Memori


Tadi saya ngobrol-ngobrol dengan rekan kerja saya mengenai pelatihan yang pernah diikuti. Saya bilang saya tidak pernah mengikuti pelatihan yang dimaksud. Rekan saya mengingatkan, "Bu Nia pasti pernah kok! Orang saya saja yang seangkatan dengan Bu Nia itu pernah!" Setelah diingat-ingat kapan dan dimana, baru saya ingat bahwa saya pernah ikut pelatihan yang dimaksud. Teman saya bilang, "Short term memory banget ya!"

Itu adalah kesekian kalinya orang kantor bilang begitu. Semakin lama, saya jadi semakin meyakini bahwa ingatan saya ini pendek sekali. Misalnya saat mau minum di kantor, saya melihat gelas saya dalam kondisi terbuka. Saya tidak ingat apakah tadi pagi saya sudah minum atau belum. Misalnya saat saya mau menceritakan film yang saya tonton tadi siang, malamnya saya sudah lupa. Misalnya saat saya mau berbicara lalu dipotong, maka saya akan lupa. Misalnya saya pernah menulis atau berkata sesuatu, saya tidak percaya bahwa saya pernah menulis atau bicara hal tersebut. Misalnya saat saya ditanya, "Nia, kamu sudah nonton film Once?" Saya mengaku belum padahal jelas-jelas pernah ditulis di blog saya bahwa Once ini adalah satu satu film kesukaan saya.

Ah, bagaimana bisa saya melupakan sesuatu yang pernah saya sukai?

Saya tanya ke teman saya, teman saya bilang mungkin saya enggak memaknai atau tidak memberi atensi pada hal yang saya lewati. Saya tanya ke teman saya yang lain, teman saya bilang bahwa mungkin saya terlalu banyak melewati hal yang harus diingat. Tidak peduli, tidak jeli, enggan berpikir, enggan mengingat-ingat, atau memang bodoh saja?

Yang pasti, saya akan butuh ini banyak sekali:

Comments

Anonymous said…
Nia, katanya mau traktir gw?

-9iraqis
Nia Janiar said…
Sing sumpah, kalo masalah duit, gue inget!!
Neni said…
ya ampuuunnn nia, lucu bgt tuh memori card.

Kenapa ga yg 4 giga sekalian, biar pol!
Nia Janiar said…
Iya, kalo memory card itu di-upgrade atau beli sekalian sih? Haha.

Popular Posts