Surat Untuk Sakti

Untuk Sakti, rekan terbaik se-jagadraya,

Kutulis surat ini agar kau tahu bahwa kau adalah rekan terbaikku selama 10 bulan ini mengelilingi tanah air yang telah diperjuangkan dengan tumpahan darah ras Melayu. Kau juga perlu tahu bahwa ambisimu mencari manuskrip yang hilang hingga ke pelosok Merauke itu pantas diacungi beberapa jari jempol—bahkan diapresiasi di forum internasional lalu aku berpidato dengan bahasa Inggris pas-pasan di atas podium tentang kehebatanmu—jika aku bisa. Lihat Sakti, bahwa aku rela mempermalukan diriku di depan umum.

Memang sulit betul manuskrip penting itu dicari sehingga kamu kehabisan seluruh persediaan makanan dan kehilangan beberapa peralatan dan tertembak saat berada di perbatasan Papua. Kau tertembak di rusuk dan dengan obatan-obatan seadanya di tenda darurat ini kau sekarat, dipastikan beberapa jam lagi menuju mati. Tentu kematian tidak membuat kau takut karena selama 10 bulan petualangan ini kau selalu bercerita kau begitu mendamba kebesaran Ilahi, memuja dan memuji di setiap tempat yang kau singgahi.

Oh, Sakti, andai aku tidak menikah dengannya nanti, sudah kubiarkan diriku jatuh lunglai dalam kegilaan yang nikmat di suatu sesi. Saat kita berlindung di balik kelambu di hutan Papua, menghindari dari serangan Malaria.

Tapi sebelum kematianmu, kau perlu tahu mengenai satu hal yang membuatmu sekarat begini. Manuskrip begitu jelas keberadaannya. Ia berada di sebuah laci rumah di tempat kita berasal: Jakarta. Tersimpan dan tergulung rapi di rumah yang biasa kau kunjungi saat kau membicarakan rencana-rencana petualangan nanti. Atau kuperjelas lagi: manuskrip itu tidak pernah ada. Ia hanya gulungan kertas kosong yang kubuat dengan sengaja. Aku tidak memberitahumu agar aku bisa memiliki 10 bulan denganmu, sebelum aku diperistri lalu dikurung untuk tidak melihatmu lagi. Sengaja kususun rencana agar tentara perbatasan untuk menembakmu, agar setidaknya aku tenang bahwa tidak ada orang yang bisa aku tangisi di hari nanti.

Oh, Sakti, setidaknya sudah kuberi jalan menuju cita-cita agar kau bertemu dengan pemilik Semesta ini.


[Sebagai bentuk latihan menulis di Reading Lights Writer's Circle -- http://rlwriterscircle.blogspot.com/2011/01/demi-keselamatanmu-bacalah-ini.html]

Comments

pandi said…
mau dong jadi saktinya.. tapi nggak mau ditikamnya.. haha ^^

salam kenal
Muheinz is me said…
wow, bagus-bagus.
Nia Janiar said…
@Pandi: Haha, kalau mau jadi Sakti, harus satu paket.. Hehe. Salam kenal juga!

@Zein: Nuhun!
Sundea said…
Nia, tulisannya keren. Ceweknya kayaknya sadis tapi berkarakter.

Dia tetep punya "power"-nya meskipun di dalem "kurunga" nantinya.

Wow.
Nia Janiar said…
Hehe, Dea, makasih banget.

Popular Posts