Sangkuriang

Saat Sangkuriang menjadi pemuda yang gagah, berotot pejal laksana kuda liar, Dayang Sumbi tidak bisa untuk tidak jatuh hati. Siapa yang tahan berada satu rumah dengan lawan jenis yang bisa memberikan apa yang sudah absen selama ini?

Dayang Sumbi, dengan keriput pada kulit putihnya dan berambut hitam khas Pasundan, bagaimanapun tetap memikat. Entah masih muda atau sudah tua, mau cantik atau buruk rupa, tidak ada yang tidak tahan jika seorang perempuan mandi di sungai hanya berlipatkan sehelai samping saja. Manalagi sisa-sisa rambut basahnya tergerai malu-malu di atas tengkuknya yang seputih susu.

Maka, terjadilah percampuran itu di saat senja … saat matahari menghilang di Gunung Tangkuban Perahu—sebuah gunung yang dikisahkan sebagai perahu terbalik karena cinta yang tidak sampai yang tidak akan terjadi pada pasangan ini karena toh mereka saling menyukai. Dayang Sumbi sudah tahu betul itu anaknya karena si suami terkena kutuk jadi anjing dan melarikan diri sementara Sangkuriang bersamanya sedari kecil. Ini murni hubungan incest, oedipal, dan pedofilia tapi mereka menikmatinya.

Mereka hidup layaknya suami istri saja. Sangkuriang dilayani kapanpun ia meminta dan Dayang Sumbi rela menjadi pesuruhnya. Sampai akhirnya Dayang Sumbi merasa ada sesuatu yang aneh di perutnya, yang sudah lama tidak ia rasakan semenjak mengandung anak pertama. Saat itu Dayang Sumbi berusia 38.

Sembilan bulan mengandung, akhirnya ia melahirkan juga dengan dukun beranak yang dipanggilkan Sangkuriang di dusun sebelah. Keluarlah anak perempuan thalasemia tanpa tahu tanggal, bulan, dan bahkan tahun. Yang pasti saat itu, langit Pasundan tampak kemerahan untuk pertama kalinya.

Semenjak punya anak, Sangkuriang harus bekerja dan Dayang Sumbi harus bisa menambah penghasilan pula. Maka, Nayang Wulan – anak cantik nan rupawan – bermain di hutan sendirian. Tanpa alas kaki, ia berlari ke sana kemari hingga terluka dan darahnya tidak mau berhenti. Saat itu, dari kejauhan, seekor anjing yang kelaparan mengendus bau anyir yang memabukkan. Ia mencari-cari sumber bau hingga ia menemukan seorang anak perempuan.

Nayang Wulan tidak bisa berlari saat anjing itu mendekatinya dan menjilati darahnya. Ia juga hanya bisa berteriak saat anjing mulai menggigitinya.


Comments

yudo said…
lagi sadis lu yak?
Nia Janiar said…
Haha, iya.

Popular Posts