Pemerintahan

Satu minggu yang lalu, saya menghadiri sebuah seminar dan workshop nasional (yang diadakan di hari Sabtu dan Minggu) di gedung departemen pendidikan yang ada di Jalan Sudirman. Acaranya dan biayanya besar sekali dan dihadiri orang-orang besar lainnya: menteri dan beberapa pejabat, karena acara ini terkait dengan peresmian sebuah asosiasi.

Menteri yang diundang (selain menteri lain yang datang) malah tidak datang padahal dia tokoh utama dari acara ini. Dia diwakili oleh sekertaris jendralnya yang menjadi pemateri juga. Ah, penasaran juga nih melihat isi materi jika dilihat dari perspektif orang dari pemerintahan--pikir saya.

Beberapa lama setelah ia berbicara, saya tidak heran kenapa jika diadakan rapat-rapat begitu pesertanya seringkali tertidur. Membosankan sekali. Atau mungkin saya tidak minat dengan hal-hal yang berbau birokrasi dengan dibalut bahasa-bahasa dewa nan ambigu dan abstrak? Ingin tahu contoh bahasanya apa? Coba kau tilik itu Pancasila, pelajaran kewarganegaraan, atau mukadimah dari segala sesuatu. Bahasa-bahasanya begitu panjang, terurai, dan tidak praktis!

Atau mungkin karena cakrawala pengetahuan saya masih sempit sehingga belum bisa mengambil makna dari bahasa dewa?

Btw, ini oleh-olehnya. Keabsurdan dan keambiguan mungkin bisa menciptakan hal-hal sedemikian hebatnya. Eh, atau ini dibuat oleh orang-orang praktis?

Comments

Popular Posts