Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2010

Aku Mencari Aku

Aku mencari aku di:
sela-sela jemarinya, lipatan seprainya, bulir-bulir keringatnya, lemari kenangan-kenangannya, cetakan kain di wajah sehabis tidur, tumpukan pakaian kotornya, sela-sela rak buku yang berdebu, dan rangkaian kata-kata di seluruh tulisan-tulisannya.
Aku mencari aku yang pernah tidak ada.

Laut

Tiba-tiba Nina jatuh dari langit. Badannya tercebur ke dalam genangan air besar. Segera ia merasakan asin di mulutnya. Otomatis ia berenang menuju permukaan. Matanya melihat sekitar. Bukankah ia barusan berada di sebuah perkotaan yang sangat sepi, mengapa sekarang ia berada di tengah lautan?
Lama ia mencari namun tidak ada daratan, hanya ada segaris panjang tipis yang memisahkan langit dan laut. Di sana ia menyadari bahwa laut lebih biru ketimbang langit. Kemana saja ia selama ini? Lalu ia melihat ada sebuah styrofoam besar—sebesar styrofoam pelapis televisi—yang mengambang di dekatnya. Nina segera meraihnya dan memasrahkan badannya sambil berpegangan. Ia membiarkan dirinya terombang-ambing, sementara langit berubah menjadi marun.
Dilihatnya sebuah pulau yang sisinya terjal penuh karang. Ombak membawa Nina ke salah satu sisinya sehingga ia terhempas pada sisi karang. Styrofoam-nya patah, Nina berusaha keras berpegangan pada salah satu karang sementara ombak keras mengempas di belakangn…

Bekas

Saat saya memutuskan untuk membuang baju-baju hitam saya, maka saya lipat rapi lalu dibungkus kantung plastik--takut ada pemulung yang membutuhkan--dan dibuang ke tempat sampah. Setelah itu saya akan coba mix and match baju-baju lain yang ada atau beli baru sekalian. Karena saya sudah memutuskan untuk melakukan eliminasi, maka saya tidak akan mengingat-ingat yang telah saya buang, apalagi ingin kembali memakainya, apalagi ingin merebutnya jika baju bekas saya itu sudah ada pemiliknya.
Bahkan saya akan lupa.
Pun dalam sebuah hubungan. Baik hanya bercanda atau pernah tergila-gila. Baik orang pertama maupun terakhir pula. Saya tidak akan bersikukuh memakai sesuatu yang sudah terendap di masa lalu.

Matthew

Lupa kapan pertama kali saya bertemu dengan manusia ini. Hidungnya mancung, kulitnya putih, rambutnya agak kecoklatan. Rupawan--bolehlah disimpulkan seperti itu. Tapi bukan kerupawanannya yang membuat saya ingin mendekati, tapi sesuatu dari dalam tingkah lakunya yang menganggu.
Ia sering menghabiskan waktunya sendirian. Jika orang lain berkumpul bersama, ia memilih menjauh dan asik dengan aktivitasnya sendiri. Saya sampai bertanya-tanya ke orang sekitar, siapakah gerangan Matthew ini. Katanya Matthew ini super galau semenjak sepeninggalan ibunya pas di hari ulang tahunnya. Ibunya meninggal setelah Matthew dibelikan bola dunia karena Matthew sering bertanya dimana letak suatu tempat.
Lalu beberapa kali mencoba menyapanya, beberapa kali pula tidak dihiraukan. Ah, sial. Saya dipandang aneh lalu ia cenderung tidak peduli jika saya menyapa. Beberapa pertanyaan tidak dijawab. Andai Matthew tahu kalau saya ini penasaran dan saya bukan tipe orang yang akan menjauh jika diperlakukan seperti itu.…

Memori

Tadi saya ngobrol-ngobrol dengan rekan kerja saya mengenai pelatihan yang pernah diikuti. Saya bilang saya tidak pernah mengikuti pelatihan yang dimaksud. Rekan saya mengingatkan, "Bu Nia pasti pernah kok! Orang saya saja yang seangkatan dengan Bu Nia itu pernah!" Setelah diingat-ingat kapan dan dimana, baru saya ingat bahwa saya pernah ikut pelatihan yang dimaksud. Teman saya bilang, "Short term memory banget ya!"
Itu adalah kesekian kalinya orang kantor bilang begitu. Semakin lama, saya jadi semakin meyakini bahwa ingatan saya ini pendek sekali. Misalnya saat mau minum di kantor, saya melihat gelas saya dalam kondisi terbuka. Saya tidak ingat apakah tadi pagi saya sudah minum atau belum. Misalnya saat saya mau menceritakan film yang saya tonton tadi siang, malamnya saya sudah lupa. Misalnya saat saya mau berbicara lalu dipotong, maka saya akan lupa. Misalnya saya pernah menulis atau berkata sesuatu, saya tidak percaya bahwa saya pernah menulis atau bicara hal ters…

Cermin

Aku membeli sebuah cermin ketika aku berkunjung ke Yogyakarta. Satu-satunya cermin yang memiliki bingkai berwarna cokelat dengan ukiran gambar seorang wanita dengan tiga belas mahkota bunga di atas kepalanya.

Cermin ini kusimpan di dekat lemari pakaian sehingga aku mudah mematut diriku jika aku mau berpergian. Sehabis mandi, kulihat cermin sambil kusisir rambutku. Hingga tiba-tiba perempuan berambut panjang di dalam sana ikut menyisir sambil mengelus-elus rambutnya, menyeringai dengan gigi tajamnya sambil menatapku. Bola matanya mengintai liar saat aku mencoba lari. Dengan cepat ia merayap ke luar; segera kucium bau amis di dalam kamar, giginya mengatup—membuka menutup, kedua tangannya yang kurus dan keriput itu menggapai-gapai, menarikku masuk ke dalam cermin. Satu mahkota muncul lagi.

Sekarang kau bercerminlah, mungkin aku sedang meronta dan berteriak minta tolong di sana.





---------------------------------------
Tulisan ini dibuat untuk:

Potong Rambut

Cahaya lampu-lampu putih berkilau dibalik kaca salon di ujung kantor, memantulkan warna hitamnya rerambut yang menitikkan air basah dari kepala. Aku tidak sedang bermuram durja, namun kuputuskan untuk memotong yang mereka bilang mahkota.
Kres ... kres ... kres ...
Rambut-rambut berjatuhan dari balik sela-sela gunting. Melayang berhelai-helai dan jatuh ke lantai. Kemudian mereka disapu dan dikumpulkan di dalam sebuah pengki bersama rambut entah milik siapa. Samar-samar kudengar mereka membisikkan kalimat selamat tinggal.