Skip to main content

Kritisisme Menstruasi Pada Manjali dan Cakrabirawa

Manjali dan Cakrabirawa (MC) ini adalah novel terusan dari Bilangan Fu karya Ayu Utami--satu-satunya karya yang berhasil mendistrak saya dari permainan online.

Ada tema yang menarik yang diangkat oleh Ayu Utami yaitu menstruasi. Si tokoh perempuan, Marja, diceritakan sedang menstruasi saat menemani Parang Jati melakukan penyelidikan tentang candi yang baru ditemukan. Tentunya lokasi penemuan candi berada di tempat yang dianggap suci dan kramat.

Suatu saat, ketika Marja mau ke kota untuk membeli pembalut, ada seorang wanita tua yang mengangkat kayu yang ia temui di jalan. Tidak tega, maka Marja mengajak wanita tua itu ikut ke kota. Di tengah perjalanan, Marja menceritakan bahwa ia akan pergi ke kota untuk membeli pembalut. Si wanita tua bercerita kalau anak zaman sekarang pakai pembalut sementara dirinya saat muda hanya memakai kain yang dicuci. Kenapa harus dicuci? -- tanya Marja jijik mendengar dimana darah menstruasi harus dibersihkan (ia biasa dengan langsung buang). Karena haid itu darah kotor -- ujar si wanita tua lalu berkata kalau di hutan ini ada Banaspati: hantu hutan yang suka menghisap darah menstruasi perempuan.

Jeng jeng jeng jeng.

Dalam saat lain, ketika Marja dan Parang Jati baru pulang dari kota, mereka menemukan seorang anak yang kesurupan di sekitar candi. Anak itu berteriak 'tempat ini sudah ternodai' sambil menunjuk ke arah Marja. Sontak Marja kaget dengan hal itu. Ia murung memikirkan rasa dituduh menodai tempat itu. Penodaan terjadi saat ia sedang haid. Ia sedang kotor.

"Marja merasa diperlakukan tidak adil. Mengapa menstruasinya dianggap kotor. Bukankah ini proses rahim menyiapkan diri untuk bisa menumbuhkan kehidupan. Ia merasa seperti perempuan malang yang terkena sakit pendarahan. Ia seperti manusia kusta. Ia merasa hina, tak rela, tak berdaya." (2010:129)

"Marja lebih banyak berdiam diri dalam perjalanan. Rasanya, ia belum pernah dalam suasana hati sedemikian rendah. Tidak bisa tidak itu berhubungan dengan haidnya. Sesuatu yang sangat inheren dalam dirinya, sangat intim, justru menyebabkan dunia bagai menudingnya. Ia tak pernah merasa sekotor ini. Ia tidak pernah merasa serendah ini. Seterpinggir ini. Sebersalah ini." (2010:131)

Pada dasarnya menstruasi hanyalah proses biologis. Tapi apa yang membuatnya malu? Mungkin larangan-larangan mendekati batas suci yang membuatnya menjadi kotor. Misal: tidak boleh masuk ke masjid (bahkan lewat pun tidak karena darah takut menetes), tidak beribadah, tidak boleh masuk kuburan, dan lainnya. Lalu apakah unsur seks (akil balig) membuatnya semakin tabu? Justru ketabuan itu pernah membuat saya begitu takut dan jijik ketika mendapatkan menstruasi pertama kali. Belum lagi kesakitan atau ketidaknyamanan yang didapat setiap bulan sehingga membuat diri ini merasa enggan.

Itu dulu.

Tapi, oh, perempuan, pernahkah kau merasa sedemikian rendah saat menstruasi? Pernahkah kau sedemikian malu ketika darah meninggalkan noda di celanamu atau dikasurmu?

Comments

Neni said…
ah si Marja weh yg terlalu dipikirin...hehhe..
Nia Janiar said…
Secara Marja anak Ayu Utami, pastinya "terlalu mikirin" masalah keperempuanan, Nen :)

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…