Kuantitas Intelegensi Berdasarkan Universitas

Kuantitas intelegensi yang saya maksud adalah IQ. Begini ceritanya.

Sekitar satu atau dua minggu yang lalu, saya diutus atasan untuk datang ke sebuah sharing ilmu psikologi di program magister UNPAD. Dosennya baru dari Australia dan ia mempunyai ilmu tentang anak gifted yang ingin dibagi. Maka datanglah kami. Di sana banyak sekali mahasiswa-mahasiswa S2 sekaligus beberapa psikolog. Selain itu, ada yang berprofesi sebagai guru.

Anak disebut gifted jika ia memiliki kapasitas menerima stimulus lebih besar dari anak lainnya dan memiliki IQ 130. Lalu ada seorang guru yang bertanya, "Apakah IQ gurunya harus 130 juga? Karena kan guru harus memahami karakteristik anak dan paham teorinya. Nah, ada nih guru di sekolah saya. IQ-nya 98 gitu, jadi agak susah kalau belajar lagi. Saya enggak ngerti deh ... kenapa guru-guru dari UPI Bandung (dulu IKIP) itu IQnya rendah semua. Mungkin karena orang-orang pintarnya itu pada milih ke universitas-universitas seperti ITB lalu bekerja di perusahaan"

Sialan, itu kampus saya! --gumam saya. Ternyata rekan kerja saya mendengar gumaman saya, lalu dia memprovokasi, "WAH, GAK ENAK TUH, NI!"

"Emang! Apa mungkin karena begini: Mahasiswa UPI berasal dari daerah. Orang-orang daerah banyak yang ingin jadi guru. Dan mungkin stimulasi orang daerah kurang hingga IQnya rendah," saya berasumsi. Tapi tentunya asumsi ini tidak valid juga karena banyak orang daerah yang berprestasi. Ah, sialan, pernyataan itu begitu menganggu pikiran saya. Ada sebuah persepsi negatif tentang kampus saya!

Rekan saya nyeletuk, "Kok IQ segitu bisa jadi guru sih? Heran. Kalau IQ segitu pasti enggak lolos sekolah kita karena minimal kita menerima yang superior."

Ehm.

Jadi, maksud saya, untuk perempuan yang over-generalized itu ... mohon dicermati kata-katanya. IQ orang lain lebih rendah pun tidak membuat Anda lebih pintar. Seperti yang dikatakan oleh pemateri, "Tidak perlu IQ 130 untuk mengajarkan anak gifted. Yang penting guru dapat mengakomodasi kebutuhan anak untuk memaksimalkan potensinya."

Saya harap kecerdasan sosial Anda ditingkatkan lagi.


Comments

Anonymous said…
wha...bawa2 alamater...blom pernah diserbu orang sekampus...hahah

sayang yah,IQ tinggi tp cara pikirnya sempit :P
G4reeLa said…
waks! parah tu orang. bener, ni, kecerdasan sosialnya perlu dipush tuh dia.
Anonymous said…
aaaaaaaah!!! coba aku dateng ya, biar yang melototin bukan cuma nia aja. hehehe.

padahal kalo dipikir2 lagi, guru2 dia dulu di sd ampe smu kan kebanyakan lulusan upi (dan cabang2nya) juga...
mudah2an saya bukan termasuk orang2 yang disebut2 diatas.. hahaha
Nia Janiar said…
GANYAAANGGGG!!!

Hahaha..
Iya tuh tum, ada juga yang nanya, "psikologi mana? Unpad ya?" pas dijawab "UPI Bandung" tampangnya langsung brobah..dan ngomong "Oh" doang. Zzzz.

Tapi Thanks God itu ngga berlaku di semua tempat...di kantor yang skarang alhamdulillah ngga ngeliat lulusan mana..tapi bisa perform atau ngga :)

(malahan lulusan Universitas Gajah Duduk ngga terlalu diminati...stereotype-nya sok ngatur katanya..fufufufu)
Nia Janiar said…
Sama. "Oh" doang juga sering diterima. Sungguh stereotype ini berbahaya dan mematikan, Bow!

Popular Posts