Mempertanyakan Semesta Museum Geologi

Ceritanya tadi saya dan Neni pergi ke Museum Geologi yang--kagetnya--tidak ada biaya masuk alias gratis. Wah, kalau museum di luar negeri sih bayarnya mahal--batin saya dalam hati sambil mencari-cari jika ada tempat pembelian tiket. Tapi nyatanya memang tidak ada, kami hanya diminta mengisi daftar hadir. Sisanya kami bisa slonong-girl alias masuk begitu saja. Padahal di jalan saya sudah berpikiran untuk menyewa guide yang bisa menjelaskan apa saja yang ada di museum. Rupanya gayung tidak bersambut, guide tidak ada. Saya agak kecewa juga.

Begitu kami masuk ke arena pameran, saya merasakan udara yang panas dan pengap. Wah, tidak ada AC-nya ya?--batin saya lagi. Maklum, saya pernah ke museum KAA yang dingin. Hihi. Belum lagi suasana saat itu yang begitu ramai dan padat karena banyak anak sekolah yang ditugaskan untuk mengisi kuesioner. Belum lagi mereka menulis di atas kaca display sehingga saya harus mengintip ada benda apa gerangan di balik kaca. Untungnya kebisingan itu tidak lama ketika anak-anak sekolah berangsur pulang.

Kali terakhir saya ke Museum Geologi adalah ketika saya SD. Sebenarnya sudah sejak lama saya berencana untuk pergi ke sana dan saya senang sekali ketika Neni mau ikut. Saya suka berkunjung ke museum. Beberapa museum di Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta sudah saya jelajahi dengan sengaja. Mudah-mudahan ketika saya ke Solo nanti, ada museum yang bisa saya kunjungi. Amin.

Banyak hal yang menarik seperti awal mula kehidupan, misalnya awal mula terbentuknya semesta, bumi, makhluk hidup di dalamnya yang diawali makhluk bersel satu hingga mamalia. Juga saya melihat kera jejadian yang dianggap Darwin nenek moyang Anda semua. Bercanda. Tapi serius, beragam istilah kejadian di masa yang tidak saya ketahui yang dipakai untuk melabel suatu zaman, membuat saya merasa kecil, merasa bahwa saya adalah manusia yang tidak banyak tahu tentang tempat yang saya tinggali sekarang, bahwa semua kehebatan ini dirancang sedemikian terstruktur dan tersistematis oleh--yang pasti bukan para manusia--melainkan sesuatu.


Yang paling membuat saya takjub adalah video pergerakan pulau yang membuat letak geografis Indonesia jadi begini adanya. Yang paling membuat saya miris adalah foto pertambangan Freeport yang mengeruk sekian hektar lahan Papua. Dengan deklamatis tapi kebingungan, saya bertanya pada Neni, "Jadi kita harus berbuat apa?" Yang paling membuat saya bangga adalah bangsa Indonesia berada di dalam surga keindahan alam sekaligus neraka di dalamnya (baca: Sabuk Api).

Terkadang saya skeptis dengan penjabaran hal-hal dimana manusia belum hidup misalnya pembentukan bumi yang berasal dari gas-gas yang memadat dan seterusnya. Memang ada ilmu pengetahuan dengan segala perhitungan, tapi bagaimana sih manusia bisa tahu hal tersebut dan meyakini bahwa yang diketahuinya itu benar. Bisa saja 'kan Tuhan menciptakan bumi lalu *poof* ada begitu saja? Bercanda.

Lalu saya juga skeptis tentang manusia pertama di bumi yang konon kata Darwin adalah titisan monyet dan kata Islam adalah Nabi Adam. Saat saya melihat gambar manusia purba dengan bentuk morfologi seperti monyet (jalannya bungkuk, berbulu) sebagai bukti manusia pertama. Sementara jika manusia pertama seperti manusia sekarang sebagaimana yang diyakini sebagai Nabi Adam, apa buktinya selain yang ditulis di kitab orang Islam? Lalu jika manusia pertama yang seperti monyet itu adalah bukan monyet, lalu kapan tepatnya spesies manusia ada di bumi? Lalu jika manusia seperti saya ini lebih beradab dan berakal, toh yang titisan monyet itu pun mampu membuat peralatan berburu atau untuk memotong sesuatu. Atau sebenarnya Darwin tertipu bahwa monyet itu hanya "rupa" saja karena manusia sekarang juga kalau tidak terurus (seperti orang gila yang ada di pinggir jalan), tidak mandi lama sekali, tidak cukuran sama sekali, tidak berpakaian, toh mereka juga seperti ... monyet?

Saya bukannya ingin merendahkan suatu agama lalu meninggikan suatu bangsa. Pun saya juga tidak ingin disamakan dengan monyet. Jika ada yang punya komentar atau jawaban atau interpretasi atau tafsiran, ada kolom komentar di bawah tulisan ini. Mohon dicatat bahwa pertanyaan-pertanyaan di atas tidak ditujukan kepada sesuatu yang buruk. Anggaplah sebagai salah satu bentuk ketidaktahuan serta keingintahuan saya.

Kepergian saya ke Museum Geologi ini membuat saya menduga-duga, seperti yang kalian lakukan. Tapi berkunjung ke museum itu nyata menyenangkan adanya.

Oh, satu lagi, mungkin saya harus banyak membuka website-nya Harun Yahya.

Comments

Popular Posts