Seribu Kunang-kunang di Manhattan

Berbekal rasa penasaran dan urusan kerjaan sudah kelar, datanglah saya ke Rumah Buku di hari Sabtu malam itu. Di sana akan diadakan pementasan teater Seribu Kunang-kunang di Manhattan yang diadaptasi dari cerita pendeknya Umar Kayam--penulis yang sering dibicarakan kedua teman saya, Andika dan Indra, karena ... ah apalah artinya saya hanya membaca Crayon Sinchan.

Pemikiran saya sederhana: saya ingin tahu seperti apa ceritanya dan seperti apa pementasannya karena saya belum pernah membaca karya penulis yang sering diceritakan kedua teman saya ini.

Yang semula diagendakan pukul setengah delapan, nyatanya baru dimulai pukul delapan kurang sedikit. Duduk di atas rumput beralaskan terpal dan sayup-sayup suara kembang api terdengar di belakang, saya mencoba menikmati pertunjukkannya yang hanya beberapa menit.

Cerita diawali dari Marno dan Jane yang duduk di sofa apartment sambil minum segelas scotch dan martini. Mereka terikat pada perbincangan mengenai masa lalu, misalnya Jane yang terus mengingat suaminya--Tommy, dan Marno yang ingat anak dan istrinya. Jane terus meracau sementara Marno sibuk dengan pikirannya sendiri dan kadang hanya menanggapinya dengan dingin. Adegan berakhir dengan kepergian Marno dari apartment Jane, meninggalkan perempuan itu sendirian.





Seusai pertunjukkan berakhir, kami membahasnya dikit. Saya dan Fadil mendorong Andika untuk mewawancarai pemain atau sutradaranya, tapi ia menolaknya. Tidak ada yang mau ditanyakan--ujarnya. Oh, ini agak aneh--pikir saya.

"Umar Kayam itu penulis kesukaan saya. Ada logika-logika, yang mungkin karena cerita-ceritanya ditulis dengan gaya bahasa Inggris, yang hanya dimiliki olehnya. Wagu--dalam bahasa Jawanya. Ada perasaan sedih yang muncul secara tipis dan tidak bisa direpresentasikan oleh pertunjukkan ini. Misalnya akhir cerita di bukunya dituliskan 'Jane merasa bantalnya basah'. Itu tidak bisa ditunjukkan dalam pertunjukkan seperti ini. Entahlah, saya kurang ngerti kalau masalah adegan buku yang difilmkan," ujar salah satu penonton di Rumah Buku. Kira-kira begitu.

Ada tanggapan lain seperti, "Mereka merespon ruang. Disini ada lemari es, ada dapur, kebetulan sama dengan ceritanya."

"Tapi saya suka kerja keras yang ditunjukkan pemeran wanita untuk memerankan tokoh Jane ini," tanggap teman saya.

Saya dan Fadil tidak bicara banyak, mungkin karena kami belum baca ceritanya. Namun yang pasti, pertunjukkan ini tidak ingin membuat saya membaca cerita aslinya. Berbeda ketika saya nonton teater Nyai Ontosoroh yang diadaptasi dari novelnya Pramoedya Ananta Toer. Walaupun belum sama-sama baca sebelum nonton teaternya, pertunjukkan Nyai Otosoroh membuat saya ingin baca novelnya.

Kau mengerti maksudnya?

Maka saya pinjam kumpulan cerpen Umar Kayam ini. Bukan karena dari pertunjukkan yang telah saya lihat, tapi dari cerita salah satu penonton yang membuat saya ingin tahu seperti apa perasaan-perasaan tipis yang diterima.

Sekali baca. Dua kali baca. Tiga kali baca. Jadi begini: mungkin persepsi tokoh Marno yang saya terima itu berbeda. Marno dalam teater terlihat begitu galak dan dingin, sementara Marno dalam buku terlihat tidak hirau namun masih ada tugas untuk menanggapi racauan Jane. Marno dalam teater tidak berusaha menjaga perasaan Jane, sementara Marno dalam cerita masih berusaha lembut padahal jiwanya sudah tidak ada di tempat Jane saat itu. Tidak terbayang rasa sedihnya Jane ketika ia mencoba menghadirkan sesuatu yang membuat pasangannya senang, namun pada akhirnya ditolak pula.

Bedanya saya membaca setelah nonton pertunjukkannya, bukan kebalikannya. Apa yang sudah terjadi, ya sudahlah. Namun kesalahan pengucapan seperti 'dirimu' menjadi 'diriku' dalam teater itu terkadang menyebalkan.

Pada intinya, saya pernah menonton pertunjukkan yang lebih baik dari ini (dengan sutradara yang sama).

Comments

jd gimana kesan setelah membaca bukunya ni....sama sajakah rasanya seperti menonton teaternya...tak ada kesan yg tertinggal ^_^
Nia Janiar said…
Alhamdulillah bukunya mah banyak kesan yang tertinggal :D
sayah suka pramudia gayanya khas sekali, apalagi yang seri rumah kaca..

nia suka juga nonton theater yak ?
saya mah ga bisa.. pengen pipis mulu bawaannya ..
hahahaha
Nia Janiar said…
nia suka juga nonton theater yak ?
saya mah ga bisa..


sangat kontradiktif.

nia suka JUGA nonton teather.. seolah2 kamu juga suka.. tapi ternyata terusannya 'saya mah gak bisa'

huhuhu..
hahaha.. anomali kata nya kontradiktifkah ,, okeh saya ulangi dengan seperti ini saja..


wah Nia suka sekali dengan menonton theater yak ? saya juga suka, tapi saya ga bisa nonton theater karena saya suka pipis jika menonton hal yang saya suka...

gimana? khas sekali dengan birokrasi negara kita bukan .. hihihihi
mainteater said…
wah, sebelumnya saya berterima kasih karena sudah memberi ulasan pertunjukan Kunang-kunang di manhattan...
saya cuma mau minta izin menggunakan foto2 hasil karya mu buat di pasang di blog mainteater(teater yang mepertunjukan kunang-kunang di manhattan ^_^)...
Nia Janiar said…
Wah, selamat datang. Silahkan.. :)

Popular Posts