Skip to main content

Magiskuhibiniu

Saat kami berjalan bersama di sebuah jalanan sepi, tiba-tiba salah seorang murid saya yang umurnya 7 tahun meneriakkan nama saya. Sontak saya langsung menghampirinya karena saya sedang mengurus belasan murid sendirian. Saya takut ia tertabrak atau jatuh di bawah pengawasan saya. Saat sudah berada di dekatnya, dengan roman muka senang dan mata yang berbinar-binar, ia menunjuk ke bawah sambil berkata, "Ibu ... ibu ... lihat ... pelanginya jatuh!"


Saya tersenyum sambil menatap tumpahan bensin di atas aspal. Sementara anak-anak lain datang dan melihat apa yang ia tunjuk, anak itu mencari-cari lagi tumpahan bensin di tempat lain. "Ibu, di sini juga pelanginya jatuh!"

"Wah, kenapa ya pelanginya bisa jatuh?" tanya saya.

Ia mengangkat bahunya.

"Mungkin pelanginya enggak pegangan ya ... jadinya jatuh."

Ia mengangguk-angguk.

"Atau jangan-jangan pelanginya sengaja ke bumi untuk mengunjungi kamu?"

Ia mengangguk-angguk lagi penuh semangat. Bibirnya tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang rapi. Sambil menghitung jumlah pelangi jatuh, kami semua berjalan pulang.

Semenjak saat itu, jika melihat tumpahan bensin di atas aspal, saya selalu teringat pada perkataan anak ini. Foto yang di atas baru saya ambil hari ini padahal kejadiannya sudah cukup lama. Sepanjang saat kejadian itu terjadi hingga sekarang, saya bertanya-tanya jika benar pelangi menetapkan jadwal kunjung, sebetulnya pelangi ini jatuh ke bumi untuk mencari siapa?

Magiskuhibiniu.

Comments

Anonymous said…
oww...innocent banget ga sih,bu...hehehe:)

-bolehbaca-
Imajinasi anak kecil memang... kaya :)
Nia Janiar said…
@Tiwi dan Rizal: Beruntung sekali saya bisa berinteraksi dengan mereka lima hari seminggu. Hihi. :D

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…