Skip to main content

Aurora

(Tulisan di bawah ini adalah lanjutan dari Kain Malam di http://mynameisnia.blogspot.com/2009/07/kain-malam.html, silahkan berkunjung dulu ke sana.)

Tadi siang hingga sore hujan turun deras sekali. Langitnya gelap dan udaranya dingin. Setelah sabar menunggu reda dan matahari baru terlelap, aku menggotong kursi plastik ke tempat jemuran, duduk, dan menghirup bebauan senikmat-nikmatnya. Hmmmm ... aaahh ... aku suka bau sesudah hujan.

Tiba-tiba bau minyak menusuk hidungku. Seketika baunya membuatku pusing. Aku mencari sumber bau hingga kutengadahkan kepala, kulihat Dia sedang membawa palet yang sangat besar. Dengan serius, ia menggoreskan cat-cat yang ada di atas palet ke langit malam.

"Hei, ingat aku?"

Ia menghentikan pekerjaanNya dan menatap makhluk kecil yang masih berbalut pakaian kerja di bawahnya. Ia sedikit kaget lalu kulihat matanya berbinar-binar. Ia berkata, "Sudah lama tidak bertemu ya? Kemana saja?"

Aku tertawa geli melihat ekspresi muka kagetNya. Saat mendengar perkataannya, aku hanya mengangkat bahu sambil berujar, "Entahlah. Agak malas saja."

Ia menatapku kecewa.

"Aku sibuk. Dan, hmmm ... sepertinya manusia perlu waktu untuk jeda dari aktivitas yang sangat rutin. Tapi buktinya aku kembali."

MataNya semakin menunjukkan rasa kecewa. Sepertinya Ia tidak suka dengan gaya ceramahku. Kukira Ia akan marah atau kesal, tapi Ia hanya tersenyum lalu meneruskan kegiatanNya. Aku pikir Ia maklum.

Sejauh-jauhnya pergi, aku pasti akan ke sini -- batinku dalam hati.

"Aku akan selalu dengan senang hati menyambut," ujarnya sambil melukis. Aku termanggu.

Udara dingin di atas jemuran membelai lembut. Dinginnya seolah-olah membawa perasaan-perasaan sendu dari segala penjuru. Dibawa jauh-jauh agar si pemiliknya senang, lalu perasaan dibuang entah dimana.

"Kau lagi apa?" tanyaku.

"Melukis."

"Hobi?"

"Ah, hanya iseng-iseng saja."

"Tapi kayaknya Kau berbakat ya? Bagus soalnya."

"Ah, enggak. Aku hanya mengisi waktu luang," ujarNya sambil melihatku. Aku tertegun. Bagaimana Ia yang akbar memiliki waktu luang sementara aku hanya makhluk biasa ini mengaku diri selalu sibuk.

Ia menggurat sebuah warna hijau dari ujung barat hingga ujung timur. Guratannya berpendar, membuat ilusi sebuah jalan maya menuju sesuatu. Sesuatu yang mungkin ingin aku tuju. Ia memberikan sebuah imaji semesta yang jarang kulihat, Ia memperlihatkan salah satu karya kecilnya.

Sementara aku sedang menikmati pemandangan di depan mata, kudengar orang-orang rumah yang ada di bawah sedang saling ribut dan saling berkata,"Allahu akbar! Ini gejala alam! Ini pasti salah satu pertanda dari Tuhan!"

"Memangnya Kau mau memberi tahu sesuatu?" Aku terkekeh.

"Padahal Aku tadi hanya iseng-iseng, ya?" Ia tertawa kecil. Aku merasa ia menertawakan orang-orang yang ribut yang ada dibawahnya. Sementara itu aku masih duduk di kursi plastik dan menikmati lukisannya.

"Sudah, kamu mandi dan ganti baju sana. Baumu sampai sini."

Aku tersenyum kemudian berkata, "Biar aku menikmati sebentar lagi."


Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…