Angsana

Love-hate relationship mungkin telah tumbuh di depan rumahku dari aku kecil hingga sekarang. Hingga beberapa hari yang lalu, lebih tepatnya. Baru kusadari ada hubungan seperti itu ketika tanah berada di kedua tanganku dan mengisahkan hal ini:

Angsana adalah makhluk yang dicintai sepenuh hati oleh tanah. Empat belas tahun mereka hidup bersama dalam ikatan harfiah yaitu akar Angsana mengikat tanah kuat-kuat. Walaupun tanah tidak bilang terus terang, setidaknya itu yang kutangkap.

“Lepasin aku dong! Bosan sama kamu terus!” ujar tanah kepada Angsana di suatu hari.

“Enggak bisa! Aku butuh kamu supaya aku hidup! Aku ini siklus untuk manusia pula. Jangan harap aku akan memaklumi ketidaktahuanmu,” jawab Angsana agak kasar.

“Kamu selalu begini, menyuruh aku tinggal karena kamu butuh tapi aku enggak pernah diperlakukan baik! Kamu selalu menjejali aku dengan pengetahuan dunia luar dan menganggap aku tidak pernah tahu apa-apa. Kamu enggak pernah mau dengar tentang dunia bawah!” ujar tanah kesal. Dikeluarkan semua yang dirasakan selama belasan tahun. Segera tanah menjadi padat sehingga hanya menyisakan sedikit rongga bernafas untuk akar Angsana. Tanah mulai menangis.

“Ah, kamu terlalu cengeng. Terlalu sensitif. Bukan aku saja yang butuh kamu, tapi kamu juga butuh aku. Kalau tidak ada aku, kamu akan terburai dan berpencar terbawa air karena tidak ada yang mencengkram. Paham?”

Tanah tidak terima. Kesetiaannya yang selama ini ia pertanyakan rupanya mencapai puncak pembenaran bahwa seharusnya ia meninggalkan Angsana. Tanah menggeliat, minta dilepaskan. Namun Angsana tetap tidak mau melepaskan. Dengan tersedu-sedu, tanah semakin padat, menyakiti Angsana tanpa sengaja.

“Oke, oke, aku minta maaf, oke? Aku pikir kamu enggak akan masalah jika aku menceritakan pengetahuanku. Rupanya aku terlihat sok pintar ya?”

“Juga terlalu menceramahi, selalu ingin benar.”

“Iya, maaf ya,” ujar Angsana sedikit meringis kesakitan, udaranya tercekat, beberapa daun mulai berwana cokelat. “Aku cuma pengen kamu ada di sini. Aku enggak mau kamu keseret air hingga akhirnya bermuara di sungai sampai lupa rasanya kering. Maaf ya. Kalau mau pergi, silahkan.”

Cengkramannya mengendur, daun-daunnya berguguran. Tiupan angin hanya mempercepat proses kejatuhan. Angsana terlihat layu dari sebelumnya. Ditantang seperti itu membuat tanah terdiam. Setelah dipikir, ia tidak tahu pula mau pergi kemana. Perlu waktu bagi tanah untuk memaafkan. Agaknya kekhilafan Angsana yang terjadi belasan tahun cukup menorehkan luka di tanah. Ia membiarkan dirinya lembab.

Terlihat betul usaha Angsana mendekati tanah. Ia mencoba lebih lembut, lebih mengerti, dan mencoba mendengar kisah dunia bawah, namun terkadang tanah hanya menjawab sekenanya.

“Kamu perlu waktu untuk sembuh ya?” tanya Angsana.

“Enggak. Waktu enggak bisa nyembuhin aku. Waktu hanya bisa bikin aku mengerti dan bijaksana. Tapi aku sepertinya butuh sedikit lebih lama.”

Angsana mencoba memahami sementara tanah masih mempertahankan kelembabannya. Ranting Angsana mulai berjatuhan menuju aspal. Satu diantaranya hampir menimpa manusia.

Hingga pada suatu siang yang terik, segerombolan manusia datang. Dengan sebuah mobil besar, manusia-manusia berbaju baju kuning itu memegang dua gergaji mesin di tangannya. Lalu dipanjatnya Angsana, diikatkan tali temali, lalu terdengar gergaji menderu. Ranting demi ranting berjatuhan. Tanah segera menghapus lembabnya, meminta Angasana menghisap udara sebanyak-banyaknya.

“Ini karena aku ya? Ini karena aku yaa? Karena ketidakdewasaanku, kamu jadi layu.” Dengan gesit tanah menyeka airnya.

Angsana diam saja, ia tidak berkata-kata. Kelayuannya seolah-olah berkata ‘mungkin memang aku yang sudah tua’.

“Maafin aku ya … maafin aku.” Tanah tak hentinya menangis, yang tanpa disadari membuat dirinya semakin lembab, hingga terasa jeratan akar tercerabut utuh darinya. Sebagian dari tanah terbawa, sebagian lagi tinggal di dalam trotoar.

Hingga kutemukan tanah di depan rumah padat sekali. Setelah bercerita, dari tangan, kuletakkan kembali ke dalam trotoar. Kuucapkan bela sungkawa kepada Angsana karena—tidak hanya tanah—tapi aku juga kehilangan.

Berhari-hari tanah bermuram durja. Hingga ia mendengar beberapa langkah berat, mengetuk-ngetuk trotoar yang berada di atasnya, menggali, dan menjejalkan sesuatu ke dalam dirinya. Sebuah akar baru. Saat bertemu tanah, dengan suara kekanak-kanakkan, akar itu berkata, “Halo, aku Damar.”


[Tulisan ini dibuat sebagai bentuk terima kasih terhadap pemerintah kota yang sudah menanam kembali pohon di sekitaran Taman Pramuka.]

Comments

Anonymous said…
keren. kirimin juga ke pemerintah/koran dong biar apresiasi ini dibaca juga sama pemkot. Kasian, masih jarang ada yang mengapresiasi pemkot kita.
Nia Janiar said…
Terima kasih, siapapun di atas. Bolehlah, dikirim juga.
Sundea said…
Iya, like it, Ni =)

Tapi gua sebenernya nggak suka sama Angsana. Namanya bagus, tapi dia intimidatif sekali keliatannya ...
Dini. A said…
Nia, bagus banget.
Aku suka percakapannya. Emosinya sangat terasa.
Terkadang ada yang tidak terungkapkan oleh tanah, pohon, dan hal2 lainnya karena mereka diam. Dan penulislah yg menangkap lalu menyampaikannya pada dunia. :)
Nia Janiar said…
Ah, Dini, terima kasih sekali.

Popular Posts