Skip to main content

Jeritan Seorang Buruh Pabrik

Buruh pabriknya itu saya. Nyatanya saya seorang pendidik. Saya menggunakan judul di atas agar terlihat pelik. Dan sedikit ciamik.

Ah, lupakan.

Beberapa bulan yang lalu, dalam pekerjaan saya, saya mengalami ... apa ya istilahnya ... naik jabatan, mungkin. Awalnya kaum jelata menjadi sedikit jelata. Awalnya jadi anggota, kini menjadi koordinator tim. Jujur, ini adalah berita buruk. Murni tidak ada pengajuan diri atau sok-sokan ingin terlihat berprestasi. Saya murni ditunjuk!

Banyak yang bilang status saya ini membawa kebetulan yang baik. Kebetulan pertama jatuh pada senior saya yang cuti untuk program kehamilan dan ternyata jadi hamil betulan. Seharusnya, jika ia tidak cuti, dia yang menjadi koordinator timnya! Kebetulan kedua jatuh pada eks koordinator dulu yang kini turun jadi anggota dan ia dapat berkah hamil setelah menunggu lima tahun lamanya. SIAL betul nasib saya. Saya seolah-olah dikorbankan untuk kelahiran dua alien kecil!

Maaf, saya bercanda. Lagipula saya suka anak-anak.

Selain itu, seharusnya ini jatuh pada senior saya yang lain. Namun senior saya itu ditempatkan di kelas 6 yang akan menghadapi UASBN pertama. Jadilah saya yang diangkat. Sepertinya bukan karena potensi, tapi karena tidak ada orang lagi. Apalagi rumornya saya diangkat karena saya sering online malam-malam sehingga bisa dikasih tugas siang malam. Oh apalagi email-email pribadi tentang tugas ini itu, tolong koordinasikan dengan ini itu, lakukan ini itu ...

Saya perlu bahu untuk menangis. Cengeng.

Teman-teman saya mencoba untuk menghibur saya. Hanya satu yang kena ketika partner saya bilang, "Anggap saja ini media untuk Bu Nia belajar." Ah, belajar ... selain secara fisik mahal, psikis pun mahal!

Sialnya lagi--karena tempat kerja saya belum memiliki kelulusan sehingga belum ada akreditasi--saya mendapatkan kesempatan bersama partner lain lagi untuk menjadi penanggung jawab standar kompetensi kelulusan. APA ITU? Kenapa ini harus terjadi di tahun saya masuk dan di tahun saya diangkat? Kenapa, Tuhan, kenapaaa?

Ah, lemah mental betul.

Tapi itu awalnya. Lama-lama saya agak sedikit terbiasa dan mulai menerima kenyataan. Betul kata teman saya, ini adalah media saya belajar. Ilmu psikologi saya meningkat terus. Skill saya pun berkembang. Semuanya gratis. Dan dibayar pula.

Comments

Sundea said…
Dikirimin magical energy biar Nia tetep semangat ... WUZZZZZZ ...semoga bermanfaat ... =D
Nia Janiar said…
Hehe, thanks, De. Efeknya mulai agak-agak kerasa. :))
M. Lim said…
Jika tak terlalu dipikirkan dan dikerjakan seperti robot, pasti bisa lewat.

Sedih ya?

tapi memang begitu adanya...

*malah memancarkan energi negatip khekhekhe*
Nia Janiar said…
*kesambet energi nehatif.

aaah, aku depresi.

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…