Luka di Ujung Jari

Tulisan kali ini mengandung hal-hal yang menganggu seperti luka dan darah. Pun ada visualisasinya. Jadi, kalau kau tidak suka, lebih baik kau tidak usah membaca.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Grek.

"Ah!"

Saat itu saya berteriak kecil sambil memegang tangan. Luka menganga di ujung jari telunjuk tangan kiri saya membentuk bulan sabit, hanya menyisakan sisa kulit kecil untuk menunjukkan bahwa daging masih pada tempatnya. Saya lempar kater yang karatan itu ke lantai dan bergegas ke kamar mandi.

Di wastafel, saya panik. Darahnya banyak sekali. Terus mengucur. Saya merasa ujung kulit saya bergoyang-goyang terkena aliran air karena sudah tidak pada tempatnya. Saya panggil-panggil orang yang ada di sekitar untuk diambilkan tissue, kain, atau perban, tapi tidak ada yang mendengar. Maka saya bergegas ke ruangan sebelumnya, mencari teman saya, sambil darah menetes kemana-mana.

"Tissue!" Teman saya bergegas dan takjub melihat luka, "Ya ampun, Nia, darahnya banyak sekali!"

"Aku cari orang dulu yang bisa ngobatin luka aku dulu ya. Tapi ini darahnya netes-netes di lantai."

"Ya udah, biar darahnya yang aku bersiin," ujar teman saya.

Sambil ditutup tissue, saya mencari teman saya. Akhirnya teman saya menutupi luka dengan perban seadanya. Rasanya sakit sekali. Ketika ia melilit perban, saya merasa daging saya terus bergerak. Setelah di perban, saya rasa masalah sudah berhenti sampai situ saja. Lalu saya melanjutkan aktivitas seperti biasa: memotong kertas dengan satu tarikan kuat dengan menggunakan kater. Tadi hanya sial. Terlalu percaya diri. Kater malah melenceng ke telunjuk kiri.

Beberapa jam kemudian saya di telepon. Teman saya yang mengerti kesehatan ingin melihat lukanya. Ternyata perban menempel di luka. Dengan sabar, ia membuka dengan bantuan Rivanol dan menyarankan saya pergi ke rumah sakit untuk dijahit saja.

Dijahit? Biar saya pikir-pikir dulu.

Saya ditemani teman saya masuk ke UGD. Sementara saya disuruh berbaring, teman saya mengurus administrasi. Petugas UGD dan teman saya mencoba menenangkan saya dengan berkata hal-hal yang lucu. Mungkin karena saya terlihat takut dan panik. Inilah hal fisik yang paling saya takuti di dunia: luka dan darah.

Telunjuk saya dibius. "Ini rasanya bakal sakit," ujar si petugas. Saya mengharapkan dia berbohong. "Akan sakit?" tanya saya sekali lagi. "Iya. Tangannya jangan ditarik ya," ujarnya. Kenapa ia tidak berbohong bahwa ini rasanya akan seperti digigit semut atau anak gajah? Ternyata suntikannya jauh lebih sakit ketimbang suntik di bokong, lengan atas, atau di pembuluh darah ketika kau mau donor darah. Seketika telunjuk saya mati rasa.

Saya bisa merasakan tarikan benangnya. Saya bisa mendengar ketika si petugas berkata, "Ah, salah. Ayo, cabut lagi." Saya tak mau melihat proses menjahitnya tapi saya bisa melihat ekspresi teman saya ketika proses menjahit. Saya bisa lihat terkejutnya teman saya ketika sudah dijahit. Saya tahu betul ketika teman saya bilang, "Ni, mataku gelap. Aku perlu duduk."

Saya diberi antibiotik dan penahan rasa sakit. Sepulang dari UGD, saya melakukan aktivitas seperti biasa dengan rasa sakit. Teman saya dengan baiknya membantu saya, misalnya ketika saya kerepotan memegang sesuatu atau bahkan ketika membuka obat. Sementara di rumah, mandi menjadi aktivitas yang rumit karena tangan ini tidak boleh basah. Sayangnya, ini harus dilakukan sendirian.

Tiga hari kemudian, saya check up. Petugas UGD bilang kalau hasilnya bagus: luka saya kering. "Memang yang tidak bagus itu seperti apa?" tanya saya. "Ada luka yang basah," ujarnya. Syukur Tuhan, kau memberikan saya penyembuhan. Semoga besok lukanya sudah tertutup sempurna dan jahitannya bisa dilepas.

Petugas meminta saya mengganti perban setiap hari. Wah, saya tidak mau lihat hasil jahitan saya! Keesokan harinya (Sabtu), mungkin teman saya bisa bantu karena saat itu saya lembur. Tapi hari Minggu? Saya harus melakukannya sendiri.

Maka tadi pagi, saya mengganti perban sendiri. Saya harus lihat luka saya. Oh, ternyata begini hasilnya. Kuku saya pun ikut dijahit. Bentuknya tidak lagi setengah lingkaran seperti ujung jari kebanyakan. Sekarang ujung jari saya agak cekung. Mungkin lagunya Koil berjudul Aku Lupa Aku Luka cocok untuk tulisan kali ini. Walau saya tidak pernah lupa karena nyut-nyutan. Dan mungkin perspektif lukanya pun berbeda. Ah, saya hanya ingin menulis judul itu saja.

Di situ saya sadar bahwa tubuh ini holistik, tidak bisa terpisahkan. Luka di ujung jari saja bisa membuat saya sebegini kesusahan.

P.S: Oh ya, teman saya merekam ini dalam video. Tunggulah kapan-kapan ;)

Comments

Neni said…
niaaawww, gw merinding bacanya ihh...
Skrg sdh sgt kering kan lukanya dan mandinya sdh mudah kan? hehehhe...
M. Lim said…
hih
merinding
Nia Janiar said…
@neni: belom, Nen, jahitannya aja belom dibuka.
Sundea said…
Tubuh itu holistik. Nggak bisa dipisahin. Agree ...
Nia Janiar said…
Iya, ini juga baru pertama kali gue setuju dengan tulisan gue :D

Popular Posts