Skip to main content

Anak

Layaknya seorang anak kecil yang bercita-cita tentang masa depannya, pun saya melakukan hal yang sama di suatu siang. Pada saat istirahat, saya dan rekan kerja saya membicarakan bagaimana sebaiknya masa depan kami masing-masing, kalau-kalau kami punya anak. Membayangkan punya anak itu agak ibu-ibu sekali, memang. Jadi, kalau kau agak geli dengan tema seperti ini, sebaiknya tidak usah meneruskan membaca.

Ceritanya saya bilang ke teman saya bahwa saya ingin menjadi ibu rumah tangga penuh untuk mendidik dan memantau perkembangan anak saya dengan segala ilmu yang saya dapat. Saya ingin membacakan buku dongeng sebelum tidur, membuka cakrawala anak agar pengetahuannya luas, mengajarinya beberapa keahlian, mengajarkan norma-norma, dan terutama membentuknya menjadi seseorang yang saya kenal. Saya tidak ingin dia dirawat orang lain dan terbentuk menjadi seseorang yang tidak saya kenal.

Mendengar hal ini, teman saya kaget dan salut betul dengan keputusan saya. Wah, saya juga kaget betul dengan perubahan pikiran yang terjadi pada saya. Dulu saya tidak mau menjadi ibu rumah tangga karena saya memandang sebelah mata sebagai pekerjaan yang sia-sia. Malah dulu saya hanya ingin kerja, pun tidak menikah atau punya anak. Baik di pekerjaan mungkin membuat kita dipandang sukses dan tidak dipandang sebelah mata. Tapi rasanya kesuksesan itu hanya berlaku dalam beberapa waktu sementara kegagalan dalam mendidik anak itu efeknya seumur hidup.

Karya Javad Alizadeh

Mungkin paradigma ini berubah seiring pekerjaan saya menjadi guru. Saya melihat banyak sekali anak yang terbengkalai karena ketidakmampuan orang tua mendidik anaknya demi alasan ... materi. Saya lebih menghargai orang tua yang bodoh namun berusaha mendidik dengan meluangkan banyak waktu, ketimbang orang tua yang pintar namun kepintarannya dihabiskan ke tempat lain dan tidak ada waktu untuk anaknya.

Singkatnya begini: mungkin sebaiknya kesampingkan dulu ego untuk aktualisasi diri sementara anak diajari strategi-strategi hidup hingga ia mandiri dan cukup kuat menghadapi masalah nanti. Kalau anak sudah mandiri, sepertinya urusan orang tua akan berkurang sedikit ketimbang mencipta anak rapuh dan manja yang seumur hidupnya bergantung terus. Ini manusia, loh, yang keluar dari badan kita.

Ini baru angan-angan dan teori saja karena, ah, saya pun belum merasakan susahnya mendidik anak. Tapi agar seseorang bisa mengeluarkan pendapat, ia tidak perlu mengalami hal yang sama, 'kan?

Comments

Wah, Nia... sebelum bikin anak, cari bapaknya dulu, hehehehehe :D

Mengingatkan gw pada salah satu post yang sudah lama sekali gw tulis:

http://thesoulsanctuary.us/2009/12/interview-with-a-mother/

Gw pribadi juga pengennya share tanggung jawab mendidik anak juga dengan ibunya. Jadi bener2 emansipasi, Ibu bisa tetap bekerja sesekali, Bapak tetap bisa ngasuh anak sesekali.

Hmm... gatau deh ntar kalo udah punya anak beneran, hahahahaha :D
Nia Janiar said…
"Wah, Nia... sebelum bikin anak, cari bapaknya dulu, hehehehehe :D"

Hahaha, bisaaaaa aja lu, Zal. :)) Gak harus juga kali :p

Anw, being a full-time mother is one of the highest salaried jobs... since the payment is pure love.
alavya-shofa said…
sepakat nia! mari menjadi ibu rumah tangga yang baik dan benar.
*sebagai sesama guru, saya juga merasakan keprihatinan yang sama :(

oh, sedikit iklan. bolehlah berkunjung ke sini: http://lavlie-shofa.blogspot.com
Nia Janiar said…
Mari. :D
Anonymous said…
yudo : sorry, tanpa bermaksud merendahkan peran ibu rumah tangga, gw rasa pilihan untuk bekerja daripada di rumah untuk ngurus anak sebenarnya bukan pilihan yang egois juga...karena dengan menjadi ibu rumah tangga sumber pendapatan hanya dari suami, bagaimana bila suami tidak mampu lagi mencari pendapatan??
meninggal misalnya? cacat? atau PHK? kita sebagai kaum lelaki sangat sadar peran kami sebagai kepala rumah tangga, sebagai pemimpin, bekerja untuk menghidupi keluarga, tetapi kami juga bukan Tuhan yang tidak bisa "mati", kami pasti akan habis...hanya ego kami yang terus menerus berkobar, maka dari itu kami lebih sering mengidap post power syndrome...

disinilah ibu yang bekerja berguna, karena bila sang suami "habis", kalian masih bisa mendapatkan penghasilan untuk anak..."the payment is pure love" ? what a sweet words...for a poetry, for a philosophy...but not in a real life

kalian bukan berarti harus bekerja kantoran, setidaknya berusaha untuk mendapatkan penghasilan tetap juga...

pria memang harus bekerja, tetapi wanita juga jangan terbuai oleh indahnya "ibu rumah tangga", gak semua pria sekaya Bakrie :D, cuma egonya yang sama...

yeah..that is us...a big child :P
Nia Janiar said…
Oh gue setuju banget sama pendapat lu, Yud, bahwa perempuan juga tetep harus punya penghasilan. Gue setuju.

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…