Matthew

Lupa kapan pertama kali saya bertemu dengan manusia ini. Hidungnya mancung, kulitnya putih, rambutnya agak kecoklatan. Rupawan--bolehlah disimpulkan seperti itu. Tapi bukan kerupawanannya yang membuat saya ingin mendekati, tapi sesuatu dari dalam tingkah lakunya yang menganggu.

Ia sering menghabiskan waktunya sendirian. Jika orang lain berkumpul bersama, ia memilih menjauh dan asik dengan aktivitasnya sendiri. Saya sampai bertanya-tanya ke orang sekitar, siapakah gerangan Matthew ini. Katanya Matthew ini super galau semenjak sepeninggalan ibunya pas di hari ulang tahunnya. Ibunya meninggal setelah Matthew dibelikan bola dunia karena Matthew sering bertanya dimana letak suatu tempat.

Lalu beberapa kali mencoba menyapanya, beberapa kali pula tidak dihiraukan. Ah, sial. Saya dipandang aneh lalu ia cenderung tidak peduli jika saya menyapa. Beberapa pertanyaan tidak dijawab. Andai Matthew tahu kalau saya ini penasaran dan saya bukan tipe orang yang akan menjauh jika diperlakukan seperti itu. The more you ignore me, the closer I get. Deal with it, boy.

Saya sapa terus, hingga ia jengah. Saya mulai colek-colek tangannya. Hingga terakhir saya sapa dia lalu dia membalas sapaan saya di balik seragam merah putihnya, "Namanya siapa?"

"Halo. Namaku Nia."

Di saat teman-temannya membuat kolase binatang di atas kertas, ia membuat kolase ular sepanjang dua meter. Dia baru kelas satu.

Comments

kika said…
hai....
mark adik matthew, mulai sering mengamuk
luc adiknya yg lebih kecil, mulai sering merajuk
3 anak ajaib itu butuh kita memeluknya seperti ibu atau sebagai ibu kalau boleh...
Nia Janiar said…
Aduh, kasihan :(

Popular Posts