Laut

Tiba-tiba Nina jatuh dari langit. Badannya tercebur ke dalam genangan air besar. Segera ia merasakan asin di mulutnya. Otomatis ia berenang menuju permukaan. Matanya melihat sekitar. Bukankah ia barusan berada di sebuah perkotaan yang sangat sepi, mengapa sekarang ia berada di tengah lautan?

Lama ia mencari namun tidak ada daratan, hanya ada segaris panjang tipis yang memisahkan langit dan laut. Di sana ia menyadari bahwa laut lebih biru ketimbang langit. Kemana saja ia selama ini? Lalu ia melihat ada sebuah styrofoam besar—sebesar styrofoam pelapis televisi—yang mengambang di dekatnya. Nina segera meraihnya dan memasrahkan badannya sambil berpegangan. Ia membiarkan dirinya terombang-ambing, sementara langit berubah menjadi marun.

Dilihatnya sebuah pulau yang sisinya terjal penuh karang. Ombak membawa Nina ke salah satu sisinya sehingga ia terhempas pada sisi karang. Styrofoam-nya patah, Nina berusaha keras berpegangan pada salah satu karang sementara ombak keras mengempas di belakangnya. Di antara kumpulan karang, ia mendengar suara hempasan ombak yang bertalu-talu, menggebu-gebu seperti meminta sesuatu.

Pegangannya kian melemah. Jari, lutut, dan kakinya dirasakan perih karena tergesek-gesek sisi karang yang tajam. Buku-buku jarinya mulai terparut dan mengeluarkan darah yang kadang mengental dan mengencer jika terkena air laut. Ia mencoba bertahan selama mungkin sambil mencari-cari celah agar ia bisa memanjat. Hingga datang satu ombak besar yang menyeret Nina kembali ke lautan.

Segala macam gaya ia lakukan untuk mengangkat mukanya ke permukaan. Ia berpikir—kenapa dalam renang ada gaya bebas sementara gayanya tidak bebas? Pusaran air membawa Nina masuk ke dalam. Tubuhnya lunglai, mulai melemah. Dilihat dalamnya lautan yang gelap, memberi efek sunyi tertentu. Nina menutup mata, berharap bangun. Gelembung udara adalah terakhir yang ia lihat.



[Dibuat sebagai latihan Reading Lights Writer's Circle. Karena saya tidak datang--konon fasilitator kala itu, Rizal, memberikan tema menulis yang terinspirasi/melanjutkan dari mimpi buruk. Laut selalu menjadi ketakutan saya dan tenggelam di dalamnya selalu menjadi mimpi buruknya.]


Gambar: Sumber

Comments

Bener Ni. Horror. In a way.

A thriller with its on style. Great.

:)
Nia Janiar said…
Hehe, thanks, Zal! :)
Sundea said…
Ni, gue kebayangnya dia kejebak nggak bisa brenti nonton tv. Akhirnya dia nggak tau mana realitas, mana yang bukan.

Keren banget... =)
Nia Janiar said…
Hih, itu lebih serem lagi.

Popular Posts