Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2010

Pintu Keluar

Ketika kepakan sayap kekupu mulai melemah, seiring dengan keingintahuan yang sudah pudar, maka semudah itu aku membunuh perasaanku. Akan kutemani kau mengepak semua barangmu, akan kutemani kau menuju pintu keluar.

Pengalaman Mental

Gambar
Ketika diri keluar dari kendali, diri ini menjadi serpihan-serpihan dua dimensi yang sangat tipis dan halus yang saling bergerak menjauh. Benda lain terlihat kecil karena menjadi jarak dalam sebuah titik pengelihatan buta. Dinding kamar menjadi fragmen-fragmen terpisah yang berdiri sendiri, mewujud menjadi sesuatu yang tidak aku kenali. Sesuatu menggelitik tangan dan kakiku.
Ketika wewarna mulai pudar, gitarnya After Midnight ibarat pengaduk dalam sebuah adonan. Aku tercebur dalam sebuah dunia penuh motif dan warna-warna gelap yang kuat dan menghadirkan imaji sangat baik dan sangat buruk, tercampur dengan hal-hal keIlahian hingga hal paling busuk sehingga aku terjebak dalam dunia primordial dan tidak bisa menyembunyikan apapun. Hal-hal kecil menjadi sugesti yang besar, membentuk sebuah cerita, dan aku sedang didongenginya.
Nafas terengah-engah, mata mengerjap liar tanpa sadar, kata-kata membungkam, terkunci kuat dalam rahang namun diri tak kuasa menahan gejolak tawa. Kurentangkan …

Kecemburuan Sosial

Ceritanya di rumah saya ini ada salah seorang saudara ipar saya yang berasal dari Malang. Ia tinggal (kost) di rumah karena ia kuliah di salah satu universitas terbaik di Bandung. Dia seorang perempuan cantik berkulit putih, berambut hitam lurus, berbadan kurus, dan feminin. Umurnya lebih muda dari saya. Selain itu, saya juga kenal kakaknya yang menamatkan kuliahnya di salah satu universitas terbaik di Yogyakarta dengan predikat cumlaude karena skripsinya berbahasa Inggris. Kakaknya pun (yang secara fisik sebenarnya lebih cantik daripada adiknya) bernasib sangat baik dimana ia kerja di industri Jakarta sebagai konsultan, bergaji besar, mendapatkan beasiswa ke Jepang, dan ah ... kau tahu.
Duo cantik ini disayang sekali oleh keluarga saya. Saya sering dibandingkan "Nia, lihat dong dia. Dia begini begini begini, maka kamu harus begitu begitu begitu. Coba cari-cari beasiswa. Oh ya, dia juga mulai bisnis. Coba dong kamu juga mulai bisnis begini begini begini agar kamu berkembang."

Magiskuhibiniu

Saat kami berjalan bersama di sebuah jalanan sepi, tiba-tiba salah seorang murid saya yang umurnya 7 tahun meneriakkan nama saya. Sontak saya langsung menghampirinya karena saya sedang mengurus belasan murid sendirian. Saya takut ia tertabrak atau jatuh di bawah pengawasan saya. Saat sudah berada di dekatnya, dengan roman muka senang dan mata yang berbinar-binar, ia menunjuk ke bawah sambil berkata, "Ibu ... ibu ... lihat ... pelanginya jatuh!"

Saya tersenyum sambil menatap tumpahan bensin di atas aspal. Sementara anak-anak lain datang dan melihat apa yang ia tunjuk, anak itu mencari-cari lagi tumpahan bensin di tempat lain. "Ibu, di sini juga pelanginya jatuh!"
"Wah, kenapa ya pelanginya bisa jatuh?" tanya saya.
Ia mengangkat bahunya.
"Mungkin pelanginya enggak pegangan ya ... jadinya jatuh."
Ia mengangguk-angguk.
"Atau jangan-jangan pelanginya sengaja ke bumi untuk mengunjungi kamu?"
Ia mengangguk-angguk lagi penuh semangat. Bibirnya tersen…

Anak

Layaknya seorang anak kecil yang bercita-cita tentang masa depannya, pun saya melakukan hal yang sama di suatu siang. Pada saat istirahat, saya dan rekan kerja saya membicarakan bagaimana sebaiknya masa depan kami masing-masing, kalau-kalau kami punya anak. Membayangkan punya anak itu agak ibu-ibu sekali, memang. Jadi, kalau kau agak geli dengan tema seperti ini, sebaiknya tidak usah meneruskan membaca.
Ceritanya saya bilang ke teman saya bahwa saya ingin menjadi ibu rumah tangga penuh untuk mendidik dan memantau perkembangan anak saya dengan segala ilmu yang saya dapat. Saya ingin membacakan buku dongeng sebelum tidur, membuka cakrawala anak agar pengetahuannya luas, mengajarinya beberapa keahlian, mengajarkan norma-norma, dan terutama membentuknya menjadi seseorang yang saya kenal. Saya tidak ingin dia dirawat orang lain dan terbentuk menjadi seseorang yang tidak saya kenal.
Mendengar hal ini, teman saya kaget dan salut betul dengan keputusan saya. Wah, saya juga kaget betul dengan p…

Mempertanyakan Semesta Museum Geologi

Ceritanya tadi saya dan Neni pergi ke Museum Geologi yang--kagetnya--tidak ada biaya masuk alias gratis. Wah, kalau museum di luar negeri sih bayarnya mahal--batin saya dalam hati sambil mencari-cari jika ada tempat pembelian tiket. Tapi nyatanya memang tidak ada, kami hanya diminta mengisi daftar hadir. Sisanya kami bisa slonong-girl alias masuk begitu saja. Padahal di jalan saya sudah berpikiran untuk menyewa guide yang bisa menjelaskan apa saja yang ada di museum. Rupanya gayung tidak bersambut, guide tidak ada. Saya agak kecewa juga.
Begitu kami masuk ke arena pameran, saya merasakan udara yang panas dan pengap. Wah, tidak ada AC-nya ya?--batin saya lagi. Maklum, saya pernah ke museum KAA yang dingin. Hihi. Belum lagi suasana saat itu yang begitu ramai dan padat karena banyak anak sekolah yang ditugaskan untuk mengisi kuesioner. Belum lagi mereka menulis di atas kaca display sehingga saya harus mengintip ada benda apa gerangan di balik kaca. Untungnya kebisingan itu tidak lama ke…