Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2010

Ruang Kecil di Balik Rerusuk

Dalam beberapa hari ini, saya terserang badai hormon. Badai ini sangat mengerikan karena bisa membuat hal-hal kecil menjadi besar, sederhana menjadi rumit, kesenangan sehari dibalas dengan galau berhari-hari. Badai ini menyerang semua aspek: perumahan, pertemanan, dan pekerjaan. Namun badai ini memberikan keuntungan juga dimana tiba-tiba saya mendapatkan sebuah insight untuk menganggu teman kantor dengan pertanyaan-pertanyaan random, "Eh, perasaan itu letaknya dimana sih? Kenapa ya cincin kawin orang Indonesia itu terletak di tangan kanan? Kenapa pula orang itu megang dadanya sebagai representasi rasa sakit?"
Walaupun pernah kuliah biopsikologi dan psikologi faal yang konon membahas otak dan syaraf manusia, saya pun bukan tipikal anak IPA yang akan mudah paham struktur-struktur itu lalu mendapatkan nilai bagus di dalamnya. Sepertinya saya pernah mendapatkan nilai D untuk UTS, lalu saya berkesempatan memperbaiknya di UAS untuk mendobrak nilai saya dan saya belajar mati-matian …

Burhan

Selepas panen kacang merah yang menghasilkan pemasukkan yang cukup bagi Burhan pergi ke ibukota, maka berangkatlah ia pada suatu malam dengan menggunakan kereta. Empat jam berikutnya, ia sudah di sana, dalam terminal hiruk pikuk dan banyak asap knalpot kendaraan bermotor. Jam di stasiun menunjukkan pukul 11.
Tidak ada motivasi lain yang mendorong Burhan pergi ke ibukota selain mencari kerja di usia menuju dewasa: 20 tahun. Walau disana tidak ada kenalan atau sanak keluarga yang bisa ia tumpangi atau hubungi jika ada hal yang darurat. Dan masalahnya, saat itu Stasiun Gambir tidak seperti biasa karena cepat sekali lengangnya semenjak orang-orang turun dari kereta. Informasi tempat penginapan pun tidak ia ketahui.
Dilihatnya oleh Burhan seorang perempuan setengah baya yang sedang membereskan dagangannya.
“Permisi, Bu,” tanya Burhan sopan, sebagaimana yang diajarkan orang tuanya.
“Ya, Dek?!” Ibu membalas ketus.
“Mau tanya, kalau penginapan daerah sini dekatnya daerah mana?”
“Ndak ada!”
Selama ib…

Gajayana

Gajayana menembus pekat malam tanah Jawa. Ketika ia lewat, udara sekelilingnya terpecah menjadi jutaan partikel yang berkelebat hebat bagi siapapun yang merasakannya. Ketenangan menjadi hal yang mudah mencabik. Kakinya panas, beradu berputar di atas jalanan besi yang berpasangan. Gajayana adalah rangkaian besi besar yang membawa manusia diam-diam dalam pekat malam.
Ketika ia masih muda dan mengkilap, manusia menumpakinya dengan suka cita. Mereka juga menggantungkan sebuah harapan perubahan nasib di langit-langit Gajayana. Ia banyak mendengar kesenangan, amarah, dan keluh kesah. Ia dipuji-puji banyak membawa perubahan dan mendekatkan sebuah tali maya manusia yang dulunya berjauhan.
Tanah Jawa sudah ia lalui ribuan kali. Hingga kini, saat dimana ia melaju lamat-lamat dengan suara ringkihan besi tua yang menipis di sela-sela sambungannya. Hingga kini, saat si tua tersandung di atas sambungan jejala besi, menumpahkan dirinya ke sisi kiri, membuat manusia berteriak, dan memohon untuk tidak m…

Aurora

(Tulisan di bawah ini adalah lanjutan dari Kain Malam di http://mynameisnia.blogspot.com/2009/07/kain-malam.html, silahkan berkunjung dulu ke sana.)
Tadi siang hingga sore hujan turun deras sekali. Langitnya gelap dan udaranya dingin. Setelah sabar menunggu reda dan matahari baru terlelap, aku menggotong kursi plastik ke tempat jemuran, duduk, dan menghirup bebauan senikmat-nikmatnya. Hmmmm ... aaahh ... aku suka bau sesudah hujan.
Tiba-tiba bau minyak menusuk hidungku. Seketika baunya membuatku pusing. Aku mencari sumber bau hingga kutengadahkan kepala, kulihat Dia sedang membawa palet yang sangat besar. Dengan serius, ia menggoreskan cat-cat yang ada di atas palet ke langit malam.
"Hei, ingat aku?"
Ia menghentikan pekerjaanNya dan menatap makhluk kecil yang masih berbalut pakaian kerja di bawahnya. Ia sedikit kaget lalu kulihat matanya berbinar-binar. Ia berkata, "Sudah lama tidak bertemu ya? Kemana saja?"
Aku tertawa geli melihat ekspresi muka kagetNya. Saat mendeng…

Berangkat Dari Ketiadaan

Tulisan ini terinspirasi dari buku Kisah Peta Columbus karya Gerry Bailey dan Karen Foster. Columbus lahir di kota pelabuhan Genoa yang sibuk, di sebelah utara Italia, tahun 1451. Berbekal jumlah awak yang hanya 90 orang dan kapal kecil dengan pertimbangan kapal kecil akan mudah menyisir pantai, memasuki daerah yang penuh karang, dan mudah dibawa angin, ia adalah orang pertama yang menemukan benua Amerika.
Rupanya sulit sekali mencari awak kapal karena tidak ada orang yang mau berlayar ke tempat yang tidak diketahui selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Saking jarangnya, sampai-sampai Raja dan Ratu memberikan kebebasan kepada narapidana yang mau ikut. Itupun hanya menghasilkan empat orang narapidana yang rela.
Tentunya pada saat itu belum ada jam. Ia hanya menggunakan matahari sebagai jam. Selain itu, sepenuhnya ia bergantung pada angin, ombak, dan bintang sebagai penentu arah. Di kapal pun nasibnya tidak baik: makanan membusuk, air pun ditumbuhi lumut. Namun dengan segala ketia…

Keramas

Berawal dari pembicaraan mengenai klinik kecantikan, salah satu teman saya menyarankan kepada kami--dua perempuan yang sedang jadi pemirsanya--untuk tidak datang ke klinik abal-abal karena banyak dokter umum yang berkedok dokter spesialis kulit hanya karena mereka pernah ikut kursus kecantikan dan dapat sertifikat.
"Eh, ada yang rontok gak rambutnya?" tanya saya di luar konten. Sesungguhnya tidak juga di luar konten karena kulit itu 'kan tidak melulu wajah, tangan, kaki, dan lainnya, tapi tempat bersarangnya akar rambut pun namanya kulit.
"Enggak. Tapi gue ketombean. Tapi semenjak gue pakai Selsun, ketombe gue hilang! Tapi secara mahal, ya pantes deh kalau bagus," ujarnya sambil membetulkan kerudung. Dia pakai jilbab.
"Ketombean? Lu tiap berapa hari keramas? Gue setiap hari," ujar saya dengan catatan: saya tidak ketombean.
"Seminggu sekali."
"Ah, serius lo?!"
"Iya. Biasanya di hari Minggu, pas gue beres-beres."
Oh, para manusia …

Lepas

Kedua orang tua saya masih ada di dunia. Kematian yang paling menyakitkan yang pernah saya alami dan menimpa orang terdekat adalah kematian kakak tertua ibu saya. Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, ingat sekali saat saya masih kelas empat. Itu adalah satu-satunya kematian yang membuat saya menangis setulus-tulusnya, yang menyesakkan dan mengguncang kedua bahu saya sehebat-hebatnya, bukan nangis pura-pura atau ingin masuk ke dalam lingkungan duka saja.
Tidak terbayang jika kehilangan paling dekat karena saya belum pernah merasakan. Mungkin hati ini rasanya seperti dijejali ribuan jarum, lalu lama kelamaan waktu membuat kita lebih bijak sehingga kita baru bisa rela. Sepertinya, karena Tuhan tahu sakitnya ditinggalkan--untuk melatih manusia belajar melepaskan di hari nanti--ia sengaja membuat kejadian-kejadian yang membuat manusia kehilangan hal-hal kecil misalnya hilang uang, hilang barang kesayangan, hilang seseorang.
Bukan, bukan berarti orang itu ke alam baka, tapi kual…

Bandung Dalam Tiga Hari

Weekend kemarin ini saya melakukan aksi marathon. Bukan lari, tapi mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di Bandung. Sejujurnya, sepulang kerja di hari Jumat, saya merasa capek. Tapi karena weekend adalah hari yang saya tunggu-tunggu, saya pikir tidak masalah jika menghabiskan energi saya untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan.
Hari Jumat malam, saya menghadiri acara Classical Guitar Fiesta di CCF Bandung bersama teman-teman saya. Mungkin diisi oleh 15 pemain gitar di sana. Dari semua pemain, saya paling menyukai permainan Agustinus Dennis Morgan Permana dan Caessario Toga Sakti Muda Perkasa. Menurut saya, mereka gila. Gila dalam artian bukan bawa sampah atau telanjang bulat kemana-mana, tapi mainnya lancar dan mantap sekali. Bahkan, menurut saya, penampilan mereka lebih mengungguli ketimbang bintang tamunya sendiri, Phoa Tjun Jit, yang mungkin membawa anti-klimaks di pertunjukkan malam itu.
Salah satu pemain. Lupa namanya.
Phoa Tjun Jit mungkin baik dan rapih dalam teknik bermain gita…

Angsana

Love-hate relationship mungkin telah tumbuh di depan rumahku dari aku kecil hingga sekarang. Hingga beberapa hari yang lalu, lebih tepatnya. Baru kusadari ada hubungan seperti itu ketika tanah berada di kedua tanganku dan mengisahkan hal ini:
Angsana adalah makhluk yang dicintai sepenuh hati oleh tanah. Empat belas tahun mereka hidup bersama dalam ikatan harfiah yaitu akar Angsana mengikat tanah kuat-kuat. Walaupun tanah tidak bilang terus terang, setidaknya itu yang kutangkap.
“Lepasin aku dong! Bosan sama kamu terus!” ujar tanah kepada Angsana di suatu hari.
“Enggak bisa! Aku butuh kamu supaya aku hidup! Aku ini siklus untuk manusia pula. Jangan harap aku akan memaklumi ketidaktahuanmu,” jawab Angsana agak kasar.
“Kamu selalu begini, menyuruh aku tinggal karena kamu butuh tapi aku enggak pernah diperlakukan baik! Kamu selalu menjejali aku dengan pengetahuan dunia luar dan menganggap aku tidak pernah tahu apa-apa. Kamu enggak pernah mau dengar tentang dunia bawah!” ujar tanah kesal. Dike…