Skip to main content

Ruang Kecil di Balik Rerusuk

Dalam beberapa hari ini, saya terserang badai hormon. Badai ini sangat mengerikan karena bisa membuat hal-hal kecil menjadi besar, sederhana menjadi rumit, kesenangan sehari dibalas dengan galau berhari-hari. Badai ini menyerang semua aspek: perumahan, pertemanan, dan pekerjaan. Namun badai ini memberikan keuntungan juga dimana tiba-tiba saya mendapatkan sebuah insight untuk menganggu teman kantor dengan pertanyaan-pertanyaan random, "Eh, perasaan itu letaknya dimana sih? Kenapa ya cincin kawin orang Indonesia itu terletak di tangan kanan? Kenapa pula orang itu megang dadanya sebagai representasi rasa sakit?"

Walaupun pernah kuliah biopsikologi dan psikologi faal yang konon membahas otak dan syaraf manusia, saya pun bukan tipikal anak IPA yang akan mudah paham struktur-struktur itu lalu mendapatkan nilai bagus di dalamnya. Sepertinya saya pernah mendapatkan nilai D untuk UTS, lalu saya berkesempatan memperbaiknya di UAS untuk mendobrak nilai saya dan saya belajar mati-matian hingga saya sakit kepala dan untungnya mendapatkan nilai B lalu pada pelaksanaannya malah memberi tahu jawaban ke teman lain yang waktu itu dia bisa dan tidak mau memberi tahu. Fiuh. Apa rasanya membaca dengan sedikit tanda titik?

Diawali saat saya merasa sedih sekali. Saat sedih, saya merasa segalanya berpusat di dada (entah jantung, entah paru-paru, dan bahkan saya berpikir ada ruang kosong di sela-sela jantung dan paru-paru untuk perasaan dan nurani). Kalau diingat-ingat, saat saya senang, marah, kesal, dan lainnya pun segalanya berpusat di dada karena dada menjadi bagian paling aktif untuk merasa. Lalu saya berpikir tentang otak. Mungkin tidak akan saya jelaskan tentang hypothalamus, sistem limbik, atau amygdala apaa gitu karena akan ada orang yang berkompeten untuk menjelaskannya. Tapi, dari pelajaran kuliah yang saya pelajari, semua perasaan berasal dari sana. Pokoknya ada di salah satu dari bagian otak. Tapi kenapa saat merasakan emosi, kita lebih cenderung memegang dada?

Tentu saya mendapatkan insight lain bahwa apa yang di otak itu mempengaruhi hormon, pernafasan, detak jantung, dan lainnya. Kau tidak perlu memberi tahu hal itu. Mereka semua mempengaruhi ke sebuah hal yang menjadi pusat dalam diri. Saat kau kesal, mungkin kau tidak akan merasakan ginjal yang sakit atau liver yang bergejolak, tapi di daerah sini--daerah dada--yang menjadi keberpusatannya. Padahal semuanya itu--menurut saya--berangkat dari otak. Jadi, mengapa saat kita sakit malah memegang dada ketimbang kepala?

Kau tahu maksud dari tulisan ini, 'kan?

Dan, oh, saya mengalami banyak hal baru dalam kehidupan saya. Tuhan, terima kasih atas segalanya.

Chaos

Comments

Anonymous said…
madam...tulisan mu makin bagus...great ;)

-bolehbaca-
Nia Janiar said…
Ahae! Makasih :">

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…