Skip to main content

Gili Trawangan dalam Satu Hari

Dalam liburan selama satu minggu di Bali (jurnal menyusul), saya dan teman saya, Eka, menyempatkan diri untuk loncat ke Lombok ala backpacker dalam sehari demi rasa penasaran. Hanya untuk mengecap pasir Gili Trawangan dan hanya untuk foto di plangnya sebagai tanda bukti pernah hadir di sana. Maka, ini adalah tanda matanya:

Gili Trawangan touchdown

Saya dan Eka berangkat dari Kuta di hari Minggu pukul 9 malam. Dari Kuta, awalnya kami mau naik ojek hingga Terminal Ubung, naik bis hingga Padang Bai, naik ferry, lalu estafet berbagai angkutan umum untuk mencapai Gili Trawangan. Namun hasil bertanya-tanya di terminal tentang bis yang langsung dari Terminal Ubung ke Mataram, membawa kami ke sebuah kemudahan. Kami kenal dengan penduduk lokal bernama Putu yang menawarkan jasa antar langsung dari Kuta ke Padang Bai dengan harga Rp100.000,00 per orang. Memang jika estafet angkutan seperti itu jadinya lebih murah, tapi karena berhubung kami pergi malam, maka kami memutuskan untuk menggunakan jasa Putu.

Perjalanan dari Kuta menuju Padang Bai sekitar satu setengah jam. Saat itu saya tertidur sampai saya terbangun di tempat yang penuh semak belukar beserta pria gagah yang sedang berdiri di depan saya dan bertelanjang dada. Bercanda. Ternyata saya sudah sampai di pelabuhan Padang Bai setelah dibangunkan oleh Eka. Dalam keadaan setengah sadar, saya disorientasi ruang dan kesulitan menemukan pintu masuk. Tapi saya cukup sadar untuk takut karena beberapa orang di sana terus memperhatikan kami. Saat itu pukul setengah 11 malam.

Harga tiket ferry--yang entah kapan berubah--menjadi Rp36.000,00. Kapal akan berangkat pukul 12 malam, jadi kami harus menunggu di pelabuhan. Untungnya di sana ada ruang tunggu dan ada beberapa orang yang sedang menunggu. Jujur, saya ngantuk sekali sementara situasi tidak aman untuk tidur. Untuk mengusir kantuk dan ingin ke kamar mandi, saya minta Eka mengantarkan. Saat di sana, kami berkenalan dengan sebuah keluarga asli Lombok yang bersedia diikuti hingga Mataram.

Jadi, sebenarnya mereka orang Lombok yang sedang berlibur di Bali. Sambil menunggu, kami mengobrol dengan mereka. Selain itu mengetahui apakah mereka bisa dipercaya, kami pun harus menumbuhkan rasa percaya bahwa kami tidak akan merepotkan. Ternyata mereka baik sekali dari kami menunggu kapal, masuk, hingga duduk bersama di dalam kapal. Selain itu, kami ditawari roti pula untuk mengganjal perut. Sementara itu salah seorang dari mereka menyarankan kami untuk turun di dekat rumahnya di daerah Cakra dan naik angkutan dari situ. Kami nurut saja.

Di internet, kami menemukan informasi bahwa orang-orang di sana kurang ramah. Benar saja. Saat kami menginjakan kaki di Lombok (kapal berangkat pukul 1 pagi dan kami sampai di Pelabuhan Lembar pukul 5), terjadi adu mulut antara pemilik angkutan karena rebutan penumpang. Saya dan Eka hanya nonton saja sementara keluarga Lombok ini berada di lini terdepan. Untunglah, karena selain ada mereka, rupanya jika subuh begitu, belum ada angkutan di Pelabuhan Lembar. Jadi, untuk kalian yang mau ke Lombok, sebaiknya berangkat subuh dari Padang Bai sehingga sampai di Lembarnya pagi dan ada angkutan.

Kami diberi harga Rp15.000,00/orang untuk sampai Cakra. Sampai di Cakra, kami dicegatkan angkutan umum yang isinya ibu-ibu dengan belanjaannya hingga Pasar Kebon Rewu. Harga angkotnya Rp3.000,00. Rupanya dari sana, tidak ada angkutan menuju Pelabuhan Bangsal. Maka dengan diantarkan supir angkot, kami diantarkan ke tempat angkotnya berada. Biayanya Rp3.000,00 pula. Setelah sampai di tempat angkot selanjutnya, kami dikenalkan oleh seorang kenek tua yang biasa nongkrong di situ yang bertugas untuk menunjukkan angkot selanjutnya. Setelah menunggu lama, akhirnya datang yang dimaksud. Sebuah elf yang berbiaya Rp10.000,00 hingga Pelabuhan Bangsal.

Perlu diperhatikan: kenek tidak akan bilang 'Bangsal' melainkan 'Pemenang'. Jadi, rutenya elfnya tidak ke Bangsal melainkan ke Pemenang. Nah, kita berhenti di situ lalu naik cidomo (delman) seharga Rp3000,00. Saat itu kami melewati Pemenang jauh sekali sehingga harus balik lagi. Selain itu, harga cidomo harusnya seribu lebih murah.

Orang-orang di sana pakai sarung seperti ini


Angkutan yang membawa kami balik ke Pemenang


Cidomo yang bisa meminta Rp10.000,00. Jangan mau!

Sampai di Pelabuhan Bangsal, kami membeli tiket menyebrang ke Gili Trawangan sebesar Rp10.000,00. Kapal berangkat jika sudah penuh sehingga kami menunggu. Sambil menunggu, saya dan Eka makan nasi bungkus yang enak sekali seharga Rp5.000,00. Sambil makan, kami berkenalan dengan dua orang pemuda lokal yang menawarkan menjadi guide tanpa dibayar. Selain itu, dia mencoba mempersuasi kami untuk menginap di tempatnya. Kami tanggapi saja, tapi tetap saja harus hati-hati.


Bersama sayur mayur

Menginjak Gili Trawangan, kami agak kaget menemukan pantai ini kotor sekali. Di dekat pintu masuk, banyak barang-barang dagang yang baru diangkut dari Lombok. Selain itu tamu harus lapor di sebuah tenda dimana para petugas berada. Kami harus memperlihatkan KTP dan memberitahu apakah kami menginap atau tidak. Jika tidak menginap, biaya retribusinya Rp1.000,00/orang. Sementara si pemuda itu mengajak kami ke kost-kostannya, kami menolak dengan alasan akan melakukan snorkeling. Maka, dengan waktu yang sempit, kami bergegas mencari penyewaan snorkel seharga Rp30.000/orang sudah termasuk goggle, mask, dan fin.


Yang jaga namanya Edi. FYI :)

Kami hanya melakukan skin diving di daerah pesisir pantai saja. Sayangnya, terumbu karangnya kurang begitu bagus, tapi masih banyak ikan warna-warni dan sebuah bintang laut berwarna biru. Karena saya takut berada di laut dalam, saat Eka mengajak ke tempat dalam, saya menolak. Saya masih belum bisa berhadapan dengan warna air laut yang semakin gelap, suhu yang semakin dingin, dan dasar yang semakin menjauh. Setelah Eka eksplor sendirian, ia melaporkan bahwa di sana tidak ada apa-apa selain pasir saja.

Sebetulnya tidak adil jika mengatakan bahwa area snorkeling/diving-nya tidak bagus karena kami hanya melakukan di area tertentu. Mungkin, entah di bagian mana yang belum kami jamah, ada tempat yang bagus. Mungkin.


Jalanan di Gili Trawangan

Kami berenang dan jalan-jalan di pinggir pantai selama kurang lebih 3 jam. Setelahnya kami mandi di toilet umum seharga Rp3.000,00 dengan air yang asin. Setelahnya, kami membeli tiket menyebrang dengan harga yang sama dan naik angkutan yang sama menuju Lembar. Sayangnya, pada saat menuju Pelabuhan Lembar, kami ditipu oleh supir angkotnya. Kesepakatannya sih Rp10.000,00/orang tapi ia tidak mengembalikan uang kembalian sebagaimana seharusnya. Selain itu, saat kami mau turun dari angkot, ada tiga orang pemuda yang berbadan tinggi besar yang menawarkan tiket ferry menuju Padang Bai dengan teriak dan memaksa. Tiketnya disodorkan langsung di muka Eka sambil berkata, "INI JUGA TIKET ASLI. HARGANYA SAMA!" Jadi, walaupun kata mereka asli dan harganya sama, tetaplah beli tiket di tempat yang seharusnya.

Berdua dengan Eka agak seram juga. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika hanya perempuan sendirian yang pergi ke sana. Pengalaman ini membikin saya semakin peka terhadap dualisme baik dan buruk pada diri manusia. Terima kasih untuk para supir angkot yang sudah dengan baik hatinya membantu perjalanan kami, dan tentunya untuk keluarga Lombok yang merelakan kami masuk dan membagi makanannya. Tidak satupun kami tahu namanya.

Saya akan tulis tips dan harga perjalanan di Bali selama beberapa hari. Untuk melihat tulisan lainnya mengenai jalan-jalan, silahkan berkunjung ke:



Selamat jalan-jalan!

Comments

Andika said…
Ih serunya!
Nia Janiar said…
Sayangnya cuma sebentar, Dik :)
M. Lim said…
jangan pergi waktu high season. Februari biasanya sepi :D
Nia Janiar said…
Kalau jadwal kerjanya hanya libur di high season dan gak bisa ngambil cuti di bulan biasa, mau gak mau waktu liburannya hanya di waktu anak libur sekolah :(
anta said…
my plan is this september, sendirian.. tp jadi agak ngeri yaa :D
Nia Janiar said…
Kalau pakai pesawat dan lewat bandara sih gak apa-apa. Tapi jangan deh kalau mau lewat pelabuhan Lembar. Calonya gak nahaannnn.. he..

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…