Keramas

Berawal dari pembicaraan mengenai klinik kecantikan, salah satu teman saya menyarankan kepada kami--dua perempuan yang sedang jadi pemirsanya--untuk tidak datang ke klinik abal-abal karena banyak dokter umum yang berkedok dokter spesialis kulit hanya karena mereka pernah ikut kursus kecantikan dan dapat sertifikat.

"Eh, ada yang rontok gak rambutnya?" tanya saya di luar konten. Sesungguhnya tidak juga di luar konten karena kulit itu 'kan tidak melulu wajah, tangan, kaki, dan lainnya, tapi tempat bersarangnya akar rambut pun namanya kulit.

"Enggak. Tapi gue ketombean. Tapi semenjak gue pakai Selsun, ketombe gue hilang! Tapi secara mahal, ya pantes deh kalau bagus," ujarnya sambil membetulkan kerudung. Dia pakai jilbab.

"Ketombean? Lu tiap berapa hari keramas? Gue setiap hari," ujar saya dengan catatan: saya tidak ketombean.

"Seminggu sekali."

"Ah, serius lo?!"

"Iya. Biasanya di hari Minggu, pas gue beres-beres."

Oh, para manusia beradab dan mencintai kebersihan, bisakah engkau bayangkan bagaimana keadaan rambut seseorang jika hanya dikeramas satu minggu sekali?

"Emang rambut lo enggak lepek?" tanya saya tidak yakin.

"Rambut gue mah enggak lepek!"

"Tapi tetep aja SEMINGGU SEKALI!"

Orang yang tadi memulai pembicaraan tentang klinik kecantikan itu mengamini teman saya yang keramas seminggu sekali ini dengan berkata, "Bandung itu dingin, jadi enggak apa-apa."

"Aah, jangan bilang elo keramas seminggu sekali juga?" tanya saya menuduh.

"Enggak kok. Gue keramas seminggu dua kali!" ujarnya diiringi dengan anggukan keyakinan si pemilik kepala seminggu sekali.

Saya merasa jadi tidak normal karena sudah membuang-buang sampo dan air. Bukankah normal itu hanya masalah siapa yang lebih banyak?


Mudah-mudahan mereka tidak mengalami ini ya ...

Comments

e-c-h-y said…
*tercengang
Nia Janiar said…
Iya ya.. jorok yaa. Hihi.
vendy said…
ckckck... padahal Bandung udah dikategorikan tempat yang polusinya cukup parah -_-
Nia Janiar said…
Belum separah itu. :D

Popular Posts