Skip to main content

Tidak Suka Dengan Cara Baik

Membaca lapak about me salah satu teman saya yang menyebutkan desperately trying to be different adalah sebuah kalimat yang membuat saya sadar dengan lingkungan sekitar saya bahwa ada beberapa teman-teman saya yang berjuang mati-matian untuk berbeda dari orang lain (mainstream), namun tanpa disadari, mereka berubah menjadi orang yang banyak mencerca dan memaki, sarkas, sinis, dan egosentris, sehingga mereka tidak ada bedanya dengan orang-orang yang ingin berbeda lainnya (anti-mainstream). Ingin disebut keren atau lucu, tapi mereka malah tidak lebih dari sebongkah manusia kasar.

Contoh besar adalah ketika fenomena Twilight terjadi. Banyak orang yang menjelek-jelekkan Twilight karena tidak mau dianggap cheesy. Dimana-mana saya mendengar orang-orang menjelek-jelekkan Twilight, yang membuat saya jengah jua. Padahal, jika tidak suka, ya bilang saja tidak suka, tidak usah diomongkan yang tidak enak selama berjam-jam.

Maksud saya, toh kita belum tentu bisa membuat cerita/film yang lebih baik, betul?

Tadi sore, saat pertemuan klab menulis dengan tema film, Farida menuliskan ketidaksukaannya pada film Indonesia dengan nada satire. Saya menyarankan dia untuk merubah ketidaksukaannya dengan cara lain tanpa perlu satire atau menjelek-jelekkan sesuatu. Rupanya ini menjadi perdebatan panjang karena memang tujuan ia menulis adalah untuk hiburan saja. Tapi--mungkin saya yang sedang agak jengah dengan tulisan-tulisan seperti itu--saya tetap mengeluarkan argumen bahwa untuk menunjukkan ketidaksukaan itu ada cara yang lebih sophisticated (istilah Dani) ketimbang menyindir.

Saya mencontohkan tulisan Andika yang dimuat di webzine komunitas film di Bandung (klik sini). Teman saya tidak menyukai pertunjukkan teater yang dilihatnya karena hasilnya begitu jauh dengan naskah asli yang diadaptasi. Ketimbang berkata nyinyir, di akhir review-nya ia hanya menuliskan: Sampai di sini penonton pun mafhum, mengadaptasi “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” bukan perkara mudah. -- yang menurut saya sangat representatif untuk menunjukkan ketidaksukaan tanpa harus menjelek-jelekkan.

Menurut Rizal, review di atas itu tidak jelas apakah penulis suka atau tidak dengan pertunjukkan. Ia lebih suka dengan tulisan yang jelas menunjukkan 'suka' dan 'tidak'. Ya, memang betul, saya pun menyukai tulisan yang tidak berbelit-belit, tapi saya tetap tidak menyukai tulisan dengan konten-konten yang ada di atas. Verbal abuse--kalau kata Hakmer.

Tidak suka ya bilang saja tidak suka, tanpa harus menjelek-jelekkan hal lain demi menunjukkan diri berbeda (lebih pintar, lebih punya selera, dan lainnya). Ada juga lho teman saya yang lain yang out-of-the-box dengan cara yang positif (klik sini).

Saya sendiri hanya ingin bisa menulis dengan lebih bijak dan objektif tanpa judgement. Lagipula ini selera saya secara keseluruhan, bukan menunjuk seseorang atau pribadi tertentu--terutama pada teman saya yang menulis ketidaksukaannya pada film Indonesia karena sungguh dia adalah penulis yang baik. Ah, tapi kalau berbicara selera atau target market, seolah-olah diskusi menjadi buntu.


(Farida, Rizal, Hakmer, Dani adalah nama teman-teman saya yang terlibat dalam diskusi di klab nulis)

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…