Keabadian Romantisme Masa Lalu



Pada awalnya saya menyimak video di atas karena kedua teman saya menautkan video ini di Facebook-nya. Oh, rupanya ini Audrey dan Gamaliel yang sempat heboh di YouTube karena mereka bisa bernyanyi. Saya dengar beberapa lagu, oh, sepertinya lumayan (saya suka mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh orang lain karena seperti melihat sesuatu dengan perspektif yang berbeda). Ah, apalagi, laki-lakinya rupawan.

(tersipu lalu tersapu)

Awalnya pula saya melihat video di atas untuk mendengarkan keindahan suara mereka. Namun ada sesuatu yang menarik selain suara yaitu pada lirik lagu-lagu yang salah kedua dan ketiganya diciptakan oleh Ismail Marzuki. Selama ini saya hanya menganggap lagu-lagunya sebatas lagu lama. Tapi mungkin dengan bantuan komposer yang baik dalam merangkai musik baru, perhatian saya teralih untuk menikmati lagu-lagu ini.

Dari semua lagu, jika dilihat dari syairnya, yang paling saya suka adalah Sepasang Mata Bola:

Hampir malam di Jogya, ketika keretaku tiba. Remang remang cuaca, terkejut aku tiba tiba. Dua mata memandang seakan akan dia berkata 'lindungi aku pahlawan dari pada sang angkara murka'

Selain lagu Sepasang Mata Bola, nikmatilah lagu-lagu yang lain. Syairnya tidak kalah indahnya. Khusus untuk lagu ini, jika diresapi dan dibayangkan suasananya, ah, gila, ini puitis sekali! Bukan putis yang harus dibuat menangis, tapi melainkan tidak perlu dibuat menangis untuk puitis. Ah. Apalagi yang bisa lebih indah dari percintaan yang dimulai dari makna yang tersampaikan melalui sepasang mata? Lalu bagaimana bisa perjuangan dan perang bisa melatarbelakangi kisah percintaan dengan syair sedemikian kuat, melodius, dan abadi--sebagaimana cinta itu sendiri?

Ismail Marzuki sendiri dikenal sebagai orang yang romantis. Ia dianugrahi kemampuan menciptakan lagu dan kemampuan memberi jiwa pada lagunya satu persatu. Ia meninggal usia 44 tahun dengan romantisme abadi yang dijunjungnya hingga akhir menutup mata.

Comments

Popular Posts