Burhan

Selepas panen kacang merah yang menghasilkan pemasukkan yang cukup bagi Burhan pergi ke ibukota, maka berangkatlah ia pada suatu malam dengan menggunakan kereta. Empat jam berikutnya, ia sudah di sana, dalam terminal hiruk pikuk dan banyak asap knalpot kendaraan bermotor. Jam di stasiun menunjukkan pukul 11.

Tidak ada motivasi lain yang mendorong Burhan pergi ke ibukota selain mencari kerja di usia menuju dewasa: 20 tahun. Walau disana tidak ada kenalan atau sanak keluarga yang bisa ia tumpangi atau hubungi jika ada hal yang darurat. Dan masalahnya, saat itu Stasiun Gambir tidak seperti biasa karena cepat sekali lengangnya semenjak orang-orang turun dari kereta. Informasi tempat penginapan pun tidak ia ketahui.

Dilihatnya oleh Burhan seorang perempuan setengah baya yang sedang membereskan dagangannya.

“Permisi, Bu,” tanya Burhan sopan, sebagaimana yang diajarkan orang tuanya.

“Ya, Dek?!” Ibu membalas ketus.

“Mau tanya, kalau penginapan daerah sini dekatnya daerah mana?”

“Ndak ada!”

Selama ibunya beres-beres, Burhan hanya melihat. Ibunya yang sesekali mencuri pandang ke pemuda yang terus melihatnya itu menangkap kegelisahan di mata pemuda tersebut.

“Kamu itu mau kemana toh, Dek?” tanya ibu yang nadanya terdengar melunak di telinga Burhan.

“Mau cari kerja.”

“Sudah ada kenalan di Jakarta?”

Burhan menggeleng.

“Mau kerja apa?”

“Apa saja asal halal.”

Perempuan itu menghela nafas panjang. Sorot matanya kian melunak. “Yo weis, inap dulu di rumah saya. Mau? Harganya 15rb/hari. Bagaimana?”

Burhan mengiyakan. Setidaknya bekal panen kacang merah itu cukup untuk beberapa hari di rumah ibu sambil mencari kerja.

Setelah menunggu ibu yang memakai selendang batik untuk membopong dagangannya itu selesai , mereka berjalan menyusuri lorong Gambir yang berwarna hijau. Taksi-taksi mulai beranjak pergi.

“Ibu sudah lama di Jakarta? Kalau dari logatnya, ibu sepertinya bukan orang sini?”

“Wah, ya aku ini dari remaja. Dari perawan!”

“Dari perawan jualan terus di Gambir?” tanya Burhan. Agak naïf.

“Ya endak, toh. Saya ini kerjanya macam-macam. Jadi pelayan rumah makan ya pernah, jadi pegawai pabrik, kerja di rumah bordil, sampai jual kue seperti ini.”

Mereka terus berjalan sampai pedalaman Kwitang. Di balik gemerlap lampu gedung dan jalan yang ia lihat sepanjang jalan Jakarta, rupanya ada sebuah kawasan yang mirip dengan kampungnya.

Dilihatnya sebuah rumah 12x12 meter yang terbuat dari tripleks yang jauh lebih buruk dari rumahnya. Lingkungannya tidak bersih dan menimbulkan bau tidak sedap. Dahi Burhan mengerenyit.

“Anggap rumah sendiri, Dek. Ada anak dan suami saya. Tapi besok pagi juga mereka harus memacul di kebon kawi.”

Dibukanya pintu rumah. Dilihatnya ruangan-ruangan kumuh yang hanya disekat gordyn. Lampunya temaram berwarna kuning. Kasur lembab ia tiduri. Burhan sedikit takut, tapi ia harus berani bermimpi.

(Ini adalah draft pertama dari latihan menulis di Reading Lights Writer's Circle. Simak informasinya di http://rlwriterscircle.blogspot.com/2010/10/berbagai-rasa-dari-tiga-kata.html)

Comments

Sundea said…
Pas di awal baca dari awal, meskipun si ibu banyak cerita yang sedih2 gue emosinya tenang-tenang aja. Yang gong endingnya. Ngaitin tidur dan keberanian bermimpi, terutama setelah Burhan dapet gambaran Jakarta dan gimana orang yang bertaun-taun tinggal di sana.

Nice, Ni, as always =)
Nia Janiar said…
Makasih, Deaaa..

Popular Posts