Berangkat Dari Ketiadaan

Tulisan ini terinspirasi dari buku Kisah Peta Columbus karya Gerry Bailey dan Karen Foster. Columbus lahir di kota pelabuhan Genoa yang sibuk, di sebelah utara Italia, tahun 1451. Berbekal jumlah awak yang hanya 90 orang dan kapal kecil dengan pertimbangan kapal kecil akan mudah menyisir pantai, memasuki daerah yang penuh karang, dan mudah dibawa angin, ia adalah orang pertama yang menemukan benua Amerika.

Rupanya sulit sekali mencari awak kapal karena tidak ada orang yang mau berlayar ke tempat yang tidak diketahui selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Saking jarangnya, sampai-sampai Raja dan Ratu memberikan kebebasan kepada narapidana yang mau ikut. Itupun hanya menghasilkan empat orang narapidana yang rela.

Tentunya pada saat itu belum ada jam. Ia hanya menggunakan matahari sebagai jam. Selain itu, sepenuhnya ia bergantung pada angin, ombak, dan bintang sebagai penentu arah. Di kapal pun nasibnya tidak baik: makanan membusuk, air pun ditumbuhi lumut. Namun dengan segala ketiadaan, Columbus menciptakan sebuah sejarah.

Ada beberapa contoh lain dimana orang sukses karena mereka berangkat dari ketiadaan. Misalnya Jepang yang hanya memiliki 12% dari lahannya yang bisa dijadikan pertanian dan kurang mujur dalam sumber daya alam, mereka mengambil sumber daya alam dari negara lain dan mengolahnya di negara sendiri (industri) dan mereka berhasil. Sepertinya sumber daya manusia lebih penting ketimbang sumber daya alam itu sendiri!

Mungkin pemahaman yang saya dapat dari cerita Columbus dan Jepang adalah tidak apa-apa jika ketiadaan itu sifatnya eksternal dan asal tidak berasal dari dalam diri. Ketiadaan dari dalam diri itu membuat mati. Dan kadang keberadaan secara fisik mungkin cenderung membuat manusia termanjakan sehingga malah menghasilkan ketiadaan itu sendiri (walaupun ada juga yang sukses). Bukan berarti yang berlimpah bagus pula dan bukan berarti kekurangan itu buruk pula.

Mengerti maksudnya?

Comments

Syarif Maulana said…
Tapi kaum sufi itu, meniadakan dirinya sendiri dulu, untuk kemudian mencapai derajat makrifat dan mencapai Tuhannya. Ini nyambung ga sih sama tulisan?? hehe
Nia Janiar said…
Nah, nyambung, Rif, karena terkait paragraf terakhir. Tapi tolong jelaskan. Hehe.

Popular Posts