Lepas

Kedua orang tua saya masih ada di dunia. Kematian yang paling menyakitkan yang pernah saya alami dan menimpa orang terdekat adalah kematian kakak tertua ibu saya. Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, ingat sekali saat saya masih kelas empat. Itu adalah satu-satunya kematian yang membuat saya menangis setulus-tulusnya, yang menyesakkan dan mengguncang kedua bahu saya sehebat-hebatnya, bukan nangis pura-pura atau ingin masuk ke dalam lingkungan duka saja.

Tidak terbayang jika kehilangan paling dekat karena saya belum pernah merasakan. Mungkin hati ini rasanya seperti dijejali ribuan jarum, lalu lama kelamaan waktu membuat kita lebih bijak sehingga kita baru bisa rela. Sepertinya, karena Tuhan tahu sakitnya ditinggalkan--untuk melatih manusia belajar melepaskan di hari nanti--ia sengaja membuat kejadian-kejadian yang membuat manusia kehilangan hal-hal kecil misalnya hilang uang, hilang barang kesayangan, hilang seseorang.

Bukan, bukan berarti orang itu ke alam baka, tapi kualitas keadaan psikologisnya tidak sebesar yang lalu sehingga kita harus belajar bahwa perasaan orang lain bisa meluruh dan di saat yang bersamaan kita harus melepaskan, kita harus bisa merelakan.

Maka, untuk melatih kehilangan yang sangat besar di suatu hari nanti, saya harus belajar melepaskan sekali lagi. Membiarkan hal yang selama ini saya pegang dan saya yakini untuk terbang melayang.

mohon agar saya jangan dibawa ke tempat dimana dulu saya berjuang setengah mati supaya bisa keluar

Comments

fridya said…
like this ni... ini yang status fb lo dulu tentang melepas balon ya?
Nia Janiar said…
Sebenernya ini tulisan gue ttg balon yang kesekian kalinya, Fin. Hehe.

Makasih ya sudah berkunjung ke sini :)

Popular Posts