Berhalusinasi di Shutter Island

Dalam rangka nonton hemat, saya nonton Shutter Island (2010). Saat itu saya sendirian dan ambil posisi terdepan. Bukan terdepan di kursi paling depan tapi terdepan dari penonton lainnya. Lalu, saya ambil posisi tengah pula. Betul, saya sedang ingin menguasai keadaan. Ehm.

Sialnya, ini film ngeri sekali. Banyak adegan-adegan yang mengagetkan dan dibuat ngeri. Agak menyesal saya duduk di depan sendirian. Untungnya hampir di tengah cerita, ada sepasang muda-mudi yang duduk di barisan saya--walaupun agak jauh.

Saya akan ceritakan filmnya dari awal hingga akhir. Jika kau tidak mau tahu akhirnya, tidak usah baca saja.

Ceritanya tentang Teddy Daniels dan rekannya, Chuck, pergi ke sebuah pulau yang berisi rumah sakit khusus untuk pasien sakit jiwa dan kriminal bernama Shutter Island. Mereka datang karena ada seorang pasien perempuan melarikan diri dari tempat yang tidak mungkin untuk melarikan diri. Pasien itu membunuh empat orang anaknya, mendudukkannya di kursi meja makan--seolah-olah mereka adalah boneka hidup.

Dalam pencarian si pasien, tokoh Teddy ini punya masalah sendiri: istrinya terbunuh ketika apartemen-nya kebakaran. Istrinya seringkali muncul di mimpi-mimpinya dan Teddy ini agak sulit untuk melupakannya. Selain itu ia pernah membunuh para tentara di kamp konsentrasi dan melihat banyak mayat yang bergelimpangan. Dari semua mayat, mayat anak perempuan yang paling menarik perhatiannya. Mayat itu selalu muncul dalam mimpinya.


Dalam rumah sakit, selain mencari pasien yang hilang (dan belakangan sudah ditemukan), ia sibuk mencari penjahat yang disinyalir membakar apartemen-nya dan membuat istrinya meninggal. Penjahat itu bernama Edward Laeddis. Selain mencari penjahat, ia mulai mencium gelagat tidak baik di dalam rumah sakit. Ia mendengar orang-orang dioperasi otaknya dan dibenarkan syarafnya melalui mata. Migrain dan mimpi-mimpi buruk yang ia rasakan pun dicurigai berasal dari psikiater yang suka memberinya aspirin dan obat-obat anti migrain. Chuck pun terlihat mati di ujung tebing. Melihat semua ini, keinginannya untuk pergi ke mercusuar--tempat operasi-operasi itu terjadi--semakin meningkat.

Ini dia bagian serunya!

Saat di mercusuar, ia bertemu dengan psikiaternya. Singkat kata, psikiater bilang bahwa semua ini hanya halusinasi Teddy. Ia memang mantan jendral ketentaraan, tapi tidak pernah ada adegan ia pergi ke kamp konsentrasi. Pasien dianggap membunuh empat anak itu hanyalah halusinasinya. Yang benar adalah istrinya yang membunuh keempat anaknya dan Teddy menembak mati istrinya. Laeddis pun tidak pernah ada. Bahkan, Edward Laeddis itu adalah dirinya!

Wuih seru.

Ketika Teddy merasa terpojok bahwa ia harus mengakui dirinya gila, sang psikiater memberikan foto-foto anaknya. Di foto terakhir, ada foto mayat seorang anak perempuan yang diketahui itu adalah foto bungsunya. Wajah yang ia lihat di foto adalah wajah yang sering ia lihat di mimpinya--salah satu wajah mayat di kamp konsentrasi. Selain itupun, ia mengetahui bahwa ia sudah dua tahun berada di rumah sakit itu. Halusinasi itu yang selalu muncul. Lalu bagaimana dengan Chuck? Chuck sendiri adalah seorang psikiater yang berperan sebagai rekan barunya. Ia terus menjaga dan mendampingi Teddy.

Selain sepertinya banyak adegan di layar hijau atau di studio, saya suka film ini. Mengubah paradigma dari normal menjadi tidak normal, nyata menjadi halusinasi, adalah inti ceritanya. Mungkin saya naif, tapi saya sempat terbawa dengan awal cerita dan meyakini bahwa si tokoh Teddy ini dijebak adanya. Ketika mengetahui kenyataannya dan fakta-faktanya, saya ikut menyadari bahwa saya masuk ke halusinasi Teddy.

Kalau masih tidak mengerti juga, ini analogi dari cerita film Shutter Island ini:

Saya adalah mahasiswa psikologi yang mau penelitian di rumah sakit jiwa bersama teman saya. Sesampainya disana, saya diyakinkan oleh psikiaternya bahwa saya hanya pergi sendirian dan tanpa seorang teman. Saya yakin saya tidak sendiri tapi psikiaternya lebih meyakinkan dalam menyakini saya. Ketika saya konfirmasi ke yang lain, orang-orang pun mengakui bahwa saya hanya pergi sendirian. Kemudian saya diyakinkan bahwa pengalaman traumatis yang menyebabkan saya seperti ini. Lagi-lagi saya diyakinkan oleh psikiater dan orang-orang lainnya. Saya mulai sedikit ragu dan percaya.

Pertanyaannya: kenapa saya ragu dan percaya?

Karena seorang ahli yang mengatakannya dan kebanyakan orang mengatakannya. Persepsi akan mudah diterima jika seorang ahli yang mengatakan, lalu normal dan tidak hanyalah masalah mayoritas atau kebanyakan.

Secara keseluruhan, saya sih tidak ada masalah dengan film ini. Namun kedekatannya dengan Inception, membuat Leonardo Di Caprio terlihat terjebak pada peran dan tema yang sama. Namun jika kau suka film-film psikologis seperti saya, bolehlah kau menontonnya.

Comments

Popular Posts