Skip to main content

Psikotes

Semalam, saudara saya ke rumah. Dia mau bertanya tentang psikotes. Saat janjian, sudah saya wanti-wanti untuk tidak berharap banyak bahwa ada beberapa hal yang menyangkut kode etik. Maka, ia pun menyanggupi dan datang di malam hari.

Pembicaraan diawali oleh ayahnya yang bicara agak serius, "Mungkin Nia bisa bantu ..." Saya tertawa kecil di dalam hati. Apa yang mau dibantu sementara psikotes tuh melulu hal-hal yang dibawa dari dalam diri?

Saudara saya bilang gini, "Waktu kamu ngomong tentang kode etik, aku bilang ke mama. Mamaku bilang, 'Alaahh ... sama saudara sendiri mah biarin aja. Bantuin gitu ...'" Saya cuman nyengir lalu saya bilang, "Betul jika saya tahu jawaban-jawaban soal-soal psikotes. Tapi ini masalah tanggung jawab."

Rupanya ini adalah psikotes pertama dan dia berharap banyak supaya lulus dan dapat kerja. Dengan malu-malu saudara saya bercerita tentang buku-buku psikotes yang ada di toko buku. "Memangnya apa sih yang ada di buku?" Saudara saya agak segan menjawab karena takut ditertawakan.

HAHAHAHAHA. Nih saya tertawakan sekarang. Padahal saya tidak ada niat untuk menertawakan.

Sebenarnya apa sih yang mau dicari dari kisi-kisi atau kunci jawaban psikotes? Kalaupun kita tahu, tapi kita juga belum tentu tahu tentang profile yang diminta perusahaan 'kan? Misalnya jawaban psikotes diarahkan ke arah jiwa pemimpin sementara perusahaan tidak minta profile demikian, ya agak sia-sia juga. Kuncinya mudah: keluarkan diri apa adanya. Istirahat yang cukup dan dalam keadaan fit.

Lagipula tolol betul oknum yang membocorkan hal-hal macam itu.

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…