Psikotes

Semalam, saudara saya ke rumah. Dia mau bertanya tentang psikotes. Saat janjian, sudah saya wanti-wanti untuk tidak berharap banyak bahwa ada beberapa hal yang menyangkut kode etik. Maka, ia pun menyanggupi dan datang di malam hari.

Pembicaraan diawali oleh ayahnya yang bicara agak serius, "Mungkin Nia bisa bantu ..." Saya tertawa kecil di dalam hati. Apa yang mau dibantu sementara psikotes tuh melulu hal-hal yang dibawa dari dalam diri?

Saudara saya bilang gini, "Waktu kamu ngomong tentang kode etik, aku bilang ke mama. Mamaku bilang, 'Alaahh ... sama saudara sendiri mah biarin aja. Bantuin gitu ...'" Saya cuman nyengir lalu saya bilang, "Betul jika saya tahu jawaban-jawaban soal-soal psikotes. Tapi ini masalah tanggung jawab."

Rupanya ini adalah psikotes pertama dan dia berharap banyak supaya lulus dan dapat kerja. Dengan malu-malu saudara saya bercerita tentang buku-buku psikotes yang ada di toko buku. "Memangnya apa sih yang ada di buku?" Saudara saya agak segan menjawab karena takut ditertawakan.

HAHAHAHAHA. Nih saya tertawakan sekarang. Padahal saya tidak ada niat untuk menertawakan.

Sebenarnya apa sih yang mau dicari dari kisi-kisi atau kunci jawaban psikotes? Kalaupun kita tahu, tapi kita juga belum tentu tahu tentang profile yang diminta perusahaan 'kan? Misalnya jawaban psikotes diarahkan ke arah jiwa pemimpin sementara perusahaan tidak minta profile demikian, ya agak sia-sia juga. Kuncinya mudah: keluarkan diri apa adanya. Istirahat yang cukup dan dalam keadaan fit.

Lagipula tolol betul oknum yang membocorkan hal-hal macam itu.

Comments

Popular Posts