Perempuan, Bodohlah!

Dalam sebuah perbincangan dua perempuan dewasa--saya dan teman saya (baiklah)--kami menemukan fakta yang menarik: kami sama-sama pernah membodohi diri di depan laki-laki. Laki-laki, entah terbuat dari apa (mungkin mereka terbuat dari gelembung-gelembung ego yang rentan pecah), agak sulit menerima kalau perempuannya lebih pintar daripadanya. Apakah betul, wahai laki-laki?

Tentu laki-laki tidak mau juga memiliki pasangan yang bodoh, tapi bukan berarti mau juga memiliki pasangan yang kelewat pintar. Harus manut. Tidak melawan. Iya-iya saja.

Agaknya ini bukan perasaan saya karena saya pernah dikatai langsung oleh teman laki-laki, "Nia, kamu jangan pinter-pinter amat dong. Sekali-kali enggak bisa jawab kek." Bukan, saya bukan seorang jenius dengan IQ tinggi, menang olimpiade, atau dinominasikan mendapat nobel. Saya hanya suka berdiskusi atau mencecar sesuatu yang baru, terutama hal-hal diluar pandangan saya.

Pun dengan teman saya yang mengeluhkan pacarnya yang berkata, "Semenjak kerja, kamu sekarang mah pinter. Sekarang tuh suka ngelawan. Enggak suka ah." Pun dengan teman saya yang lainnya mengeluhkan suaminya apatis saat sang istri dengan antusias menceritakan pengalaman kerjanya. SORI SORI SORI JEK.

Saya pernah membodoh-bodohi diri sendiri di depan laki-laki, pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak bisa menjawab--walau ada kalanya juga saya tidak tahu dan tidak bisa jawab. Karena konon, Mario Teguh berkata: Mulialah perempuan yang memuliakan laki-lakinya.

Itu 'kan mulia menurut Mario Teguh. Kalau menurut Tuhan?

Comments

Popular Posts