Inferioritas

Berawal dari hari ini. Tadi siang saya ke Jakarta untuk mengunjungi teman saya. Saat mau pulang, saya salah naik bis. Harusnya tujuan saya ke Senen tapi saya malah ke Harmoni. Waktu itu jam menunjukkan pukul empat sore padahal kereta pulang akan berangkat pukul 16.15. Sudah dicoba dipasrahkan dalam hati, tapi tetap saja terlambat.

Ketika akan diurus oleh costumer service, sialnya server operasi tiket sedang down. Artinya, tiket harus ditulis secara manual dan akan terjadi perebutan kursi di kereta nanti. Saya ditawarkan oleh pegawai kereta pukul 19.00. Ah, sial. Saya sampai di Bandung jam berapa nih. Saya hubungi saudara saya di Jakarta untuk minta di-booking tiket travel. Tapi, syukurlah server sudah bisa beroperasi lagi dan saya malah bisa pulang pukul 17.40.

Saya sampai di Bandung pukul sembilan malam. Keluar dari stasiun, saya mau naik angkutan menuju rumah, anehnya, tidak ada angkutan kota yang saya maksud padahal saya sudah nunggu lama sekali dan hari semakin larut. Supir taksi dan ojek kian santer menawarkan jasanya. Ada yang ngomongnya biasa saja dan ada yang sambil berbisik. Tak tahulah, sumbing mungkin mulutnya. Saya semakin takut.

Dalam perjalanan, ibu saya terus menghubungi saya sampai saya berada tidak jauh dari rumah. Ada nada khawatir di suaranya. Ah, saya sudah bikin ibu khawatir. Ini anak perempuan satu-satunya masih di luar rumah di malam hari. Bahkan ibu saya meminta sepupu saya untuk menjemput saya. Saya bilang dengan keras, "Tidak usah! Itu merepotkan!" Ibu saya bilang sepupu saya tidak masalah tapi saya yang bermasalah. Sudahlah, Bu, ini tanggung jawab saya karena saya pulang malam, tidak usah merepotkan orang lain. Biarkan saya usaha dulu sampai batas. Kalau sudah tidak mampu, saya akan minta tolong.

Ibu terus menelepon saya. Sengaja tidak saya angkat.

Sesampainya di rumah, saya melihat ibu saya menunggu kedatangan saya di pintu gerbang. Saya langsung masuk ke dalam tanpa menyapanya. Saudara sepupu saya menyambut saya dan hanya saya jawab sekenanya dan langsung masuk kamar. Mandi air hangat.

Lama-lama saya merasa saya ini brengsek sekali. Saya dikhawatirkan keluarga saya tapi reaksi saya seperti orang tidak tahu terima kasih. Saya coba-coba menganalisis mengapa saya berbuat demikian. Setelahnya saya merasa sedih sekali menyadari rupanya saya marah. Saya marah terhadap diri sendiri akibat inferioritas yang saya miliki sebagai manusia. Sebagai perempuan. Kenapa saya tidak bisa bertindak bebas tanpa harus dikhawatirkan dan pergi tanpa rasa takut diculik, dicuri, dan diperkosa?

Kadang saya berpikir betapa enaknya jika saya menjadi laki-laki. Mungkin saya bisa keliling pulau atau negara tanpa takut hal-hal yang saya sebutkan di atas tadi. Mungkin saya bakal ditodong, tapi laki-laki dewasa jarang diculik dan diperkosa. Mungkin saya bebas pulang malam, jalan kaki tanpa takut jika tidak ada angkutan, tanpa merepotkan keluarga.

Ah, saya harus minta maaf kepada ibu dan sepupu saya karena bukan itu yang saya maksud.

Comments

Anonymous said…
i like it,madam :)

ditambah,tidak masuk dalam daftar gunjingan tetangga karena seorang wanita pulang tengah malam :))

-bolehbaca--

tulisan anda semakin bagus saja...:)
Nia Janiar said…
Awwwhh ... thanks, Wi ;)
semua orang tua juga bakal seperti itu.. saya aja sebagai lelaki juga menerima hal yang sama. kekhawatiran orang tua tak melihat gender anaknya.

inferiotas perlu.. namun kadang malah lebih menyatu dengan ego daripada logika kita sendiri..

sahur ah ..
Nia Janiar said…
Jadi ini sebaiknya gimana dong, Jim?
bersyukur saja sudah sampai ke rumah tanpa kurang apapun..
minta maaf kepada mama jika terlihat "masabodoh"..
kuatkan ke orang tua, jika saya berada di jalan yang benar, tuhan pasti menjaga saya. khawatir memang sifat manusiawi manusia.. dan itu layak..
lain kali sebaknya jangan lagi pulang malam..
Nia Janiar said…
"lain kali sebaknya jangan lagi pulang malam.."


good point. thanks.
eits.. itu masih ada lanjutannya


"lain kali sebaiknya jangan pulang malam, sekalian saja pulang pagi"


*nunggu di jitak mamahna nia.*
hahaha...
Raffaell said…
Nis...
Bagus kalo nyadar gitu, artinya masih suka introspeksi, you know what to do..
M. Lim said…
aku sudah tinggal jauh dari ibu dari usia 17 tahun. sembilan tahun kemudian aku pindah tinggal lagi dengan ibu. Suatu malam aku keluar rumah jalan kaki ke warnet yang cuma 15 mnt jalan kaki, jam 8 malam beliau menelpon "Di mana kamu cepat pulang sudah mau jam 9".

Yeah. Aku tetap bayi kalau di rumah, sampai usia 40 tahun pun.

Wajar kalau kesal. Bagus kalau paham :)
Nia Janiar said…
Terima kasih semuanya untuk tanggapannya.
Anonymous said…
Nia, badan saya kecil dan jangan salah, saya pun pernah digrepe2 di angkot ato di bis. Klopun pulang malam ya paling takut klo ditodong.

"Kadang saya berpikir betapa enaknya jika saya menjadi laki-laki."
Jadi, supaya bs leluasa pulang malam, mungkin bs lbh spesifik: laki-laki tinggi besar, tatoan dan berwajah seperti preman. Soalnya klo jd laki-laki sprti saya, ya sebelas duabelas deh :))

Ari Lie
Nia Janiar said…
Aduh, sorry sudah mendengar berita digrepe2nya. Sama laki2?

Haha, setuju masalah spesifikasinya. Mendapat peran antagonis dalam hidup ini ada untungnya juga :D

Popular Posts