Skip to main content

Perempuan, Bodohlah!

Dalam sebuah perbincangan dua perempuan dewasa--saya dan teman saya (baiklah)--kami menemukan fakta yang menarik: kami sama-sama pernah membodohi diri di depan laki-laki. Laki-laki, entah terbuat dari apa (mungkin mereka terbuat dari gelembung-gelembung ego yang rentan pecah), agak sulit menerima kalau perempuannya lebih pintar daripadanya. Apakah betul, wahai laki-laki?

Tentu laki-laki tidak mau juga memiliki pasangan yang bodoh, tapi bukan berarti mau juga memiliki pasangan yang kelewat pintar. Harus manut. Tidak melawan. Iya-iya saja.

Agaknya ini bukan perasaan saya karena saya pernah dikatai langsung oleh teman laki-laki, "Nia, kamu jangan pinter-pinter amat dong. Sekali-kali enggak bisa jawab kek." Bukan, saya bukan seorang jenius dengan IQ tinggi, menang olimpiade, atau dinominasikan mendapat nobel. Saya hanya suka berdiskusi atau mencecar sesuatu yang baru, terutama hal-hal diluar pandangan saya.

Pun dengan teman saya yang mengeluhkan pacarnya yang berkata, "Semenjak kerja, kamu sekarang mah pinter. Sekarang tuh suka ngelawan. Enggak suka ah." Pun dengan teman saya yang lainnya mengeluhkan suaminya apatis saat sang istri dengan antusias menceritakan pengalaman kerjanya. SORI SORI SORI JEK.

Saya pernah membodoh-bodohi diri sendiri di depan laki-laki, pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak bisa menjawab--walau ada kalanya juga saya tidak tahu dan tidak bisa jawab. Karena konon, Mario Teguh berkata: Mulialah perempuan yang memuliakan laki-lakinya.

Itu 'kan mulia menurut Mario Teguh. Kalau menurut Tuhan?

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…