Tips-tips Pergi Ke Ujung Genteng

Bukan, bukan genteng di atap rumahmu yang saya maksud. Ujung Genteng yang ada di ujung selatan Jawa Barat dekat Sukabumi dan Pelabuhan Ratu.


Saya pergi ke sana bersama 4 orang teman saya menggunakan mobil pribadi. Hanya membayar bensin sebesar 150.000. Kami berangkat dari Bandung pukul 6 sore (dengan terhambat di sekitaran tol Moh. Toha hingga Kota Baru Parahyangan karena Presiden SBY lewat) dengan estimasi sudah sampai di sana pukul 12 malam. Namun eh namun, entah mengapa karena di jalan pun saya tidur terus, kami sampai pukul setengah empat pagi. Oh ya, pada saat kami di daerah Sukabumi, kabut turun lebat sekali. Jarak pandang mata mungkin hanya berkisar 3 meter tanpa penerangan. Saya mencoba menangkap melalui kamera, namun hanya ini yang didapat.

Kabut itu tebal atau lebat sih?

Kami sudah kontak-kontakan dengan Pondok Adi (tipe Cibuaya dengan dua kamar tidur, kamar mandi, dapur kecil, dan ruang tengah sebesar 300.000 per malam plus buaya). Kami memutuskan untuk tidur disana karena kami lelah karena jalannya yang tidak bagus. Sesampainya di Pondok Adi, ternyata kami harus check out pukul 12.00 siang sementara kami baru masuk pukul 03.30 pagi dengan harga yang penuh! Penjaganya tidak bisa menetapkan harga bagaimana jika kami hanya setengah hari di sana karena Pak Adi-nya sedang ada di Bogor. Merasa rugi, akhirnya kami menyusuri penginapan-penginapan di jajaran sana (ada Pondok Hexa, Dedddy's Losmen, Villa Pak Ujang) dan penuh semua!

Salah seorang penjaga di sana menawarkan kami rumah penduduk yang disewakan. Saat menuju rumah yang dimaksud, rumahnya seolah-olah berada di ujung laut dan jauh dari mana-mana. Dia menawarkan 1 kamar dengan kamar mandi dalam seharga 150.000. Setelah negosiasi, akhirnya kami dapat harga 100.000. Dan saat kami masuk kamar, ada banyak semut, laba-laba, sama kaki seribu! Ini kamar apa kebun binatang?! Saran: sebaiknya bawa garam untuk ditaburkan di pintu masuk, pintu kamar mandi, atau sekeliling tempat tidur agar binatang melata mengerikan itu tidak merayap ke tempat tidur lalu bertengger di tangan kau--seperti yang terjadi pada saya. Hii.

Rumah penduduk. Tampak samping.

Dalam perjalanan lain, saya pernah nginap di rumah penduduk, tapi keadaannya tidak setragis ini. Tidak pula ada semut, apalagi kaki seribu!

Pagi harinya, kami pergi ke pantai yang berada di depan rumah. Wih, pantai disini banyak sekali karang tajamnya. Hati-hati! Terutama tidak ada pasir yang lembut karena pasirnya tertutup dengan pecahan karang. Alhasil kaki saya berdarah-darah.

Starfish? Spiderfish? Apaan sih?

Jika pantai tidak enak buat berenang, foto-fotolah!

Saat kami datang, laut sedang surut sehingga kami bisa jalan agak ke tengah laut. Harus diingat bahwa ombak di laut selatan itu besar karena menghadap samudera. Hati-hati lagi! Oh ya, saat kami akan pergi ke laut, pemilik rumah mengatakan, "Jangan pakai baju merah."

Agak siang, kami ke pantai lain yang lebih selatan dari sebelumnya (ternyata dari rumah kami, ada jalan lagi). Pantai di sana lebih enak buat berenang. Ternyata disana banyak penginapan-penginapan yang lebih murah. Sarannya adalah: ketika sampai disana, kau tidak perlu langsung tergiur dengan pondok-pondok besar yang mungkin akan kau temui di awal perjalanan. Telusuri jalan terus (depan Villa Pak Ujang terus belok kiri), nanti ada rumah di tengah-tengah jalan (itu rumah yang saya tiduri), dari situ masih jalan terus hingga menemui banyak pondokan. Sebaiknya tidak melakukan perjalanan malam karena medannya cukup berat serta kegelapan dan ilalang di kiri dan kanan mungkin akan membuat kau putus asa mencari penginapan.

Suasana jalan di siang hari. Tidak ada lampu jalan jika malam.

Saat makan siang, kami pergi ke Kelapa Condong. Di sana ada warung nasi Mandiri. Saya makan nasi, ikan, dan perkedel kentang plus es teh manis dengan total 14.000. Kalau tidak salahnya nasi, ikan, dan perkedelnya 10.000, jadi apakah es teh manis harganya 4000? You do the math. Kalau mie ayam harganya 5.000, es kelapa harganya 5.000, bakso harganya 5.000. Kalau tidak salah. Apapun yang masuk perut, saya cenderung lupa.

Enakan mie ayam depan kantor saya

Sore harinya kami pergi ke Pangumbahan, tempat penangkaran penyu. Tiket masuknya sekitar 5000 (kalau tidak salah). Berdasarkan info dari penduduk lokal, sore ini akan dilakukan pelepasan penyu. Saat sampai di sana, kami hampir saja terlambat karena sudah banyak orang di pantai Pangumbahan dan para petugas sudah bersiap untuk membagikan penyu-penyu kecil. Dari ujung pantai, kami lari terbirit-birit karena tidak ingin ketinggalan. Eh, ternyata pasir di pantai ini lembut sekali sehingga kalau kau ingin bermain pasir, sebaiknya ke Pangumbahan ini!

"It feels like releasing my own child!" ujar teman saya. Euh.

Mengingat biaya makan di warung nasi lebih mahal, kami memutuskan makan malamnya bakar ikan saja. Kami membeli ikan (harganya lupa, tapi yang pasti murah dan dapat banyak), dibakar sendiri, dan pemilik rumah membuatkan kami nasi liwet dan memberikan kami bumbu-bumbu untuk membakar. Tentunya tidak gratis, tapi tidak malah pula dibandingkan makan di warung nasi.

Setelahnya kami tidur, bangun pagi, pulang menuju Bandung. Sengaja kami melakukan perjalanan pagi karena perjalanan malam itu bosan sekali--terutama medan perjalanannya yang berat. Mungkin bagi yang tidak nyetir, bisa tidur. Tapi suasana ini tidak enak bagi yang nyetir. Saran: sebaiknya melakukan perjalanan siang.

Secara garis besar, pantai di Ujung Genteng dalam skala 1 sampai 5, mungkin rate-nya 3.5. Mungkin karena saya pernah ke tempat yang lebih bagus dari ini. Untuk ke Ujung Genteng, sebaiknya menggunakan motor atau mobil pribadi karena letaknya yang berjauhan dan mau kemana-mana tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kalaupun sewa ojek, biayanya mahal. Mobil yang dipakai sebaiknya mobil yang dibuat untuk medan berundak, berbatu, dan berlumur seperti jeep. Kalau mau, bawa sepeda pun boleh sehingga bisa jalan-jalan di sana menggunakan sepeda.

Selain pantai, di Ujung Genteng banyak air terjun yang indah. Sayangnya kami tidak ke sana. Kalau kau bisa ke sana, tuliskanlah di blog lalu berbagi link-nya pada saya ;)

Saya pernah menulis tentang tips-tips Karimunjawa ala backpacker (http://mynameisnia.com/tips-tips-pergi-ke-karimunjawa/). Silahkan di-cek.

Ini adalah video yang saya buat. Selamat menikmati dan selamat jalan-jalan!






Comments

daniezha said…
mampir ya...

sepertinya seru. pengenlah kesana...
Nia Janiar said…
Halo, Danisa.. seru.. tapi masih banyak tempat yang lebih seru kok. Hehe..
winda said…
saya baru mau kesana :p
thanks untuk tips nyaaa :D beeguna sekali... terutama masalah penginapan dan kamar mandi itu ...
harus bawa garam yaaa...hee :)
Nia Janiar said…
Bener banget! Have fun! :)

Popular Posts