Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2011

Lucid Dream

Lucid dream adalah mimpi dimana seseorang sadar bahwa ia sedang bermimpi. Saya sering kali mengalami hal ini, terutama paling sering dalam mimpi buruk, dan kadang saya menenangkan diri, "Tenang, Nia, ini hanya mimpi buruk ... hal-hal jelek ini tidak ada." Lalu saya mencubit diri saya agar terbangun.
Sensasinya seru, rasanya seperti hidup di dunia yang lain yang absurd. Saya menjadi legal melakukan hal-hal aneh.
Namun keseruan itu sudah lama hilang, semenjak mimpi saya diinvasi oleh satu orang. Setiap saya tidur, orang itu selalu muncul. Saya tidak suka dan saya tidak bisa mengusirnya dari mimpi saya. Semenjak dia datang dan hingga tadi malam, saya tidak bisa mengendalikan mimpi-mimpi saya lagi, bahkan ia sering jadi penyebab jejak aliran tangis di muka.
Lalu saya mulai menduga-duga, apakah ini karena saya mencoba menghindarinya di dunia nyata lalu ia menelusup masuk ke alam bawah sadar saya? Sialan. Saya mau dia keluar.



Gambar diambil dari sini.

Hikayat Sebuah Nama Belakang

Janiar.
Sekitar usia SMP dan SMA, ih, saya syebel sekali dengan nama saya karena terdapat pengulangan. Nia Janiar. Sangat sukuistis sekali. Coba kau cari adakah kosa kata sukuistis itu? Dan selain itu--yang saya yakini pada saat itu--nama belakang saya ini memalukan sekali!
Janiar. Tidak lazim. Apa itu?
Kebanyakan saya menggunakan nama depan saya saja ketika saya berurusan dengan orang lain. Saya malu setengah mati jika harus menyebutkan nama belakang saya. Selain itu--walau tanpa bermaksud menghina--teman-teman saya yang entah kenapa mereka menyorot eksistensi Janiar di belakang nama saya sehingga saya dipanggil Janiar, Jani, Jan, bahkan NJ. Oh, saya merasa ada yang men-stabilo nama belakang saya ini.
Begitu terus nasibnya hingga kuliah dan kerja. Namun keengganan pemakaian nama belakang sudah jauh berkurang dengan menggunakan nama lengkap dimana-mana (email, salah satunya). Dan lucunya teman-teman kerja saya yang merupakan teman-teman baru dan tidak mengenal riwayat pemanggilan nama, ik…

Surat Untuk Sakti

Untuk Sakti, rekan terbaik se-jagadraya,
Kutulis surat ini agar kau tahu bahwa kau adalah rekan terbaikku selama 10 bulan ini mengelilingi tanah air yang telah diperjuangkan dengan tumpahan darah ras Melayu. Kau juga perlu tahu bahwa ambisimu mencari manuskrip yang hilang hingga ke pelosok Merauke itu pantas diacungi beberapa jari jempol—bahkan diapresiasi di forum internasional lalu aku berpidato dengan bahasa Inggris pas-pasan di atas podium tentang kehebatanmu—jika aku bisa. Lihat Sakti, bahwa aku rela mempermalukan diriku di depan umum.
Memang sulit betul manuskrip penting itu dicari sehingga kamu kehabisan seluruh persediaan makanan dan kehilangan beberapa peralatan dan tertembak saat berada di perbatasan Papua. Kau tertembak di rusuk dan dengan obatan-obatan seadanya di tenda darurat ini kau sekarat, dipastikan beberapa jam lagi menuju mati. Tentu kematian tidak membuat kau takut karena selama 10 bulan petualangan ini kau selalu bercerita kau begitu mendamba kebesaran Ilahi, memuj…

Sangkuriang

Saat Sangkuriang menjadi pemuda yang gagah, berotot pejal laksana kuda liar, Dayang Sumbi tidak bisa untuk tidak jatuh hati. Siapa yang tahan berada satu rumah dengan lawan jenis yang bisa memberikan apa yang sudah absen selama ini?
Dayang Sumbi, dengan keriput pada kulit putihnya dan berambut hitam khas Pasundan, bagaimanapun tetap memikat. Entah masih muda atau sudah tua, mau cantik atau buruk rupa, tidak ada yang tidak tahan jika seorang perempuan mandi di sungai hanya berlipatkan sehelai samping saja. Manalagi sisa-sisa rambut basahnya tergerai malu-malu di atas tengkuknya yang seputih susu.
Maka, terjadilah percampuran itu di saat senja … saat matahari menghilang di Gunung Tangkuban Perahu—sebuah gunung yang dikisahkan sebagai perahu terbalik karena cinta yang tidak sampai yang tidak akan terjadi pada pasangan ini karena toh mereka saling menyukai. Dayang Sumbi sudah tahu betul itu anaknya karena si suami terkena kutuk jadi anjing dan melarikan diri sementara Sangkuriang bersamanya…

Angst

(Kenali Ia di tulisan sebelumnya: http://mynameisnia.blogspot.com/2009/07/kain-malam.html http://mynameisnia.blogspot.com/2010/10/aurora.html)

Saat mengantarkan temanku pulang, aku membereskan gelas yang baru ia minum dan sisa rokoknya yang berserakkan di asbak. Baru saja aku mengantarkannya ke gerbang rumah setelah melewati situasi yang ia anggap canggung. Mungkin karena saat itu aku baru menangis di depannya dan ia merasa bersalah. Padahal tidak perlu merasa begitu karena tidak ada yang salah dengan dirinya. Tidak pernah ada yang salah dengan orang lain.
Mataku pedih dan aku lelah. Setelah membereskan meja, aku bergegas masuk ke kamar. Sesuatu membelai lembut rambutku. Saat aku menoleh, kulihat ada secercah cahaya hijau di atas lantai 3, tempat biasa aku menghabiskan waktu jika malam untuk mengunjungi sesuatu yang sudah lama aku hiraukan. Ia yang mau berbicara denganku.
Dengan langkah gontai, aku naik ke lantai 3, menuju kursi yang sudah usang karena kehujanan dan terjemur beberapa kali…

Catatan Pinggir: Backpacker Menuju Bali

Saya dan Eka memutuskan untuk menghabiskan tahun ini di Bali. Dengan total 8 hari liburan, 2 hari perjalanan, dan 1 hari pergi ke Lombok, kami menghabiskan 5 hari 4 malam.

Kami berangkat pukul 8 pagi dari Bandung dengan menggunakan bis Pahala Kencana seharga Rp325.000,00 dan sampai di Terminal Ubung Denpasar pukul 6 sore. Walaupun bisnya bersih dan nyaman, tetap saja membuat bokong kami kebas. Keesokan harinya, kami beli tiket pulang dengan bis yang sama seharga Rp350.000,00.

Ada penyangga kakinya dan jarak antar bangkunya pas. Hebat.
Sesampainya di bis, kami naik ojek seharga Rp40.000,00/orang sampai Poppies Lane II. Saat itu pukul setengah 7 malam, kami datang dalam keadaan celana yang basah karena kehujanan selama di atas motor dan belum berhotel. Setelah menemukan banyak hotel murah yang sudah penuh, akhirnya kami menemukan Dua Dara Inn seharga Rp150.000,00/kamar dengan fasilitas dua tempat tidur, kamar mandi dalam, dan breakfast. Lima puluh ribu lebih mahal dari budget awal. Tapi …

Gili Trawangan dalam Satu Hari

Dalam liburan selama satu minggu di Bali (jurnal menyusul), saya dan teman saya, Eka, menyempatkan diri untuk loncat ke Lombok ala backpacker dalam sehari demi rasa penasaran. Hanya untuk mengecap pasir Gili Trawangan dan hanya untuk foto di plangnya sebagai tanda bukti pernah hadir di sana. Maka, ini adalah tanda matanya:
Gili Trawangan touchdown
Saya dan Eka berangkat dari Kuta di hari Minggu pukul 9 malam. Dari Kuta, awalnya kami mau naik ojek hingga Terminal Ubung, naik bis hingga Padang Bai, naik ferry, lalu estafet berbagai angkutan umum untuk mencapai Gili Trawangan. Namun hasil bertanya-tanya di terminal tentang bis yang langsung dari Terminal Ubung ke Mataram, membawa kami ke sebuah kemudahan. Kami kenal dengan penduduk lokal bernama Putu yang menawarkan jasa antar langsung dari Kuta ke Padang Bai dengan harga Rp100.000,00 per orang. Memang jika estafet angkutan seperti itu jadinya lebih murah, tapi karena berhubung kami pergi malam, maka kami memutuskan untuk menggunakan jas…

Balada di Tengah Laut

Nyatanya, dia perlu tahu bahwa ia yang aku pikirkan saat aku terombang-ambing di lautan. Saat itu pukul dua pagi, laut sedang pasang dan ombak menjalar liar kesana kemari. Aku, yang ada di dalam kapal Gayatri, menuliskan hal ini di dalam sebuah buku kecil yang selalu kubawa kemana-mana. Saat itu aku berpikir bahwa jika aku mati tenggelam, mungkin seseorang bisa menemukan buku tulis ini dan meraba-raba kata-kata yang dituliskan tinta yang telah luntur. Orang itu perlu tahu bahwa ada orang lain yang pernah sebegini merindu.

Saat itu kucoba larikan pikiran sadar ke alam tidur, berharap di sana aku bertemu sebuah rahim yang anehnya diberi oleh seorang pejantan dengan rasa aman dan nyaman, dan terkadang menjadi tempatku untuk jatuh lunglai dalam kegilaan yang nikmat. Harusnya saat terakhir sebelum aku pergi, aku meminta untuk bertemu dengannya di ujung pelabuhan Padang Bai sehingga aku bisa memotret imajinya lalu kusimpan rapat-rapat di dalam laci memori agar bisa kupinjam imajinya disaat-…