Balada di Tengah Laut

Nyatanya, dia perlu tahu bahwa ia yang aku pikirkan saat aku terombang-ambing di lautan. Saat itu pukul dua pagi, laut sedang pasang dan ombak menjalar liar kesana kemari. Aku, yang ada di dalam kapal Gayatri, menuliskan hal ini di dalam sebuah buku kecil yang selalu kubawa kemana-mana. Saat itu aku berpikir bahwa jika aku mati tenggelam, mungkin seseorang bisa menemukan buku tulis ini dan meraba-raba kata-kata yang dituliskan tinta yang telah luntur. Orang itu perlu tahu bahwa ada orang lain yang pernah sebegini merindu.

Saat itu kucoba larikan pikiran sadar ke alam tidur, berharap di sana aku bertemu sebuah rahim yang anehnya diberi oleh seorang pejantan dengan rasa aman dan nyaman, dan terkadang menjadi tempatku untuk jatuh lunglai dalam kegilaan yang nikmat. Harusnya saat terakhir sebelum aku pergi, aku meminta untuk bertemu dengannya di ujung pelabuhan Padang Bai sehingga aku bisa memotret imajinya lalu kusimpan rapat-rapat di dalam laci memori agar bisa kupinjam imajinya disaat-saat kritis seperti ini. Kini aku lupa pakaian terakhir yang ia kenakan.

Kukerjap kedua mataku yang basah. Kerinduan ini begitu melenakan.



Lombok, 27 Desember 2010

Comments

dariusliu said…
aww, that sad
Nia Janiar said…
Iya :(
Muheinz is me said…
ooohh..
Nia Janiar said…
Oh apa, Jen?
jek said…
eh, liburan kok malah sedih.
Anonymous said…
Fiksi lho, Jeekk.


- Nia

Popular Posts