Potong Rambut

Cahaya lampu-lampu putih berkilau dibalik kaca salon di ujung kantor, memantulkan warna hitamnya rerambut yang menitikkan air basah dari kepala. Aku tidak sedang bermuram durja, namun kuputuskan untuk memotong yang mereka bilang mahkota.

Kres ... kres ... kres ...

Rambut-rambut berjatuhan dari balik sela-sela gunting. Melayang berhelai-helai dan jatuh ke lantai. Kemudian mereka disapu dan dikumpulkan di dalam sebuah pengki bersama rambut entah milik siapa. Samar-samar kudengar mereka membisikkan kalimat selamat tinggal.

Comments

Anonymous said…
OMG--tidak menyangka kalau rambut yg kulihat tadi sedramatis itu akhir riwayat mereka,madam
hehehe-berlebihan

-bolehliat-
Nia Janiar said…
Hahaha.. he euh. Dramatis banget ending-nya, Wi :P
Anonymous said…
Waduh.. Mau potong rambut tapi kok jadi sedihhh..

mtenggara.blogdetik.com
Nia Janiar said…
Tapi perlu itu. Untuk tidak memberatkan tunas muda. Hehe.
Sundea said…
Jadi inget lagunya Iwan Fals yang "Satu-satu", Ni ...
Nia Janiar said…
Wah, gak tau euy. Yang gimana tuh?

Popular Posts