Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2010

Keabadian Romantisme Masa Lalu

Pada awalnya saya menyimak video di atas karena kedua teman saya menautkan video ini di Facebook-nya. Oh, rupanya ini Audrey dan Gamaliel yang sempat heboh di YouTube karena mereka bisa bernyanyi. Saya dengar beberapa lagu, oh, sepertinya lumayan (saya suka mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh orang lain karena seperti melihat sesuatu dengan perspektif yang berbeda). Ah, apalagi, laki-lakinya rupawan.
(tersipu lalu tersapu)
Awalnya pula saya melihat video di atas untuk mendengarkan keindahan suara mereka. Namun ada sesuatu yang menarik selain suara yaitu pada lirik lagu-lagu yang salah kedua dan ketiganya diciptakan oleh Ismail Marzuki. Selama ini saya hanya menganggap lagu-lagunya sebatas lagu lama. Tapi mungkin dengan bantuan komposer yang baik dalam merangkai musik baru, perhatian saya teralih untuk menikmati lagu-lagu ini.
Dari semua lagu, jika dilihat dari syairnya, yang paling saya suka adalah Sepasang Mata Bola:
Hampir malam di Jogya, ketika keretaku tiba. Remang remang cu…

Tidak Suka Dengan Cara Baik

Membaca lapak about me salah satu teman saya yang menyebutkan desperately trying to be different adalah sebuah kalimat yang membuat saya sadar dengan lingkungan sekitar saya bahwa ada beberapa teman-teman saya yang berjuang mati-matian untuk berbeda dari orang lain (mainstream), namun tanpa disadari, mereka berubah menjadi orang yang banyak mencerca dan memaki, sarkas, sinis, dan egosentris, sehingga mereka tidak ada bedanya dengan orang-orang yang ingin berbeda lainnya (anti-mainstream). Ingin disebut keren atau lucu, tapi mereka malah tidak lebih dari sebongkah manusia kasar.
Contoh besar adalah ketika fenomena Twilight terjadi. Banyak orang yang menjelek-jelekkan Twilight karena tidak mau dianggap cheesy. Dimana-mana saya mendengar orang-orang menjelek-jelekkan Twilight, yang membuat saya jengah jua. Padahal, jika tidak suka, ya bilang saja tidak suka, tidak usah diomongkan yang tidak enak selama berjam-jam.
Maksud saya, toh kita belum tentu bisa membuat cerita/film yang lebih baik, …

Dialog Klasik dan Blues dalam Crossroads (1986)

Crossroads adalah sebuah film tentang seorang pemain gitar klasik, Eugene Martone (17), yang terobsesi pada blues dan mengetahui Robert Johnson, seorang pemain blues yang bertalenta, memiliki lagu ke-30 yang hilang. Dari kliping yang ia baca, Martone mengetahui pula bahwa sahabatnya Robert Johnson, Willie Brown, masih hidup dan tinggal di rumah sakit. Mengetahui itu, ia berpura-pura bekerja sebagai pembersih dan berkenalan dengan Willie Brown.
Tujuan Martone menemui Brown adalah untuk mengetahui lagu yang ke-30. Brown mau memberikan asal bisa mengeluarkannya dari rumah sakit itu dan pergi ke Mississippi. Martone setuju, ia mengeluarkan Brown dari rumah sakit dan naik bis menuju sana. Selama di perjalanan, mereka menggelandang hingga sampai ke tujuan.
Selain permainan gitar klasik dan blues yang menarik sepanjang film, ada menarik lainnya yang mungkin bermanfaat bagi dunia kepenulisan: dialog. Dialog antara Martone dan Brown sangatlah menarik, ringkas, namun kesannya dalam. Mendengarnya …

Kadang Kenyataan Itu Pahit Adanya (Klik Pada Gambar)

Permohonan Maaf

Islam adalah agama saya yang saya anut karena turun temurun dari orang tua orang tuanya saya dan saya menjalani ritualnya bertahun-tahun. Saya shalat, saya mengaji, saya puasa, saya berzakat, dan melakukan apa yang diminta agama saya kecuali menutup aurat dan naik haji. Bukan tidak akan melakukan, tapi belum.
Kalau dilihat semenjak kesadaran beragama hingga sekarang, keIslaman saya ini turun naik. Kira-kira grafiknya begini:

Saat saya sekolah, pengetahuan saya tentang Islam sama dengan bolong-bolongnya shalat saya. Islam menyuruh saya shalat lima waktu, tapi saya baru shalat dua atau tiga waktunya. Saat saya kuliah di lingkungan yang religius, ibadah saya termasuk rajin--walaupun saya sempat benci agama saya karena banyak peraturannya. Masa baca Al-Quran saja harus dilagamkan atau dilagukan? Masa melihat mata lawan jenis saja itu tidak boleh? Masa orang-orang mesjid yang saya tanya-tanya tentang Islam malah memandang rendah saya, seolah-olah saya musyrik, lalu minta saya diam dan mengik…

Berhalusinasi di Shutter Island

Dalam rangka nonton hemat, saya nonton Shutter Island (2010). Saat itu saya sendirian dan ambil posisi terdepan. Bukan terdepan di kursi paling depan tapi terdepan dari penonton lainnya. Lalu, saya ambil posisi tengah pula. Betul, saya sedang ingin menguasai keadaan. Ehm.
Sialnya, ini film ngeri sekali. Banyak adegan-adegan yang mengagetkan dan dibuat ngeri. Agak menyesal saya duduk di depan sendirian. Untungnya hampir di tengah cerita, ada sepasang muda-mudi yang duduk di barisan saya--walaupun agak jauh.
Saya akan ceritakan filmnya dari awal hingga akhir. Jika kau tidak mau tahu akhirnya, tidak usah baca saja.
Ceritanya tentang Teddy Daniels dan rekannya, Chuck, pergi ke sebuah pulau yang berisi rumah sakit khusus untuk pasien sakit jiwa dan kriminal bernama Shutter Island. Mereka datang karena ada seorang pasien perempuan melarikan diri dari tempat yang tidak mungkin untuk melarikan diri. Pasien itu membunuh empat orang anaknya, mendudukkannya di kursi meja makan--seolah-olah mereka a…

Inferioritas

Berawal dari hari ini. Tadi siang saya ke Jakarta untuk mengunjungi teman saya. Saat mau pulang, saya salah naik bis. Harusnya tujuan saya ke Senen tapi saya malah ke Harmoni. Waktu itu jam menunjukkan pukul empat sore padahal kereta pulang akan berangkat pukul 16.15. Sudah dicoba dipasrahkan dalam hati, tapi tetap saja terlambat.
Ketika akan diurus oleh costumer service, sialnya server operasi tiket sedang down. Artinya, tiket harus ditulis secara manual dan akan terjadi perebutan kursi di kereta nanti. Saya ditawarkan oleh pegawai kereta pukul 19.00. Ah, sial. Saya sampai di Bandung jam berapa nih. Saya hubungi saudara saya di Jakarta untuk minta di-booking tiket travel. Tapi, syukurlah server sudah bisa beroperasi lagi dan saya malah bisa pulang pukul 17.40.
Saya sampai di Bandung pukul sembilan malam. Keluar dari stasiun, saya mau naik angkutan menuju rumah, anehnya, tidak ada angkutan kota yang saya maksud padahal saya sudah nunggu lama sekali dan hari semakin larut. Supir taksi da…