini yang membuat bingung: sedari tadi kita berbicara tentang gaji yang notabene itu penuh dengan angka tapi dari tadi obrolannya penuh dengan kata-kata. Mungkin jadinya begitu abstrak."
"Kalau begitu, cek ATM kalian. Kalian perl…

Dunia Lain

Ketahuilah bahwa acara televisi favorit saya adalah Dunia Lain (dan ketahuilah bahwa saya suka Hari/Harri/Harry Panca). Ini yang saya tunggu-tunggu setiap Kamis malam--jika tidak ketiduran.
Ketika nonton Dunia Lain, saya mengharapkan sesuatu yang muncul untuk meningkatkan adrenalin saya. Kalau bisa sih setan/hantu. Bukan karena saya ingin melihatnya dalam dunia nyata, tapi saya suka dengan sensasi deg-degan dan ketakutan. Bahkan, untuk situasi tertentu, saya sengaja meluangkan waktu untuk menonton film horor terseram (asal tidak sendirian) yang biasanya dimainkan oleh orang Korea/Jepang/Taiwan atau Thailand. Saya perlu rasa takut yang amat sangat untuk men-detoks perasaan saya.
Walaupun secara teori mungkin tidak ada.
Dari yang saya lihat dari Dunia Lain, seringkali orangnya baca-baca doa atau Al-Quran atau dzikir atau mengucapkan apapunlah yang kearab-araban (mayoritas orang Islam. Kenapa mayoritasnya orang Islam? Apakah orang Islam suka tantangan? Apakah orang butuh uang? Atau orang Is…

Tips Karimunjawa Ala Backpacker

Tulisan ini dimaksudkan untuk memudahkan pergi ke Karimunjawa (Karjaw) ala backpacker yang mungkin akan kau cari di Google dan blog sayalah yang keluar. Karena saya sendiri pun harus riset dulu.

Satu minggu yang lalu (3 Juli 2010-6 Juli 2010), saya dan teman-teman saya pergi ke Karjaw menggunakan jasa Wisata Kita. Di periode ini, budget dari PP Jepara-Karjaw, homestay, penyewaan alat-alat snorkeling, makan, ditanggung sebanyak Rp 400.000,- ala backpacker selama 4 hari 3 malam. Intinya biayanya sudah mencangkup segalanya kecuali biaya ke dari kota asal ke Jepara atau membeli keperluan sendiri.

Saya pergi dari Bandung naik bis Kramat Jati ke Jepara seharga Rp 80.000. Awalnya direncanakan berangkat pukul 18.20 tapi ternyata telat. Setelah itu bisnya berhenti di terminal Cicaheum, diberbagai shuttle, dan menunggu peserta yang ingin nyusul di luar shuttle. WTF. Ini menganggu sekali. Lu kire ini mobil pribadi? Biaya Rp 80.000 itu termasuk snack dan makan malam di Sumedang pukul 21.00.

Tips…

Jeritan Seorang Buruh Pabrik

Buruh pabriknya itu saya. Nyatanya saya seorang pendidik. Saya menggunakan judul di atas agar terlihat pelik. Dan sedikit ciamik.
Ah, lupakan.
Beberapa bulan yang lalu, dalam pekerjaan saya, saya mengalami ... apa ya istilahnya ... naik jabatan, mungkin. Awalnya kaum jelata menjadi sedikit jelata. Awalnya jadi anggota, kini menjadi koordinator tim. Jujur, ini adalah berita buruk. Murni tidak ada pengajuan diri atau sok-sokan ingin terlihat berprestasi. Saya murni ditunjuk!
Banyak yang bilang status saya ini membawa kebetulan yang baik. Kebetulan pertama jatuh pada senior saya yang cuti untuk program kehamilan dan ternyata jadi hamil betulan. Seharusnya, jika ia tidak cuti, dia yang menjadi koordinator timnya! Kebetulan kedua jatuh pada eks koordinator dulu yang kini turun jadi anggota dan ia dapat berkah hamil setelah menunggu lima tahun lamanya. SIAL betul nasib saya. Saya seolah-olah dikorbankan untuk kelahiran dua alien kecil!
Maaf, saya bercanda. Lagipula saya suka anak-anak.
Selain it…

Pemerintahan

Satu minggu yang lalu, saya menghadiri sebuah seminar dan workshop nasional (yang diadakan di hari Sabtu dan Minggu) di gedung departemen pendidikan yang ada di Jalan Sudirman. Acaranya dan biayanya besar sekali dan dihadiri orang-orang besar lainnya: menteri dan beberapa pejabat, karena acara ini terkait dengan peresmian sebuah asosiasi.
Menteri yang diundang (selain menteri lain yang datang) malah tidak datang padahal dia tokoh utama dari acara ini. Dia diwakili oleh sekertaris jendralnya yang menjadi pemateri juga. Ah, penasaran juga nih melihat isi materi jika dilihat dari perspektif orang dari pemerintahan--pikir saya.
Beberapa lama setelah ia berbicara, saya tidak heran kenapa jika diadakan rapat-rapat begitu pesertanya seringkali tertidur. Membosankan sekali. Atau mungkin saya tidak minat dengan hal-hal yang berbau birokrasi dengan dibalut bahasa-bahasa dewa nan ambigu dan abstrak? Ingin tahu contoh bahasanya apa? Coba kau tilik itu Pancasila, pelajaran kewarganegaraan, atau muka…

Psikotes

Semalam, saudara saya ke rumah. Dia mau bertanya tentang psikotes. Saat janjian, sudah saya wanti-wanti untuk tidak berharap banyak bahwa ada beberapa hal yang menyangkut kode etik. Maka, ia pun menyanggupi dan datang di malam hari.
Pembicaraan diawali oleh ayahnya yang bicara agak serius, "Mungkin Nia bisa bantu ..." Saya tertawa kecil di dalam hati. Apa yang mau dibantu sementara psikotes tuh melulu hal-hal yang dibawa dari dalam diri?
Saudara saya bilang gini, "Waktu kamu ngomong tentang kode etik, aku bilang ke mama. Mamaku bilang, 'Alaahh ... sama saudara sendiri mah biarin aja. Bantuin gitu ...'" Saya cuman nyengir lalu saya bilang, "Betul jika saya tahu jawaban-jawaban soal-soal psikotes. Tapi ini masalah tanggung jawab."
Rupanya ini adalah psikotes pertama dan dia berharap banyak supaya lulus dan dapat kerja. Dengan malu-malu saudara saya bercerita tentang buku-buku psikotes yang ada di toko buku. "Memangnya apa sih yang ada di buku?&quo…

Perempuan, Bodohlah!

Dalam sebuah perbincangan dua perempuan dewasa--saya dan teman saya (baiklah)--kami menemukan fakta yang menarik: kami sama-sama pernah membodohi diri di depan laki-laki. Laki-laki, entah terbuat dari apa (mungkin mereka terbuat dari gelembung-gelembung ego yang rentan pecah), agak sulit menerima kalau perempuannya lebih pintar daripadanya. Apakah betul, wahai laki-laki?
Tentu laki-laki tidak mau juga memiliki pasangan yang bodoh, tapi bukan berarti mau juga memiliki pasangan yang kelewat pintar. Harus manut. Tidak melawan. Iya-iya saja.
Agaknya ini bukan perasaan saya karena saya pernah dikatai langsung oleh teman laki-laki, "Nia, kamu jangan pinter-pinter amat dong. Sekali-kali enggak bisa jawab kek." Bukan, saya bukan seorang jenius dengan IQ tinggi, menang olimpiade, atau dinominasikan mendapat nobel. Saya hanya suka berdiskusi atau mencecar sesuatu yang baru, terutama hal-hal diluar pandangan saya.
Pun dengan teman saya yang mengeluhkan pacarnya yang berkata, "Semenja…