Angst

(Kenali Ia di tulisan sebelumnya:


Saat mengantarkan temanku pulang, aku membereskan gelas yang baru ia minum dan sisa rokoknya yang berserakkan di asbak. Baru saja aku mengantarkannya ke gerbang rumah setelah melewati situasi yang ia anggap canggung. Mungkin karena saat itu aku baru menangis di depannya dan ia merasa bersalah. Padahal tidak perlu merasa begitu karena tidak ada yang salah dengan dirinya. Tidak pernah ada yang salah dengan orang lain.

Mataku pedih dan aku lelah. Setelah membereskan meja, aku bergegas masuk ke kamar. Sesuatu membelai lembut rambutku. Saat aku menoleh, kulihat ada secercah cahaya hijau di atas lantai 3, tempat biasa aku menghabiskan waktu jika malam untuk mengunjungi sesuatu yang sudah lama aku hiraukan. Ia yang mau berbicara denganku.

Dengan langkah gontai, aku naik ke lantai 3, menuju kursi yang sudah usang karena kehujanan dan terjemur beberapa kali. Aku duduk sementara Ia sudah menunggu. Kusandarkan punggungku, kulipat kedua tangan di dada.

"Kau yang menyebabkan aku begini," ujarku sambil mendengus kesal. "Kau membuatku merasakan hal-hal seburuk ini."

Ia hanya diam saja. Kedua matanya menatapku lalu bertanya dengan lembut, "Lega rasanya sudah menangis? Karena kau tidak pernah seperti ini."

Aku mengangguk, "Tidak pernah ada orang yang tahu tentang hal ini. Kecuali Kau. Ya, tentu saja, karena Kau bukan orang. Kau adalah sesuatu yang aku ciptakan untuk bisa aku gantungkan harapkan atau aku salahkan jika hal-hal buruk menimpaku."

"Aku adalah sebagaimana yang manusia persepsikan," ujarnya. Tidak berteriak namun suaranya membahana ke seluruh cakrawala dan cahayanya memerah. Lututku lunglai, seluruh badanku bergetar.

"Kau adalah sebagaimana aku mempersepsikan." Aku mengulang kata-kata itu, berbisik-bisik di mulut sehingga hanya terdengar oleh telinga sendiri. Kuangkat kedua kakiku ke atas kursi, kurekatkan ke dada, dan kupeluk keduanya. "Tahukah Kau bahwa aku agak bersyukur malam itu? Tidak menyelesaikan masalah tapi setidaknya aku tahu bahwa ada sebuah tujuan yang Kau ciptakan: Kau membukakan sebuah cakrawala baru tentang sebuah diri dan hubungan antar manusia, untuk tahu bahwa aku tidak sendiri dan bahkan bisa saling membantu, untuk merasa dipahami, memberi sesuatu berdasarkan perspektif tertentu. Kau baru menciptakan sebuah konstruksi dan tidak akan pernah aku menyesalinya."

"Aku memberikan hal-hal yang butuhkan, kau tahu?"

Aku mengangguk. "Aku tahu," ujarku agak sok tahu.

"Lalu kenapa kau tidak mengerti juga bahwa jika Aku tidak memberikan sesuatu itu artinya kau tidak membutuhkan. Artinya, kau tidak akan hancur oleh sebuah absensi atas sesuatu karena kau tidak perlu. Malah kau akan menambah sesuatu."

"Tidak akan kudengar sekarang karena aku perlu waktu memahami. Semoga Kau memberikan kami semua kekuatan untuk mampu menolong diri sendiri."

Kulihat Ia tidak pernah sekecewa ini. CahayaNya agak redup kemudian menghilang. Aku beranjak dari kursi dan berjalan menuruni tangga. Kucari-cari sebuah presensi namun yang kurasa hanyalah sebuah malam yang lebih dingin dari biasa.

Comments

Popular Posts