Skip to main content

Catatan Pinggir: Backpacker Menuju Bali

Saya dan Eka memutuskan untuk menghabiskan tahun ini di Bali. Dengan total 8 hari liburan, 2 hari perjalanan, dan 1 hari pergi ke Lombok, kami menghabiskan 5 hari 4 malam.

Kami berangkat pukul 8 pagi dari Bandung dengan menggunakan bis Pahala Kencana seharga Rp325.000,00 dan sampai di Terminal Ubung Denpasar pukul 6 sore. Walaupun bisnya bersih dan nyaman, tetap saja membuat bokong kami kebas. Keesokan harinya, kami beli tiket pulang dengan bis yang sama seharga Rp350.000,00.

Ada penyangga kakinya dan jarak antar bangkunya pas. Hebat.

Sesampainya di bis, kami naik ojek seharga Rp40.000,00/orang sampai Poppies Lane II. Saat itu pukul setengah 7 malam, kami datang dalam keadaan celana yang basah karena kehujanan selama di atas motor dan belum berhotel. Setelah menemukan banyak hotel murah yang sudah penuh, akhirnya kami menemukan Dua Dara Inn seharga Rp150.000,00/kamar dengan fasilitas dua tempat tidur, kamar mandi dalam, dan breakfast. Lima puluh ribu lebih mahal dari budget awal. Tapi sejujurnya pada saat itu kami sudah lelah dan setidaknya kami sudah aman dapat penginapan.


Hari pertama, setelah pergi ke Terminal Ubung untuk beli tiket pulang, kami pergi ke Tanah Lot. Sejujurnya Tanah Lot ini dekat dari Kuta tapi berhubung kami ke Denpasar dulu, maka harus berputar jauh sekali. Peta yang sudah kami beli di kapal seharga Rp19.000,00 pun tidak terlalu membantu sehingga kami bertanya kesana-kemari menggunakan motor yang kami sewa Rp50.000,00/12jam. Di daerah Tuban, kami dibantu oleh seorang polisi yang ramah sekali. Dia bertanya, "Ini cantik-cantik pacarnya kemana?" Haha. Akhirnya, sampai di Tanah Lot dengan tiket masuk plus parkir Rp17.000/2 orang, kami menemukan tempat wisata ini penuh sekali. Sempat terjadi keributan karena ada seorang copet yang akhirnya tertangkap juga.

Bukan ini copetnya!

Bertanya-tanya, bagaimana mereka ke sana, ya?

Setelah dari Tanah Lot, kami nekat pergi ke Ubud. Bertanya ke penduduk sekitar dan mengetahui bahwa Ubud itu jauh sekali sempat membuat gentar. Saat di jalan, kami mampir dulu ke Taman Ayun yang tidak ada ayunan. Karena sudah kepalang setengah jalan, akhirnya kami nekat pergi ke Ubud. Wah, tempat ini nyeni sekali. Di sana kami berkunjung ke Monkey Forest yang tiket masuknya Rp20.000,00. Eka sempat protes karena dia takut monyet dan harus mengeluarkan uang banyak untuk uji nyali bersama monyet. Tapi kita sudah pergi sejauh ini, Eka. Rupanya kami tidak menjelajah seluruh area yang belakangan diketahui denahnya ada di brosur Monkey Forest karena sudah takut dengan monyet duluan.

Ya, ya ... di situ .. ah, enaknya ...

Konon kata orang makanan di Bali ini mahal. Tentu tidak jika kau belinya di pasar. Tips untuk para backpacker yang menekan budget sekecil mungkin, kalian bisa beli nasi bungkus yang cukup mengenyangkan Rp5.000,00. Waktu itu saya beli di pasar Sukowati saat dalam perjalanan dari Ubud menuju Kuta untuk makan malam di hotel. Rasanya kayak sampah. Tapi lebih mending dari malam pertama saat kami beli air panas seharga Rp1.500,00 per gelas untuk membuat Pop Mie yang sudah saya bawa dari Bandung.

Sepulang dari sana, kami pergi ke Gili Trawangan, Lombok (simak ceritanya di http://mynameisnia.blogspot.com/2011/01/gili-trawangan-dalam-satu-hari.html)

Hari ke dua di Bali, kami pergi ke daerah selatan yaitu Uluwatu. Sebelumnya setengah harian Kuta sempat hujan dan Eka sempat sakit sehingga kami berada di hotel hingga pukul 2 siang. Karena hari sudah kepalang mau sore, saya memutuskan sebaiknya kami pergi ke Uluwatu sekalian menyaksikan Tari Kecak yang biasanya ada saat matahari tenggelam. Berbekal motor dan jas hujan yang kami beli di Bandung, kami pergi ke Uluwatu. Perjalanan terasa ringan karena sebelumnya kami sudah pergi jauh sekali di utara.

Para ksatria berjas hujan


Di jalan Uluwatu, kami beli nasi pecel seharga Rp7.000,00. Sepertinya bisa dua ribu lebih murah, tapi karena tahu kami turis, maka kami dimahalin. Rasanya biasa saja tapi kami sudah lapar. Kami sampai di Uluwatu pukul setengah empat sore. Di sana hujan rintik-rintik. Padahal saya mengharapkan panas karena jika tidak ada awan mendung, maka sunsetnya akan jelas dan menonton Tari Kecaknya bisa yahud sekali. Saya kecewa berat karena Uluwatu ini jalannya jelek, becek, dan kotor sekali. Begitu berbeda saat saya beberapa tahun yang lalu ke sana. Dengan jas hujan, kami jalan-jalan bersama para monyet yang entah mengapa mereka saat itu sangat liar. Selain itu ada beberapa barang wisatawan yang diambil seperti topi, kacamata, bahkan sandal. Ini monyet apa maling?

Setelah membeli tiket untuk Tari Kecak seharga Rp70.000,00 (!!) kami mengambil tempat duduk yang paling tinggi. Ini sangat enak sekali karena jika ada orang yang membuka payung, setidaknya tidak terlalu blocking pemandangan. Tari Kecaknya bercerita tentang Ramayana yang sudah dibalut modernitas dan hiburan kepada para penonton. Klimaksnya adalah saat Hanoman dibakar oleh pasukan Rahwana. Sementara klimaks untuk Eka adalah melihat pria-pria bertelanjang dada. Haha.

Versi saya

Versi Eka

Hari ketiga, kami masih ke daerah yang sama yaitu GWK dan Pantai Jimbaran yang sama-sama di daerah selatan dan masih satu arah dengan jalan menuju Uluwatu. Masuk ke GWK Rp25.000,00 dengan sebuah perempuan berdada besar nan menganggu dan jutek--entah apa maksudnya. Hey, kami tidak iri dengan dadamu, wahai perempuan berkalung dada! Sepulang dari sana, kami pergi ke Jimbaran. Wah, di sini tidak terlalu ramai dan banyak keluarga bule yang makan di restoran pinggir pantai sambil menunggu matahari terbenam. Selain itu, pantainya bersih dan tempatnya nyaman.


Karena merasa tidak mampu untuk membeli seafood di sana, kami makan nasi dan ayam goreng di pinggir jalan seharga Rp11.000,00. RASANYA ENAK TENAN! Jujur, bukan karena lapar, tapi karena kering dan bumbunya gurih. Apa karena selama dua hari ini makan makanan basa terus?


Hari keempat, kami pergi Istana Tampaksiring di utara yang diakhiri kekecewaan karena sudah jauh-jauh ke sana tapi warga tidak bisa masuk pula. Diperlukan sebuah surat pengantar berkunjung dan pakaian rapi supaya bisa masuk. Kecewa dan menuju pulang, untuknya Eka melihat plang Pura Tirta Empul yang jaraknya hanya beberapa meter dari sana. Akhirnya kami masuk dengan harga Rp15.000,00/orang. Setelah berkeliling, kami berbelanja pernak-pernik keperempuanan. Mungkin saking kalutnya, Eka sampai kehilangan kacamata hitamnya di sana.

Peraturan Istana Tampaksiring

Sepulang dari sana, kami makan nasi plus ikan di Sukowati seharga Rp12.000,00. Lumayan enak. Sesudah makan, kami beli nasi satu porsi seharga Rp3.000,00 dan berencana membeli martabak asin di Kuta. Agaknya kami sudah enggan makan nasi campur, nasi pecel, atau nasi basa lainnya.

Hari kelima diawali dengan berenang di pagi hari yang airnya--entah kenapa--membuat mata saya blur untuk beberapa jam. Kami mengagendakan hari ini agak santai karena nanti malam kami mau tahun baruan untuk lihat pesta kembang api. Setelah berenang, kami menyusuri Pantai Kuta dan berencana hingga Legian (yang akhirnya tetap jadi rencana karena tidak kuat pula). Setelah jalan, kami pergi ke Denpasar untuk melihat Museum Bali yang ternyata tutup. Kecewa, kami berusaha mengejar sunset di Pantai Sanur yang ternyata di sana adalah tempat matahari terbit dan yang membuat kecewa lagi adalah Sanur sudah seperti Pantai Pangandaran yang banyak orang, banyak yang jualan, dan penuh dengan sampah! Tidak ada 5 menit kami di sana, kami pergi ke Pantai Nusa Dua dan berkenalan dengan salah satu marketing water sport-nya. Ternyata ada dua jenis pantai: pantai biasa dan pantai sport. Karena sudah pasti tidak akan olahraga juga, maka kami langsung ke pantai biasa.

Tempat di Nusa Dua ini enak sekali, saudara-saudara! Cottage dan resort-nya serta area yang dibatasi oleh satpam membuat lingkungan ini seperti perumahan beserta pantai pribadi. Saat sampai pantainya, wah, tidak banyak orang dan bersih sekali. Selain itu, tidak ada ombak sehingga sangat cocok untuk berenang. Saya agak menyesal tidak bawa baju renang dan tidak bawa baju ganti sehingga saya cuman bisa icip-icip di pinggir pantai, tidak bisa skin diving. Nusa Dua adalah pantai yang kami rekomendasikan jika kau akan ke Bali suatu hari nanti.


Malamnya, kami pergi pukul 8 lebih dari hotel dan menunggu tahun baru di McD Kuta Square hingga pukul sebelas lebih lima belas menit. Setelah itu, kami jalan menuju pantai yang sudah ramai dari kembang api sedari tadi siang. Jalanan Kuta sudah seperti Kota Kembang Bandung, dimana musik-musik beradu saling kencang, dan pantai sudah seperti diisi banyak anak kampung yang sibuk main kembang api dan petasan. He. Tentunya kejadian kembang api meledak di tangan pun tidak terelakkan.

Makannya pelan-pelan, biar gak diusir
Riuh rendah dan gegap gempita orang menyabut tahun baru membuat jalan pulang menuju hotel ini penuh sekali. Dari bule mabok, orang-orang yang siap dugem, dan orang daerah yang minta tebengan payung. Saat itu diguyur hujan dan jalanan menjadi becek. Belum lagi ada orang yang ribut karena dicopet, ada yang ribut karena dituduh pencopet, ada yang ribut karena bersenggolan tidak sengaja, daaaan drama lainnya. Kami bersyukur sekali bisa sampai di Dua Dara pukul satu lima belas. Edyan.

Besoknya kami ke Terminal Ubung menggunakan ojek hasil kenalan seharga Rp50.000,00 dan sampai Bandung hingga selamat. Di jalan, kami banyak tidur.

Liburan ini terasa sangat melelahkan karena mungkin ini adalah kali pertama kami tidak menggunakan jasa tours and travel. Kami jadi harus mikir mau kemana, makan apa, dan tidur dimana. Namun kelebihannya adalah waktu terasa lebih santai dan kami banyak sekali berkenalan dengan warga lokal, cocok untuk anak muda yang ingin berlama-lama. Jika ingin cepat, teratur, dan tidak terlalu melelahkan, sebaiknya menggunakan jasa tours and travel saja. Jangan lupa jika kau menemukan harga-harga di internet, dilebihkan Rp5.000,00-Rp10.000,00 sebagai harga high season dan harga turis. Budget kami jadinya melar karena hal tersebut tidak terantisipasi.

Selamat tahun baru!

Comments

Andika said…
Hihihi, catatan perjalanannya ada yang disensor ga nih?!
Nia Janiar said…
Ya ada lah. Haha.
M. Lim said…
NEVER! swim in any hotel swimmingpool without goggles. Aku pernah blur sampai buta 12 jam gara-gara berenang di kolam ga pake goggles. Di Poppies Lane itu. ih. Malash.
Itu efek kaporitnya.
Nia Janiar said…
Ah serius sampe buta?? Saya akan lebih rajin pakai goggles baik di hotel maupun kolam renang umum.
andriani retno said…
wa... lengkap... jadi mau kesana :)))

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…