Skip to main content

Makan Gaji

Tadi sore menjelang malam, saat saya dan teman-teman sedang kumpul di front office, atasan menghampiri kami. Dia mau berbicara secara khusus tentang sistem penggajian yang belakangan ini santer di kalangan para pegawai. Terutama tim kami pernah begitu keras kepala memperjuangkan hal ini (yang diakhiri dengan kepasrahan). Tentunya kekeraskepalaan kami tidak dibiarkan begitu saja, atasan saya menyampaikan aspirasi kami ke konsultan penggajian.

Dia menjelaskan panjang lebar mengenai sistem penggajian yang berubah dan imbasnya pada tim kami. Salah satu rekan kerja saya mendengarkan tanpa memperhatikan atasan saya dan terlihat begitu skeptis di mata atasan saya. "Bingung?" tanya atasan saya. Teman saya menjawab iya. Saya menambahkan, "Mungkin ini yang membuat bingung: sedari tadi kita berbicara tentang gaji yang notabene itu penuh dengan angka tapi dari tadi obrolannya penuh dengan kata-kata. Mungkin jadinya begitu abstrak."

"Kalau begitu, cek ATM kalian. Kalian perlu tahu berapa gaji kalian," ujar atasan.

"Nah, kadang seperti ini, Bu. Ketika saya cek ATM saya, saya tidak peduli berapa nominal yang tertera di layar. Saya hanya tahu bahwa uang saya bertambah, namun berapa-berapanya tidak saya hitung."

"Biasanya itulah yang terjadi pada pegawai-pegawai awal. Apalagi yang masih single. Nah, justru itu enaknya, kalian tidak terlalu pusing bagi yang single memikirkan gaji."

"Tapi saya enggak mau single terus, Bu," ujar saya bercanda. Suasana pun diiringi derai tawa. Ya memang betul, saya tidak mau tua, layu, dan mati sendirian.

Setelah mengobrol beberapa lama, atasan saya berkata, "Nih ya, saya ngomong bukan sebagai atasan, melainkan sebagai teman. Saya sudah 15 tahun tidak kuliah. Saya sering melihat teman-teman saya. Ada yang berhasil dan ada yang tidak. Yang berhasil adalah yang memiliki kemauan, yang begitu integritas pada pekerjaannya. Orang yang punya kemauan, rejekinya akan nempel terus. Beda sama orang yang perhitungan. Ibaratnya 'Nih, saya akan bekerja sesuai dengan gaji saya'. Selamanya ia akan terjebak disitu."

Saya berkata, "Ada yang menarik, Bu, saat ibu bilang punya kemauan. Begini: ada beberapa orang yang masih ada di dalam kebutuhan Maslow yang pertama yaitu kebutuhan biologis. Misalnya saya yang baru lulus kuliah kemarin dan saya mencari uang biar bisa mencari makan enak. Nah, bagaimana kalau seperti itu?

"Begini. Saya jadi ingat kata Pak Wisnu. Kalau manusia mencari uang untuk makan, sama dengan ayam atau bebek karena mereka mencari makan. Kalau manusia uang untuk membangun rumah, sama seperti binatang lain yang mencari rumah. Kalau manusia mencari kekuasaan, sama seperti singa atau kera yang mereka juga mencari kekuasaan. Berbeda dengan manusia yang ingin bermanfaat bagi orang, sementara binatang tidak."

Intinya, mungkin kalau kau bingung, aktualisasi diri.

Teman saya menyambar, "Ya mungkin setiap orang prosesnya beda-beda."

"Iya, betul!" Mata atasan saya berkilat-kilat di malam tidak bolong sementara saya merasa kepala saya pening. Ia segera meralat, "Ya walaupun tidak salah karena binatang 'kan ciptaan Tuhan juga."

Saya pening dua kali.

Atasan saya berpesan bahwa sebaiknya urusan nominal gaji itu tidak usah disebutkan dan dibandingkan. "Kenapa, Bu, tabu?" tanya saya. "Bukan. Menyebutkan gaji dan memperlihatkan gaji itu seperti ... memperlihatkan pakaian dalam sendiri! Gaji adalah sebuah ukuran prestasi. Rasanya tidak pantas jika menunjukkan hal seperti itu."

Entah seberapa malunya pejabat kita karena sudah ditunjukkan pakaian dalamnya di depan umum. Apalagi ketika gaji mereka disebutkan di media massa.

Comments

M. Lim said…
yang jelas kamu harus punya dua rekening. Satu untuk traffic uang, terima gaji dan hura-hura kebutuhan hidup. Satu untuk menabung, yang susah diakses dengan jangka tujuan yang agak lebih lama dari sekedar 3 bulan.
Begitu uang gaji masuk, langsung potong 30% buat masuk ke rekening tabungan.
Teorinya gampang. prakteknya susaaahhhhhh
Nia Janiar said…
Iya, M, betul. Ini sudah melaksaken ini dari awal kerja. Alhamdulillah betul bisa hura2. Heheu.
Neni said…
gw jg ikut pening bacanya nia..ga ngerti arah pembicaraan bosmu yg sdg berbicara slyknya teman dan bkn sbg atasan itu... =)
Nia Janiar said…
Atau mungkin bos memang selamanya gak bisa jadi teman, terutama jika di lingkungan kerja? :P

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…