Kecemburuan Sosial

Ceritanya di rumah saya ini ada salah seorang saudara ipar saya yang berasal dari Malang. Ia tinggal (kost) di rumah karena ia kuliah di salah satu universitas terbaik di Bandung. Dia seorang perempuan cantik berkulit putih, berambut hitam lurus, berbadan kurus, dan feminin. Umurnya lebih muda dari saya. Selain itu, saya juga kenal kakaknya yang menamatkan kuliahnya di salah satu universitas terbaik di Yogyakarta dengan predikat cumlaude karena skripsinya berbahasa Inggris. Kakaknya pun (yang secara fisik sebenarnya lebih cantik daripada adiknya) bernasib sangat baik dimana ia kerja di industri Jakarta sebagai konsultan, bergaji besar, mendapatkan beasiswa ke Jepang, dan ah ... kau tahu.

Duo cantik ini disayang sekali oleh keluarga saya. Saya sering dibandingkan "Nia, lihat dong dia. Dia begini begini begini, maka kamu harus begitu begitu begitu. Coba cari-cari beasiswa. Oh ya, dia juga mulai bisnis. Coba dong kamu juga mulai bisnis begini begini begini agar kamu berkembang."

Oke, mungkin si kakak ada di Jakarta, tapi si adik ini ada di Bandung, lebih tepatnya di tempat yang saya tinggali semenjak lahir. Ia dijamu gila-gilaan, disiapkan makanan, sangat dikhawatirkan oleh semuanya, "Eh, dia kok belum keluar kamar? Udah makan belum ya? Atau belum bangun?" Sementara kalau saya bangun siang, saya akan dihajar habis-habisan.

Saya mulai merasa perlakuan keluarga terhadap saya menjadi tidak adil. Bahkan, secara umum, dunia begitu baik terhadap orang cantik (juga memiliki derajat sosial yang tinggi). Bukan masalah bangun siang, tapi hal-hal lain seperti saya dididik untuk berbasa-basi dan memulai pembicaraan, terutama jika saya tinggal di rumah orang. Sementara ini, diam saja ibarat kardus kosong pun tidak mengapa. Tidak menyapa, tidak menawarkan makanan saat makan, ngeleos lewat begitu saja, tidak ada yang protes. Sementara saya pernah disetrap untuk berdiri sambil diceramahi dan ternangis-nangis karena saya tidak menyapa saudara saya dan saya dianggap tidak sopan. Selalu ada pengecualian.

Saya merasa dunia tidak adil. Ada orang yang harus bekerja keras mendapatkan sesuatu, tapi orang lain bisa mendapatkannya begitu saja. Yang membuat saya kecewa sekarang ini adalah kenapa usaha saya untuk memenuhi harapan keluarga ternyata tidak pernah cukup dan selalu kurang sementara ... ah, nanti, saya nangis dulu.

Comments

Neni said…
Niaaa, duh jgn nangis...
Sy jg sering dibilangin untuk ngajak ngobrol duluan, tp kan kdg kita ga tau ya mau ngomong apa, bkn krn sombong atw gmn2...
*karena kita kan pendiem ya? (ngaku2! hehehe...)

udah...inget hal2 yg lain: murid nia yg mulai tdk bisa melupakan nia hgg dgn niatnya gambar dan bilang nia jahat, atau yg bilang ada pelangi jatuh, murid yg milih nia sbg guru favorit atau momen2 di klab nulis.
Gadis cantik blm tentu bisa berprestasi kyk gt...nulis bagus dan jd guru fave maksudnya..
Nia Janiar said…
Haha, biasa lah, Neni.. lagi mellow. Cuma kayaknya ini wajar yah? (eh, wajar dong yaaah?)

Makasih :)
Ya, kita hidup dalam lingkungan sosial yang memang suka membanding-bandingkan. Tidak bisa lolos dari itu, tampaknya.

Saya sih, sudah berhenti berusaha memenuhi harapan keluarga. Dan memutuskan menjadi diri sendiri. Kadang sih saya menurut. Tapi kadang juga, kalau permintaan mereka terlalu banyak, saya akan bilang, "this is me, you're stuck with me--accept me as is or feel tortured by me, that's really your choice."

Untunglah orangtua saya lebih pengertian dari yang saya bayangkan.
Nia Janiar said…
Yaa.. semoga pengalaman ini bisa membuat gue refleksi untuk tidak melakukan hal yang sama.

Popular Posts