Skip to main content

Permohonan Maaf

Islam adalah agama saya yang saya anut karena turun temurun dari orang tua orang tuanya saya dan saya menjalani ritualnya bertahun-tahun. Saya shalat, saya mengaji, saya puasa, saya berzakat, dan melakukan apa yang diminta agama saya kecuali menutup aurat dan naik haji. Bukan tidak akan melakukan, tapi belum.

Kalau dilihat semenjak kesadaran beragama hingga sekarang, keIslaman saya ini turun naik. Kira-kira grafiknya begini:


Saat saya sekolah, pengetahuan saya tentang Islam sama dengan bolong-bolongnya shalat saya. Islam menyuruh saya shalat lima waktu, tapi saya baru shalat dua atau tiga waktunya. Saat saya kuliah di lingkungan yang religius, ibadah saya termasuk rajin--walaupun saya sempat benci agama saya karena banyak peraturannya. Masa baca Al-Quran saja harus dilagamkan atau dilagukan? Masa melihat mata lawan jenis saja itu tidak boleh? Masa orang-orang mesjid yang saya tanya-tanya tentang Islam malah memandang rendah saya, seolah-olah saya musyrik, lalu minta saya diam dan mengikuti skenario Tuhan? Masa kalau saya tanya kenapa begini kenapa begitu, mereka malah menjawab, "Astagfirullah Nia ... kamu tidak boleh mikir seperti itu!"

Pada saat itu saya merasa agama terlalu mencerahami saya untuk ini itu, melarang saya untuk ini itu. Saya tidak mau menjadi seorang--seperti kata teman saya--fanatik buta. Saya diberi akal oleh Tuhan dan saya menggunakannya untuk memahamiNya. Saya ingin tahu apa yang saya sembah sehingga saya bisa percaya!

Namun setelah pergolakan kereligiusan di awal kuliah berakhir, saya mencapai puncak keagamaan--dalam standar saya--hingga akhir kuliah. Saya loyal terhadap Tuhan saya, saya loyal terhadap jalan menujuNya. Namun sayangnya kualitas keagamaan saya turun lagi. Shalat saya kembali bolong-bolong (asal kau tahu saja, bahkan saya tidak shalat tarawih bulan ini) dan tidak banyak berdzikir. Baru rajin beribadah kalau ada maunya saja, frekuensi sumpah serapah lebih banyak lagi. Sering marah padaNya, merajuk ingin didengarkan dan dikabulkan. Tuhan menjadi partner jual beli: kalau saya banyak berdoa artinya Tuhan harus memberi apa yang saya inginkan.

Manusiawi sekali. Saya bukan malaikat tapi saya juga bukan setan. Saya adalah makhluk yang berada di garis tengah yang bentuknya naik turun. Tapi tolonglah manusia kasta tengah ini kau maafkan segala kesalahan ucapan yang dilontarkan melalui tulisan (jika kau baru hanya tahu via blog atau jejaring maya), ucapan yang dilontarkan lisan, dan segala sikapnya. Karena sungguh saya benar-benar tidak sengaja.

Selamat Idul Fitri 1431H. Mohon maaf lahir dan batin.

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…