Skip to main content

Hikayat Sebuah Nama Belakang

Janiar.

Sekitar usia SMP dan SMA, ih, saya syebel sekali dengan nama saya karena terdapat pengulangan. Nia Janiar. Sangat sukuistis sekali. Coba kau cari adakah kosa kata sukuistis itu? Dan selain itu--yang saya yakini pada saat itu--nama belakang saya ini memalukan sekali!

Janiar. Tidak lazim. Apa itu?

Kebanyakan saya menggunakan nama depan saya saja ketika saya berurusan dengan orang lain. Saya malu setengah mati jika harus menyebutkan nama belakang saya. Selain itu--walau tanpa bermaksud menghina--teman-teman saya yang entah kenapa mereka menyorot eksistensi Janiar di belakang nama saya sehingga saya dipanggil Janiar, Jani, Jan, bahkan NJ. Oh, saya merasa ada yang men-stabilo nama belakang saya ini.

Begitu terus nasibnya hingga kuliah dan kerja. Namun keengganan pemakaian nama belakang sudah jauh berkurang dengan menggunakan nama lengkap dimana-mana (email, salah satunya). Dan lucunya teman-teman kerja saya yang merupakan teman-teman baru dan tidak mengenal riwayat pemanggilan nama, ikut memanggil Janiar saja.

Seiring perjalanan hidup, saya diyakinkan oleh teman-teman bahwa nama akhir saya ini baik-baik saja dan bahkan bagus adanya. Kayak nama seniman--ujar salah satu teman saya agak hiperbola. Saya jadi mempergunakan kesensitivitasan orang lain akan nama saya ini supaya eksistensi saya mudah diingat.

Kalau ditanya apa artinya, saya akan menjawab karena saya lahir di bulan Januari, sementara keluarga saya akan menjawab karena ada salah satu kerabat keluarga bersuku Padang yang pintar. Mereka berharap anaknya sepintar kerabatnya. Oh, amin, Tuhan.

Awalnya saya mau diberi nama Janiar saja. Titik. Tanpa embel-embel nama depan atau belakang. Tapi karena kasihan, akhirnya ditambahkan Nia di depannya. Nia Janiar. Dulu saya ingin nama saya agak panjang--minimal tiga suku kata--seperti orang lain. Kayaknya keren gitu. Oleh karena itu saya ingin menambahkan nama orang lain yang bagus di belakang nama saya. Tapi lama kelamaan saya pikir kalau nama enggak usah panjang-panjang deh. Lebih pendek lebih keren. Banyu Biru. Btari. Bima Sakti. Sjora.
Aditya Warman.


Dan di hari ini, pemberian nama itu tepat 24 tahun yang lalu. Bangga rasanya karena tidak semua orang memilikinya.

Comments

Muheinz is me said…
hehe, jadi inget jaman kuliah ada yang manggil "jainar" siapa sih? pak mif ya yang manggil gitu?
Muheinz is me said…
oh iya, btw. selamat ulangtahun
Nia Janiar said…
Haha, iya, Jen. Pak Mif yang selalu manggil itu. Walopun udah dibenerin berkali2.. tetep ajyaaa.. btw, thanks.
Sundea said…
Wooow ... ulangtauunnn ...

Selamat,ya ...

Anw, nama lo bagus. Somehow gue ngerasa nama itu representatif banget sama karakter lo ...
Nia Janiar said…
Makasih buat ucapannya, De. Nama lu juga bagus! Gue maauu. Hehe. Representatif gimana, De?
alavya-shofa said…
ih, sama banget kayak aku. dulu mah malu banget sama nama sendiri, asa misleuk, hee, sekarang mah oke-oke aja :)
Nia Janiar said…
Bagus kok, Neng.. kayaknya Shofa Mushofahah mah lebih ada effort-nya ketimbang Nia Janiar :p
G4reeLa said…
eh, kaget juga baca ini. karena buat gw nama lu unik sekali. gw selalu membayangkan ada novel atau buku trus didepannya ada nama pengarangnya: Nia Janiar. pas banget rasanya.

Dan soal nama yang pendek2. Desember yang lalu ada temen gw yang bingung nyari nama belakang untuk anaknya karena dia ga pengen ngasih nama depan aja. ternyata alasannya, kalo lu cuma punya satu nama, susah sekali kalo membuat paspor. soalnya temen gw itu bercita2 supaya anaknya nanti bisa pergi ke mana pun tanpa terhalang oleh nama.

oya, btw, selamat ulang tahun. sungguh telat sebulan. maaf.
Nia Janiar said…
Eymen, sister, eymen!!

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…